Traveliner

Si Cantik Jembatan Seunapet (1)

Berbincang tentang perjalanan, tentu banyak sekali kisah yang bisa dibagi. Baik itu suka ataupun duka, ditambah lgi berbagai macam pengalaman ‘asing’ yang membekas. Terutama jika berkaitan dengan perjalanan malam dan segala bentuk kehororannya. Tidak terkecuali saya. Di balik berbagai kisah yang tertuang dalam traveliner, ada saja cerita lain yang mengikuti.

Semua bermula dari sebuah nama. Seunapet, sebutan untuk tempat di jalan pegunungan Seulawah yang menghubungkan dua kabupaten, Aceh Besar dan Pidie. Nama itu sudah beken sejak saya kecil, meskipun saya tidak begitu tertarik dengan ceritanya. Sampai saya mengalaminya sendiri.

Tahun 2005, ketika saya ke Banda Aceh untuk melanjutkan kuliah di Banda Aceh diantar oleh Mamak. Mobil L300 yang kami tumpangi berhenti lama di jembatan kembar tapi sama itu. Ada kecelakaan maut yang menewaskan beberapa orang. Jenazahnya sudah dibawa ambulan, tapi petugas berseragam polisi dengan rompi hijau stabilo masih berjaga di situ. Menertipkan lalu lintas dan… menemani seorang gadis muda bermain darah.

Bermain darah? Ya, saya melihatnya begitu. Meskipun korban sudah dipindahkan, darah masih berceceran di aspal. Saya tidak bisa melihat darah. Anyirnya langsung menggoyangkan alam bawah sadar. Demi menghindari hal-hal yang tidak saya inginkan, saya memejamkan mata.

Sepintas saya mendengar cekikan dari luar. Mata saya kembali membuka. Ada seorang gadis muda dengan pakaian merah jambu sedang bermain darah. Tangannya menyentuh darah di aspal sampai memenuhi telapak tangannya. Sesekali dia menjilat. Kemudian tertawa. Tatapannya kosong. Anehnya, tidak ada yang mempedulikan sikap gadis muda ini sama sekali. Termasuk si polisi.

Saya merasa aneh. Kenapa orang-orang jadi cuek dengan gadis itu? Ini kan berbahaya.

Mobil yang saya tumpangi berjalan pelan melewati jembatan. Melewati gadis dengan darah yang dianggapnya seperti cat tumpah di ujung jembatan. Keganjilan baru terlihat nyata. Bagian bawah gadis itu tidak tampak dan tidak menjejak ke aspal. Hari itu pun menjelang maghrib.

Jantung saya berdegup kencang. Berulang kali saya membaca ayat-ayat apa saja yang ada di kepala. Mulai dari ayat kursi sampai Alfatihah. Apa saja. Selama itu menenangkan saya.

Kami tiba di Banda Aceh pada malam hari, usai Isya. Tuan rumah yang kami datangi menyambut ramah. Mereka tampak bahagia dengan kedatangan kami. Berbagai cerita mengalir sebagai pelepas rindu. Mulai dari kondisi Takengon yang semakin ramai sampai kejadian di Seunapet.

“Jembatan itu memang sering makan korban. Hantunya pun suka sekali mengganggu. Tiap tahun ada saja korban kecelakaan di sana,” kata Cek Li, lelaki berusia 50 tahunan yang merupakan tetangga kami di Takengon. Anaknya semua berkuliah di Banda Aceh. Dua di antaranya sebaya dengan saya.

“Banyak lo, Wak, yang pernah lihat hantunya. Pakai baju pink,” tambah Eka menimpali. Dia teman sebayaku.

Mereka asyik bercerita, sedangkan saya sedang mengingat sesuatu. Baju pink, itu persis yang dipakai oleh gadis muda yang bermain darah. Saya tidak bercerita kepada mereka bahwa saya melihatnya juga jelang maghrib saat macet di Seunapet.

Setelah hari itu, cerita tentang Seunapet berlalu begitu saja. Sesekali cerita itu muncul ke permukaan. Musiman.

Beberapa kali saya pulang ke kampung orang tua di Sigli seorang diri. Berbagai cerita dari sopir L300 mengisi perjalanan kami. Mulai dari penumpang yang genit menggoda sopir sampai pengakuan para sopir yang memiliki simpanan. Kebanyakan mereka adalah mahasiswi yang kuliah di Banda Aceh dan menjadi langganan tetap pulang pergi.

Satu perjalanan usai lebaran, saya menumpang L300 rute Sigli ke Banda Aceh. Isinya kebanyakan mahasiswa. Satu deret yang harusnya diisi oleh tiga penumpang dipaksa untuk lima orang dengan alasan lebaran. Ongkosnya juga naik dua kali lipat. Waktu itu ongkos dari Sigli ke Banda Aceh hanya Rp 15 ribu dan naik menjadi Rp 35 ribu. Demi masuk kuliah on time, para penumpang membayar saja meski mengomel.

Ketika mobil L300 memasuki Seulawah, aura yang kami rasakan agak aneh. Gadis di samping saya berwajah pucat. Dia menutupi hidungnya dengan kerudung. Saya mulai tidak enak, berpikir kalau bau badan saya sangat mengganggu. Gadis di depan muntah-muntah. Saya mulai tak tenang karena tidak merasakan apa-apa.

“Bau kemenyan,” seseorang di belakang berceletuk. Bulu kuduk saya mulai merinding.

Jalan menurun menuju ke jembatan Seunapet mulai mengganggu. Mobil yang kami tumpangi terbatuk-batuk seperti rusak mendadak. Saya melirik sopir dari spion depan. Wajahnya pucat. Dalam hati saya berdoa agar tidak mati muda dengan sebab kecelakaan. Saya masih ingin kuliah, sarjana, bekerja, dan menikmati hidup saya sebagai single happy sebelum menikah.

Tepat di jembatan, mobil berhenti beberapa puluh detik. Sopir mulai menjalankan mobilnya lagi dengan mulus. Aura di dalam mopen L300 ini tidak menyenangkan. Aroma minyak nyong nyong dan kemenyan menguar. Sesekali ada bau busuk. Seperti ada yang membuang angin. Kerudung yang membantu menutupi hidung juga tidak mempan. Aromanya masih menusuk hidung.

Mobil berhenti di dekat perumahan penduduk. Supir tidak mematikan mesin, tapi membiarkan saja mobil berhenti. Tidak ada yang turun di sana. Akan tetapi aroma tak sedap dan aneh itu menghilang tiba-tiba. Perjalanan ke Banda Aceh berlanjut.

Tidak ada yang membahas keanehan ini di perjalanan sampai tiba giliran supir antar penumpang. Saya dan gadis yang duduk di samping saya bertujuan ke Darussalam. Tiba di Beurawe dia bertanya, “mau pulang kemana?”

“Ke Darussalam,” kata saya. Tidak lupa senyum dan suara yang ramah.

“Aku juga. Untung ada kawan ke Darussalam. Kalau nggak kan ngeri,” komentarnya.

“Kenapa?” saya penasaran karena tampaknya dia ketakutan.

“Tadi di jembatan Seunapet ada yang ikutin. Dia duduk di belakang. Baunya… Ya Alah, mau muntah aku.”

Saya mengingat-ingat siapa yang mengikuti. Tidak ada yang naik. Kemudian saya baru ngeh yang dimaksud gadis itu bukanlah hal yang normal. Mengingat ada aroma kemenyan dan parfum aneh.

“Abang sopirnya nggak bilang apa-apa,” kata saya.

“Alah, kalau sopir udah biasa kek gitu. Makanya dia diam saja.”

Kami diam. Tidak melanjutkan pembahasan sensitif ini. Apalagi kos saya di dekat kuburan. Meskipun yang dikubur di sana bergelar profesor kan tidak menutup kemungkinan mereka tidak menampakkan diri.

Justru sopir antar ini yang usil memancaing cerita, “kalau sopir sudah biasa, dek. Hantu apa yang tidak pernah dilihat? Kalau Cuma hantu Seunapet itu udah biasa kali itu, dek.”

“Hantu pakai baju pink masih muda ya, Bang?” tanya saya memastikan.

“Bukan itu saja. Banyak lagi jenisnya. Itu saja biasa, dek. Kan di situ banyak sekali orang meninggal tidak wajar.”

Saya berusaha tidak mendengar dengan pura-pura tidur. Untungnya kami masih tinggal di daerah yang sama walau beda lorong. Saat sopir mengantar saya ke kos, dia malah bertanya, “kalau model adek ini cepat kali diganggu. Tinggal saja dekat kuburan.”

Fix!

Malamnya saya tidak tidur karena terbayang kejadian di perjalanan.

(Bersambung ke Part 2)

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *