Bookish

Napak Tilas Bacaan Oliverial

Dari ulasan dan postingan saya di blog ataupun instagram, tentu banyak yang berpikir jika saya adalah penikmat novel romance kelas kakap. Haiya, bisa jadi, sih. Secara sejak saya mengenal buku terbitan Gramedia itu saya berkenalan dengan teenlit yang notabene memang kebanyakan cinta ala anak sekolahan.

Pertama kalinya saya baca romance ringan kayak kerupuk alias teenlit itu saat sekolah di tingkat Tsanawiyah (setingkat SMP). Di sini, saya membaca teenlit dengan modal rental pada seorang kawan sekelas. Jadi, dia ini anak pintar banget. Langganan juara umum dan orang tuanya memiliki toko kaset yang sangat jaya pada masanya. Selain otak yang encer, mereka ini juga gendut dompetnya. Apa saja bisa diuangkan. Termasuk buku bacaan.

Mereka membeli komik, majalah, dan beberapa buku. Kemudian setelah dibaca, buku-buku ini langsung dinomori. Direntalkan dengan tarif 10% dari harga bukunya. Lumayan berasa kalau saya pikir sekarang. Namun fakta masa itu berbicara lain. Untuk tingkat kehidupan literasi di Takengon itu masih susah sekali mendapat bacaan bagus. Saya dan beberapa orang yang haus bacaan tetap menyewa buku-buku di rental teman saya ini. Dia juga dengan senang hati membawa ke sekolah untuk dipinjamkan.

Anehnya, dia selalu lolos dari razia. Entah bagaimana cara yang dia pakai, pokoknya nasib baik selalu berbalik pada si teman ini. Banyak sekali buku-buku yang saya pinjam darinya, khususnya buku-buku karangan Luna Torashyngu. Ini baru teenlit.

Sebenarnya saya adalah penikmat kisah fantasi akut. Bermula dari Harry Potter dan beberapa buku sejenis versi terjemahan. Dari sini dunia saya juga mulai dikenalkan dengan berbagai jenis genre. Kebanyakan buku yang saya baca memang bergenre romance. Mungkin ketika saya memutuskan menyukai buku yang mana, saya sedang puber akut. Jadi saya belum memutuskan membaca buku apa sebagai identitas saya.

Bukan itu saja. Dalam pencarian dan kehausan bacaan, saya membaca buku apa saja. Termasuk novel Cantik Itu Luka (Eka Kurniawan) yang sekarang ngehits sekali. Waktu saya membaca sekitar 10 tahun lalu, penikmatnya biasa saja. Saya pun membacanya di perpustakaan daerah. Karena apa? Karena di sanalah tempat membaca buku paling lengkap di Aceh untuk sementara.

Saya pernah ditegur oleh seorang senior karena membaca novel adaptasi dari film Garin Nugroho berjudul Aku Ingin Menciummu Sekali Saja. Teguran itu sangat membekas hingga sekarang. Teguran bukan saja bersifat menjatuhkan dan cenderung melecehkan, tapi saya melihat lebih kepada ketidakpahamannya tentang interest saya. Bukan karena selera bacaan saya yang begituan. Bukan itu.

Saat itu saya mulai kuliah semester awal di jurusan Komunikasi Penyiaran Islam. Saya mulai tertarik pada dunia Perfilman dan segala hal berkaitan dengan Media Studies. Saat itu pula saya mulai membaca buku adaptasi. Baik adaptasi dari film ke novel atau sebaliknya. All about adaptation pokoknya.

Saya memang belum menonton versi filmnya. Selain tidak ada bioskop, kekhawatiran dipikir doyan film porno juga mengkhawatirkan saya. Nah, di sinilah semuanya bermula. Ketakutan itu hilang ketika saya menemukan buku versi adaptasinya. Padahal bukunya biasa saja. Saya justru penasaran apa yang menarik dengan kisah cinta remaja Papua usia 15 tahun yang jatuh cinta pada Lulu Tobing. Adegan yang paling saya ingat dari traillernya adalah ketika Lulu Tobing membaca buku dengan posisi kaki vertikal. Dia pakai hot pants.

Dari buku yang saya baca, ada temuan dan indikasi tentang kehidupan Papua di masa itu, sekitar tahun 2002. Saya menyimpulkan Arnold dan Kasih memiliki ikatan emosional nasionalisme. Meskipun judulnya agak cabul, buku dan film ini berkisah tentang sosial budaya dan religi masyarakat Papua masa itu. Dipandang dari sisi modern, lho. Bukan dari sisi konservatif.

Saya mulai merambah buku terjemahan dimulai dari kecil. Saat saya pertama kali bisa membaca. Itu pun karena di rumah saya banyak buku bacaan terjemahan. Ayah saya salah satu maniak buku. Kakek saya apalagi. Jika dibandingkan dengan saya, tidak ada apa-apanya. Jadi, jangan heran kalau saya katakan saya penikmat semua genre.

Sejak masuk ke dunia buku, baik sebagai pembaca dan penulis. Saya merasakan perbedaan nyata dari keduanya. Saya agak kaget ketika kecenderungan saya justru menulis kisah romance. Akibat kebanyakan membaca kisah cinta mungkin. Alur dan genre apapun yang saya mulai, tetap saja nyerempet ke romance.

Nah, kalian bisa menyimpulkan sendiri. Genre apa yang tepat untuk saya dari semua review, kan?!

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *