Bibliolive

Diary Arwah; Kamu Tidak Sendirian!

Dear Olivers,

Siapa di sini yang suka baca cerita seram? Aku suka. Tapi sudah cukup lama meninggalkan buku-buku seram yang meremangkan tengkuk ketika dibaca. Soalnya imajinasiku terlalu tinggi untuk baca yang begituan.

Bulan ini aku dapat kesempatan lagi untuk baca horor. Judulnya saja seram. Saat baca blurbnya saja, kaki mulai menyatu dan nggak berani ke kamar mandi.

Mau ikutan seram bareng saya? Atau ada yang ikut PO bulan lalu dan sudah punya bukunya? Bagi yang belum, ini bocorannya.

[*]

Aku tak tahu tempat apa ini dan sejak kapan berada di sini. Tapi yang kutahu, aku sedang berlari sekencang-kencangnya melihat Riki ada di ujung lorong yang gelap, badanku basah bersimbah keringat dan napasku terengah-engah. Semakin kukejar, rasanya Riki semakin menjauh.

“Bali..kin… Bali..kin…,” rintih suara tanpa wujud yang menggema di lorong itu.

Aku berhenti berlari dan memandang ke sekelilingku, semuanya gelap. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Seketika rasa takut menyergapku. Terlebih lagi aku tidak mendapati Riki di ujung lorong ini. Nyaliku langsung ciut.

Kemudian aku mendengar derap langkah seseorang, bukan, itu bukan derap kaki dan ia tidak sendiri. Para makhluk berbalut kain putih itu tiba-tiba saja sudah berada tepat di depan wajahku. Bau mereka yang busuk menusuk hidungku.

“Kembalikan milikku!!!” Seru mereka dengan penuh kemurkaan dan mata yang menyala merah.

Judul Buku: Diary Arwah • Penulis: Margaluwih • Penerbit: Moka Media (Jakarta: Cet 1, 2018) • Tebal: 978-602-51993-0-1

[*]

Ada 13 cerita pendek dalam buku ini yang membuat bulu kuduk Anda yang membaca akan meremang. Semuanya menegangkan. Apalagi pakai embel-embel angka 13, kan?! Entah disengaja atau kebetulan. Pastinya ke-13 cerita ini akan membawa imajinasi pembaca bahwa “kamu tidak sendirian.”

Karena bukan novel, plot yang diambil oleh penulis juga beragam. Ada yang alur maju, ada yang alur mundur.

Cerpen berjudul TEMAN PERTAMA dengan tease, “Ia hanya akan muncul saat langit kelabu dan hujan turun.”

Cerpen ini menggunakan alur maju. Si tokoh utama masih sekolah. Konflik muncul ketika si tokoh bertemu dengan ‘sosok’ di salah satu kelas.

Berbagai imajinasi mengerikan pasti akan mengnantui selama membaca. Bukan itu saja, penulis sangat cerdas memainkan alur dengan menciptakan karakter pendukung sebagai korban prasangka pembaca. Ketika konflik mulai dimunculkan di cerita ini, penulis mulai menunjukkan gejala menuduh. Pembaca pun terkecoh. Penyelesaian konflik dengan mencolek masa lalu si tokoh utama perempuan justru membuat saya mengangguk-angguk dan bergumam, “Wah, kirain.”

Cerita lain berjudul RAJAH menggunakan alur mundur. Di sini, si tokoh utama menceritakan kembali kenangannya ketika mengunjungi sebuah pulau. Kemudian mengulang kejadian.

Cerita yang menjadi favorit saya berjudul SUANGGI. Tentu pembaca menebak-nebak, siapa suanggi ini kan?

Bagi teman-teman yang pernah mendengar atau tahu tentang suanggi, feel free to comment.

Dari semua cerpen yang ditulis oleh @margaluwih dalam #diaryarwahmenyampaikan satu ide utama. Berhati-hatilah dalam bersikap. Meskipun tidak mengganggu dunia nyata, kita tidak pernah sadar ada dunia lain yang terganggu.

Suanggi, berkisah tentang makhluk jadi-jadian dari Indonesia Timur. Dia tidak senang dengan manusia mana pun yang lebih sukses. Dan siapa saja yang memiliki darah Indonesia Timur akan berakhir dengan kematian. Tapi dengan membicarakan sesuatu yang buruk karena rasa penasaran justru membuka pintu untuk keburukan itu sendiri.

Pengalaman yang sama pernah saya alami dan saksikan sendiri ketika KKN di perbatasan. Masyarakatnya sejenis apa yang diceritakan oleh penulis dalam Suanggi. Kami pun karena rasa ingin tahu yang tinggi tidak bisa menahan untuk bertanya dan ‘pamer’ status mahasiswa dengan niat memotivasi remaja di sana untuk kuliah. Kenyataannya, malah banyak yang menjadi korban ilmu hitam karena iri hati.

Kumpulan cerpen ini juga ditulis di saat yang tepat. Ketika masyarakat zaman now butuh dan haus cerita horor sebagai hiburan. Jadi, sebagai hiburan, Diary Arwah juga menjadi refleksi nilai-nilai moral dalam bermasyarakat dua dunia.

Ada yang penasaran dengan cerita ini, Olivers? Jangan ngaku pecinta horor kalau belum baca Diary Arwah.

Berbicara soal unsur eksentrik novel, banyak yang mengatakan jika #novelhorortidak memiliki nilai apapun. Sebenarnya, setiap kisah memiliki nilainya sendiri. Ketika penulis memutuskan untuk merangkai kata dalam menulis ceritanya, pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh #penulis ini.

#DiaryArwah justru memuat empat dari lima nilai yang terkandung dalam pengaruh penciptaan karya sastra. Yaitu; nilai sosial masyarakat, nilai budaya, nilai ekonomi, dan nilai filsafat.

Tali mengandung nilai sosial masyarakat yang paling kuat. Meskipun nilai ini bisa ditemukan dalam setiap cerpen dalam buku ini. Dalam bermasyarakat, terkadang kita perlu mengesampingkan ego dan kepo berlebihan. Jangan suka bermain-main dengan hal-hal tententu. Apalagi hal mistis. Tidak ada manfaatnya, selain juga sangat mengganggu dan meresahkan orang lain.

Suanggi menyimpan nilai budaya. Begitupun dengan cerpen berjudul Kiriman. Ada banyak hal yang kita tidak pahami terjadi dalam budaya tertentu sampai kita berada di tempat budaya ini berkembang.

Kelahiran menyimpan nilai ekonomi. Jika yang dimaksud nilai ekonomi soal jual beli. Di sini saya lebih melihat tentang keihkhlasan dalam menolong seseorang tanpa berharap pamrih. Mardi bisa saja mengambil barang berlapis emas di rumah pohon sawo kecik itu. Dia bisa jual untuk hidup lebih baik. Tapi dia tidak lakukan. Malah membawa pulang kencur. Kencur ini pula yang mengubah finansial keluarganya.

Rajah mengandung nilai filsafat dari dendam dan kebencian. Seseorang yang memiliki dendam akan lebih mudah digiring ke hal-hal yang dikuasai oleh iblis.

Sepintas ceritanya memang terlihat sederhana. Kisah yang kerap terjadi pada orang-orang pilihan. Karena tidak semua orang mengalami seperti apa yang terjadi. Tapi, jika Anda fans berat cerita horor, kisah serupa tapi tak sama pasti akan terdengar juga sebelumnya.

Baiklah, ada beberapa rekomendasi yang ingin sampaikan kepada para pembaca semuanya. Khususnya untuk pecinta horor tanah air. Bagi yang tidak berminat membaca horor, baca dulu alasan mengapa kumcer ini collectable.

? Ini kumpulan cerpen. Bagi yang tidak suka baca cerita panjang atau merinding terus berasa didatangi setiap baca cerita horor, novel ini recommended. Karena ceritanya pendek, satu cerita bisa diselaikan sekali duduk.

? Kalau ada yang mengatakan novel horor tidak cocok jadi hiburan, pantasnya prasangka ini ditepiskan dulu. Karena tidak semua isi dari buku ini cuma “hih..hih…hih…hih…” Tiap cerita memuat nilai moral tinggi.

? Sedang mencari inspirasi menulis cerita thriller sarat sosial budaya? Buruan ke tobuk ambil yang ini. Jangan lupa bayar, ya.

? Menggunakan sudut pandang pertama untuk semua cerita. Jadinya, ketika membaca cerpen dalam buku ini berasa seperti menjadi pelaku. Alias sedang mengalami kejadian yang sama.

? Peringatan untuk pembaca penakut. Dilarang membaca ketika hujan rintik-rintik, mati lampu, dan sedang sendirian.

Nah, bagaimana? Mau ikutan seram bareng saya, Olivers.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *