Bookish

Oke! Saya Reviewer

“Tolong tulis resensi buku terbitan 2018, ya. Buku yang berkaitan dengan Aceh saja.” Kata teman saya. Terkesan memaksa.
.

Saya langsung mendelik sebal. Sambil bercanda saya menanggapi, “Rp 1500 perkata, lho.”
.
Selama ini saya menulis secara komersil selalu dibayar perkata. Ada pula yang tidak. Tapi bayarannya bisa buat beli tiga eks buku Harry Potter harga kekinian. Bisa bayangkan, bukan?! Kalau saya boleh bicara sedikit sombong, lho.
.
Bertemu dengan orang-orang yang suka memaksa kehendaknya, saya jadi sebal. Emosi tak diundang. Perkaranya dia meminta saya menulis resensi buku tentang Aceh. Tapi bukunya tidak tersedia dan bukan novel. Kebanyakan buku soal Aceh kan memang bukan novel.
.
Awalnya saya menulis resensi karena tugas sekolah. Guru saya waktu kelas tiga Aliyah dulu seorang book lover. Beliau sangat menyukai segala sesuatu yang berkaitan dengan novel dan sastra Indonesia. Penulis favoritnya Mira W, Marga T, Freddie S, dan La Rose. Novel-novel mereka sudah diangkat sebagai sinetron. Salah satunya Tersanjung yang tayang ratusan atau bahkan ribuan episode bila digabungkan antara Tersanjung 1 sampai Tersanjung ntah ke berapa.
.
Selanjutnya gaya menulis resensi saya pelajari ketika sekolah menulis di Seuramo Teumuleh pada akhir 2006. Sudah lama sekali. Sejak itu saya terus berlatih dan menulis resensi novel yang saya baca. Semuanya saya share di multiply. Sayangnya multiply sudah tinggal kenangan. Jika masih ada dengan senang hati saya akan pamer koleksi berapa ratus novel yang sudah saya baca.
.
Kenapa novel? Ada, lho, yang bertanya seperti ini.
.
Novel itu ringan. Saya belajar kehidupan dari kisah yang ditulis. Berhubung saya juga sedikit pendiam dan pemalu. Novel adalah sahabat paling baik yang mau berbagi dengan saya. Terutama ketika sekolah saya juga tidak gaul. Takut salah gaul. Tidak aneh jika para penulis-penulis justru menjadi sahahat saya. Kami berkomunikasi dengan bahasa verbal melalui media novel. Itulah dunia persahabatan saya. Sederhana dan absurd.
.
Kebiasaan membaca novel ini kemudian menjadi akut hingga sekarang. Sesuai dengan usia, genre yang saya sukai perlahan berubah. Saya masih suka membaca novel remaja. Saya juga masih malas membaca novel Indonesia yang terlalu serius. Genre saya itu Young Adult atau Metro Pop. Pengarang idola saya saat ini Ilana Tan dan masih JK. Rowling. Saya justru tidak suka dengan bacaan yang banyak haha hihi di dalam teksnya. Bukan bacaan lucu, lho. Kalau lucu saya sangat suka.
.
Untuk mengikat ingatan bahwa saya sudah membaca novel tersebut, biasanya saya akan menulis resensinya. Sejauh ini saya bagikan di blog ini juga. Beberapa yang lain saya kirimkan ke media komersil. Dimuat. Beberapa media komersil terkadang ‘lupa’ mengkomersilkan tulisan itu. Tapi tidak apa. Tidak semua hal harus diuangkan.
.
Beberapa waktu kemudian, beberapa media yang di dalamnya termasuk teman-teman saya mengundang menulis. Mereka meminta saya menulis resensi. Tidak masalah. Dengan begitu saya bisa teriak dengan mata melotot, “Oke! I am reviewer! Masih bilang saya pengangguran?!”

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *