Story

Aku dan Cerita Dari Kamar ke Kamar

Pernahkah kalian diusir bapak kos di hari yudisium? Saat kebaya belum berganti, make up masih on di wajah, bulu mata anti badai juga belum dicabut?

Aku pernah. Kejadiannya terjadi begitu saja, tanpa aku mengerti mengapa dan tidak lagi aku tanyakan alasannya. Bapak kosku yang pendiam dan tidak mampu berkomunikasi dengan baik itu tiba-tiba menghadang langkahku yang susah payah mengeluarkan kaki lecet dari heels murahan hasil jelajah Pasaraya. Kakiku baru keluar sebelah kiri saat suaranya seperti ketakutan memanggilku.

“Fa,” katanya. Dia tidak melihatku, justru memandang kakiku yang mulai berdarah-darah. “Kamu tidak perlu memperpanjang sewa kamar lagi, ya. Kamu sudah selesai kuliah.”

Jantungku nyaris copot melewati kebaya ngepas yang aku pakai saat mendengar kalimat tersebut. Aku tidak membantah, tapi aku mengangguk tanda setuju. Saat masuk ke rumah, tulangku rasanya mau copot. Sialnya, teman-teman satu kos ternyata sedang berkumpul di dapur sambil ngerujak.

“Kak Fa, kamu diusir?” Indah yang menyadari apa yang terjadi bertanya penuh kekagetan. Padahal dia tidak perlu bertanya karena sudah tahu jawabannya apa. Aku mengangguk saja, naik ke lantai dua, ke kamarku. Tanpa membuka kebaya, aku merebahkan diri di atas kasur. Masih bisa kudengar desas desus temanku berbicara tentang nasibku dan cara bapak kos mengusirku dengan tidak elegan.

Ya, kosku memang dipawangi oleh bapak kos. Bukan ibu kos. Jangan pikir bapak kos lebih tolerir. Bapak kos ini jelas lebih kejam dari jenis ibu kos manapun yang ada di muka bumi. Bukan saja lebih kejam dari ibu tiri, tapi juga lebih sadis dari vampir. Bedanya vampir menghisap darah, bapak kos menghisap isi dompet kami tanpa ampun dengan cara menaikkan iuran kos tiap tahun.

Esoknya aku mulai sibuk mencari kos baru. Tidak mudah mencari kamar kos untuk status yang bukan lagi mahasiswa, walaupun aku belum wisuda. Pasalnya aku tidak berniat pulang kampung, karena sudah mendapatkan pekerjaan sebelum yudisium. Aku akan menetap di kota ini untuk waktu yang belum ditentukan. Sialnya, aku diusir dengan alasan sudah selesai kuliah. Walaupun sisaku di kos ini masih ada sebulan lagi.

Waktu sebulan untuk pencarian kos bukanlah hal mudah. Waktu berjalan rasanya sangat cepat. Sementara kamar kos baru belum aku dapatkan. Ada kos elit di dekat kos lama. Lokasi strategis dan lumayan bebas. Akan tetapi penghuninya rata-rata anak-anak berduit atau simpanan pejabat. Aku tidak mau ambil resiko mengorbankan perasaan dan uang untuk ngekos di sana. Aku tetap mencari kos normal. Tak perlu bagus, asal bersih dan nyaman sudah cukup bagiku.

Teman-teman menyarankan aku untuk menyewa rumah di komplek, rumah KPR yang disewakan pemiliknya. Harganya lumayan, kurang terjangkau bagiku. Lagipula akses transportasi susah. Jika tidak memiliki kendaraan pribadi akan sangat sulit. Aku menolak. Sampai akhirnya saat menikmati mie instan, Mak Beth, si pemilik warung rumahan itu memberi informasi berharga padaku.

“Rumah kos di sebelah ini disewakan, Fa. Coba lihat dulu, tapi jangan katakan kalau kamu sudah selesai kuliah. Bilang saja masih kuliah, ya. kalau sudah selesai, biasanya tidak diberikan izin untuk ngekos di situ,” kata Mak Beth memberi saran.

Aku mengikuti saran Mak Beth, ditambah lagi teman kampusku yang pernah tinggal di kos itu juga menyampaikan hal yang sama dengan Mak Beth. Jangan katakan sudah selesai kuliah. Katakan belum lulus.

Informasi berguna ini aku sampaikan pada Kak Riyah, adik pemilik kos yang tinggal di lantai bawah. Aku diterima di kos yang hanya berjarak beberapa meter dari kos lama. Pindahan barang pun dibantu oleh seluruh anak kos lama. Mereka aku bebaskan menginap atau berkunjung ke kos baruku tanpa batas jam kedatangan.

Semua aman-aman saja. Aku menyiapkan segalanya di kos baru. Aktivitasku sebagai mahasiswa juga masih terlihat karena banyak teman-teman yang berdiskusi skripsi padaku. Aku jarang di rumah, karena pekerjaan lapangan menuntutku keluar daerah setiap saat. Seminggu di rumah memang aku habiskan untuk berberes. Mencuci pakaian sampai menyetrika. Terkadang aku menghabiskan waktu untuk tidur seharian.

Beberapa bulan di kos baru, kos sepi karena anak-anak kos mudik lebaran. Termasuk ibu kos, tapi bapak kos tidak. Aku tiba ke kos lebih awal dari teman-teman lainnya. Aku membersihkan ini dan itu sepeninggal beberapa hari ke kampung. Saat itulah aku merasa ada yang janggal di kos kami.

Dapur anak kos dengan dapur ibu kos terletak di lantai satu dan hanya dibatasi dengan triplek. Aku merasa ada yang mengamatiku dari rumah sebelah. Gelap memang, tapi aku bisa merasakan ada orang tak diundang di sana. Awalnya aku diam. Namun setiap aku beraktivitas di bawah, aku selalu merasakan ada sepasang mata yang mengamati. Berulang kali begitu.

Hantu? Bukan. Aku yakin bukan hantu meskipun di kos kami memang aku yakini ada mahkluk lain yang menghuni. Aku tahu itu. Kali ini sesuatu yang hanya bisa dilumpuhkan dengan kaki kursi, bukan ayat kursi. Sambil menaiki tangga ke lantai dua, aku menghantam dinding triplek dengan bangku kecil.

“Anjing!” kudengar suara makian tertahan di sebelah. Bahkan ada suara berdesah-desah kesakitan. Saat itu aku yakin sekali, rumah bawah ibu kos tidak kosong. Sepasang mata dalam gelap yang mengintai melalui celah triplek memang milik manusia.

Seperti yang aku butuhkan, saat menikmati mie instan di sebelah kos Mak Beth justru bercerita tentang kejadian anak kos sebelumnya. Mereka diusir dari kos karena salah satu dari mereka main serong dengan bapak kos. Mak beth menyalahkan si anak kos dan juga bapak kos yang pengangguran.

Mak Beth pernah memergoki si anak kos keluar dari celah dinding triplek yang lebar dengan pakaian tidak pantas. Tepat ketika ibu kos sedang bekerja. Ibu kos kami bekerja sebagai PNS di Dinas Pertambangan, sedangkan bapak kos kerja serabutan. Seringnya di rumah saja sambil telepon sana sini. Terkadang dengan perempuan, terkadang dengan calon klien. Aku tahu beliau bertelepon dengan siapa dari cara dia berbicara.

Ibu kos kami yang sebenarnya bukanlah yang tinggal di rumah sebelah dan suaminya tukang ngintip anak kos yang masih ranum-ranum itu. Ibu kos kami berada di luar daerah. Identitasku hampir terbongkar ketika dia melakukan sidak ke lantai dua tanpa salam. Dia memperkenalkan diri sebagai adik Kak Riyah, orang yang selama ini kami anggap ibu kos. Setelah mengecek ini dan itu, baru dia memperkenalkan diri sebagai ibu kos. Untung aku sudah mengganti blazer kerja dengan piyama rumah.

Setelah sidak itu, ada yang aneh dengan rumah kami. Tarif listrik kami mendadak naik. Setiap bulan kami harus membayar lebih seratus ribu untuk listrik. Adik-adik kos yang masih mahasiswa mulai protes. Mereka memutuskan pindah. Sedangkan aku memutuskan bertahan. Tidak mudah untukku mencari kos, selain bertahan apa yang bisa aku lakukan dengan modal pas-pasan.

Sama seperti sebelumnya, aku menghabiskan waktu di luar rumah. Bekerja dan ikut kursus ini itu. Keanehan baru terjadi. Kali ini bukan lagi soal bapak kos yang tukang ngintip. Si bapak sudah diusir oleh ibu kos asli karena ketahuan menyelundupkan perempuan dan terciduk sedang manstap-manstap.

Aku tidak tahu bagaimana nasib Kak Riyah dan suaminya. Sejak itu, Kak Riyah lebih suka mengurung diri di rumah sepulang kerja. Sementara suaminya sudah pulang ke Pulau Jawa dan membawa serta anak laki-laki tunggal mereka. Kak Riyah juga lebih pemurung.

Kos kami kedatangan penghuni baru. Adik kakak yang sedang melanjutkan kuliah. Si adik masih kuliah S1, sedangkan kakaknya S2. Keduanya menghabiskan waktu dengan belajar, kampus, dan pacaran. Nana dan Indah, keduanya adalah adik kosku dari kos sebelumnya.

Sepulang dari perjalanan ke daerah, aku menemukan rumah seperti kapal pecah. Buku berserakan, pakaian bersih ditumpuk begitu saja. Pakaian kotor tercampak di sana sini. Aku kaget dan langsung masuk ke kamar karena kondisi ini. Ingin membersihkan, tapi takut keduanya tersinggung. Kubiarkan begitu saja, tapi aku tidak sanggup melihat ketidakteraturan. Setelah berdebat dengan pikiranku sendiri, kuputuskan untuk mengunci diri di kamar. Mengerjakan apa yang bisa aku lakukan di dalam sana.

Berhari-hari rumah tidak dibersihkan. Sampai suatu pagi, ada yang menyapu di waktu yang sangat pagi. Tumben rajin sekali dua kakak beradik ini, pikirku. Pukul tujuh pagi, aku keluar dari kamar dan melihat masih banyak sampah berserakan. Mulai dari bungkusan makanan ringan sampai bungkus nasi. Bahkan kemasan pembalut juga tercecer di sana.

Suara orang menyapu terus terjadi setiap pagi. Aku mulai menyangsikan pendengaranku. Apa hanya aku yang mendengar atau mereka juga mendengar hal yang sama. Mengingat di rumah hanya kami bertiga. Kutanyakan perihal nyapu pagi-pagi ini pada mereka.

“Nggak tahu, kak. Aku jam segitu lagi enak-enaknya bobok. Kalau Tuan Putri Indah dan Nana lagi bobok cantik, semuanya tidak terdengar lagi, Kak.” Komentar Indah memberi jawaban yang pasti padaku. Hanya aku yang mendengar.

Hal ganjil lain terjadi di malam hari. Setiap malam antara pukul sebelas malam sampai jam dua pagi, suara lain terdengar. Ada orang naik turun tangga. Awalnya kupikir salah satu dari kakak beradik ini diare, sehingga mengharuskan ke kamar mandi tiap saat. Setelah lewat tiga malam masih terdengar, mulailah aku curiga ke hal-hal lain.

Keberanianku patut diberi penghargaan. Meski takut, aku nekat ke tangga yang lampunya selalu putus setelah beberapa hari dipasang. Akhirnya kami tidak lagi memasang lampu di tangga. Dalam kegelapan, aku menunggu siapa yang naik turun tangga. Meskipun sudah kutebak bukan manusia biasa, aku hanya ingin tahu siapa.

Tidak ada yang terlihat. Namun suara itu terus mengganggu. Subuh dengan si tukang bersih-bersih di ruang tamu. Malam dengan orang naik turun tangga. Kehororanku belum selesai sampai di sini. Temannya Nana menginap di rumah sekitar seminggu lebih. Dia selalu mandi saat menjelang maghrib. Saat sedang berasoi-asoi dengan busa mandi mewah. Seseorang menyiram punggungnya.

Dia berteriak tanpa handuk dan berlari ke atas sambil menangis. Malam itu juga dia langsung keluar dari kos kami dijemput pacarnya. Meskipun takut, kami bersyukur dia keluar dari kos. Caranya bersikap di kos kami sudah keterlaluan. Dia lupa akan statusnya sebagai penumpang gelap.

Beberapa waktu setelahnya, Nana jatuh dari tangga. Katanya seperti ada yang menarik kakinya saat naik tangga. Dia jatuh dan terkilir. Berdua dengan Ida kami membawanya ke tukang urut kampung.

Si nenek berusia 107 tahun itu menatapku dengan tajam. Dia bertanya, “apa kamu mendengar orang menyapu setiap pagi di rumah?”

Aku mengangguk. Jantungku mulai berpacu kencang. Si nenek bertanya lagi, “apa kamu mendengar orang naik tangga setiap malam?”

Aku mengangguk lagi. Nenek itu tersenyum. Lantas menjelaskan, “di rumah itu ada seorang ibu dan anak. Anaknya berusia setahun dan selalu minta main di tangga. Si ibu melalaikan anaknya dengan naik turun tangga agar anaknya tidak menangis.”

Wajah kami bertiga memucat. Nana nekat bertanya, “bagaimana mereka bisa meninggal dan berada di sana, Nek?”

“Dia jatuh di tangga saat membawa anaknya ke atas. Ada seseorang yang berhati licik menarik kakinya. Dia dan anaknya meninggal.”

Aku bisa merasakan bulu kudukku berdiri. Si nenek menenangkan dengan berkata padaku, “kamu tidak perlu khawatir. Baca tiga kul sebanyak tujuh kali sambil naik turun tangga. Kemudian ayat kursi tujuh kali juga. Setelah selesai katakan begini, kami hanya menumpang tinggal di sini. Jangan ganggu kami. Kami tidak akan mengganggu kalian.”

Bertiga kami mengangguk serempak. Si nenek menatap Indah dan Nana bergantian, “kalian harus menjaga kebersihan. Kebersihan sebagian dari iman. Jika kalian tidak menjaga kebersihan, akan banyak lagi yang akan datang mengganggu.”

Keduanya mengangguk serempak. Sejak itu pula rumah tidak pernah berantakan. Bersih sekali. keduanya benar-benar menjaga kebersihan rumah. Suara orang menyapu tidak terdengar lagi. Ibu dan anak yang naik turun tangga juga tidak terdengar lagi. Akan tetapi keanehan terjadi suatu malam saat aku akan ke kamar mandi. Dari ujung tangga atas, aku melihat seorang perempuan muda sedang memomong anaknya di ujung tangga bawah.

Aku turun tanpa rasa takut. Sebelum aku menjangkaunya, keduanya sudah menghilang dari penglihatanku. Dia sangat muda dan bisa aku rasakan kecantikannya.

Beberapa bulan kemudian Indah dan Nana memutuskan pindah. Indah sudah bertunangan dan akan tinggal di rumah keluarga.

Di sinilah petakaku terjadi. Ibu kos meneleponku. Dia mengusirku, “kamu sudah membohongi kami selama dua tahun, Fa. Kami tidak menerima orang yang bukan mahasiswa. Kamu berbohong mengatakan masih mahasiswa. Kamu harus keluar dari rumah kami segera!”

Aku mencoba menjelaskan. Aku berstatus mahasiswa pra pasca sarjana dan sederet alasan lainnya. Ibu kos sepertinya tidak mau mendengarkan aku. Aku berkemas dan memilih pulang kampung. Lagipula kontrak kerjaku sudah berakhir dan belum tentu diperpanjang.

Kesedihanku terjawab berkah. Aku lulus beasiswa ke luar negeri. Semua fasilitas ditanggung, termasuk tempat tinggal. Aku langsung angkat kaki tanpa permisi. Sebagai bentuk hormat pada Kak Riyah, hanya padanya aku pamit. Dia dengan basa basi yang cukup panjang mengatakan aku boleh pulang ke rumah kos itu kapan saja untuk beritirahat.

Sorry, masih banyak kamar yang terbuka lebar untuk memberiku tumpangan beberapa malam tanpa menyisakan rasa kesal.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *