Traveliner

Si Cantik Jembatan Seunapet (3)

Kata orang, si cantik tidak saja meninggalkan jaket. Dia juga meninggalkan benda lain dengan warna merah jambu alias pink. Cerita lain yang dituturkan oleh korban lain tentang si cantik berkaitan dengan payung.

Kali ini tetangga saya. Dia kerap bolak balik Sigli-Banda Aceh karena tugasnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di sebuah dinas. Awalnya dia melakukan perjalanan dengan angkutan umum L300. Setahun bekerja di Sigli, dia pun mencicil mobil untuk kemudahan perjalanan.

Bagi orang Aceh, kepercayaan barang baru seperti kendaraan harus di peusijuk (tepung tawar) sangat tinggi. Peusijuk bukan saja untuk tolak bala, buang sial, ataupun hal-hal yang dipercayai tidak masuk akal bagi generasi milenial. Lebih dari itu, peusijuk diyakini sebagai bentuk rasa syukur setelah memperoleh sesuatu.

Teman saya tidak sempat melakukan peusijuk mobil barunya. Bukan saja karena dia generasi milenial, kesibukannya di kantor dan mobilitas yang tinggi membuatnya lupa akan tradisi turun temurun kendaraan barunya. Sebulan wara wiri di jalan mobilnya tanpa peusijuk. Selama itu pula semua aman-aman saja dan membuatnya semakin lupa soal peusijuk.

Si cantik di jembatan Seunapet? Tentu saja dia tahu soal itu. Sekali lagi, dia abai karena kesibukannya.

Sampai suatu hari di Jumat sore, dia pulang ke Banda Aceh seorang diri. Hujan rintik-rintik dan gelap datang lebih awal. Di jalan menuju penurunan ke arah jembatan Seunapet, dari kejauhan dia melihat dua orang di ujung jembatan. Seorang gadis dengan pakaian merah jambu dan seorang lelaki tua. Mereka tampak seperti ayah dan anak yang sedang menunggu angkutan umum lewat.

Si gadis memakai payung, tapi tidak memayungi lelaki tua itu. Rasa kemanusiaan si teman ini menghentikan mobil dan bertanya, “mau kemana?”

“Mau ke bawah,” si gadis yang menjawab.

“Naik saja, biar saya antar.” Si teman menawarkan tanpa rasa curiga.

Keduanya masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan mereka juga tidak berbicara apa-apa. Keduanya diam layaknya orang asing pada umumnya. Si gadis baru bicara ketika sudah dekat dengan perumahan penduduk. Memberi instruksi arah ke rumahnya.

Kedunya turun. Namun si gadis meninggalkan payung merah jambu di mobilnya. Si teman yang cepat melihat payung tersebut mengambil untuk mengembalikan. Dia menuju ke rumah yang dituju dua orang penumpang asing tadi.

Rumah tampak sepi, padahal harusnya dua orang yang menumpang mobilnya masih berada di ruang tamu dan belum bergerak jauh. Akan tetapi si teman harus mengetuk beberapa kali sampai seorang perempuan tua membuka pintu. Dia melihat payung di tangan si teman, tidak merasa aneh.

“Tadi anak ibu dan bapak menumpang mobil saya. Dia meninggalkan payungnya di mobil,” kata si teman sambil menyerahkan payung merah jambu itu.

Si ibu mengambil payung dan menatap si teman dengan wajah sedih. Dia bertanya, “dimana Anda bertemu dengan anak saya?”

“Di ujung jembatan kembar,” kata teman saya tanpa curiga.

Air mata si ibu membentuk aliran sungai. Dalam tangisnya dia justru membuat kedua tungkai kaki si teman tak dapat menopang tubuh.

“Ya, ini memang payung anak saya. Tapi dia sudah lama meninggal.” Jelas si ibu.

Teman saya pulang dengan galau dan ketakutan. Dia tidak menyangka menawarkan tumpangan pada hantu legend di jembatan Seunapet. Si cantik yang kerap dibicarakan para pelintas jembatan itu benar adanya. Logikanya tidak bisa diajak bekerjasama. Dia pun mencoba melupakan pengalaman horor ini.

Banyak orang yang perah mendengar tentang cerita si cantik jembatan Seunapet. Tua muda, perantau atau penduduk setempat. Ada yang pernah bertemu langsung jika ‘beruntung’ banyak yang penasaran tapi belum pernah bertemu. Namun banyak pula yang membantah dan menolak keberadaannya dengan berbagai teori dan logika.

Rombongan dinas salah satu kampus negeri di Aceh salah satunya. Mereka melakukan dinas ke daerah blah deh Seulawah (seberang Seulawah yang mencakup Pidie, Pidie Jaya, Bireun, dll). Sepanjang perjalanan bercerita menghalau kantuk. Mulai urusan pekerjaan yang merekan jabani sampai cerita hantu di Seulawah. Ada yang percaya dengan tidak banyak bicara tetapi menguraikan fakta berupa pengalaman orang. Ada yang tidak percaya dengan berbagai teori.

Sampai ketika melewati jembatan tersebut, mereka semua diam menunggu sesuatu yang ganjil itu. Tidak ada yang terjadi. Salah satu dari penumpang mobil dinas itu berceletuk, “mana hantunya? Tidak ada. Memang kita gampang sekali dibodohi dengan hal-hal yang begitu.”

Tidak lama setelah celetukan itu, tawa nyaring seperti ringkik kuda melintas seperti di atas kepala mereka. melengking dan menyanyat diikuti tangis. Bulu kuduk mereka meremang. Tidak ada ada lagi yang bicara sampai tiba ke tujuan. Perjalanan menantang alam ghaib sering kali membawa manusia pada dua kemungkinan, percaya dan tidak. Namun mereka jelas ada, hanya saja kita yang perlu menjaga lisan untuk tidak menyinggung mereka. (T A M A T).

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *