Traveliner

Si Cantik Jembatan Seunapet (2)

Berbagai cerita Seunapet masih viral dari mulut ke mulut. Di warung kopi, di ruang kuliah, dimana-mana slalu ada cerita si gadis berbaju pink. Cerita lain saya dengar dari teman sekelas saya. Dia tergabung di Unit Kegiatan Khusus (UKK) Sanggar Seni Seulawet. Aktivitasnya mengisi acara dengan menari dari satu acara ke acara lain mulai padat. Dia juga mulai dipercaya untuk menjadi penari di pesta pernikahan senior.

Satu hari mereka menjadi penari penyambut linto baroe (mempelai lelaki) di Bireun. Ada tiga mobil pribadi yang berangkat. Mereka berangkat sore hari selepas maghrib. Perjalanan dari Banda Aceh biasa-biasa saja. Mereka masih bercanda ini dan itu. Berlatih olah vokal sampai bercerita ini dan itu.

Pada pemberhentian makan di Sigli, mobil yang berpenumpang cowok semua bercerita. Mobil mereka dihentikan oleh seorang cewek cantik berbaju pink. Mobil terus melaju tanpa peduli. Supirnya pun tidak peduli. Langsung tancap tanpa bicara apapun. Dia mahasiswa asal Pidie, sering mengendarai mobil pribadi pulang pergi Pidie-Banda Aceh. Baginya kehadiran cewek itu malam-malam seorang diri bukan cerita baru.

Sebagai orang yang berpengalaman, dia membagi informasi dan tips untuk tetap selamat hingga tujuan jika bertemu dengan gadis itu. Mereka yang mendengar tampaknya tidak begitu peduli dengan berbagai cerita seram tentang gadis di jembatan Seunapet itu. Termasuk teman saya yang akrab disapa Icut.

Sepulang dari Bireun, pukul dua malam mereka tiba di Seunapet. Mobil yang dia tumpangi berisi mahasiswa campuran. Ada lelaki dan perempuan. Icut duduk di jok depan. Matanya belum terpejam, karena sampai jam dua pagi dia masih berbalas SMS dengan pacarnya.

Sekonyong-konyong dia mendengar suara cekikikan yang membelah malam. Spontan matanya melihat ke depan. Ada perempuan dengan berpakaian pink melintas cepat seperti terbang ke arah mobil mereka. Seperti menabrak kaca depan mobil, tepat di depan Icut.

Icut terkejut. Persendiannya lemas. Namun menit berikutnya justru teman cewek yang duduk di belakang menjerit histeris. Dia menangis ketakutan dan meronta-ronta seperti orang kesurupan. Mobil terus melaju melewati hutan Seulawah. Mobil mereka baru berhenti di area perkempungan yang tidak sepi.

“Ada cewek baju pink masuk ke dalam mobil dan dia mau mencekik aku,” kata teman Icut. Antara percaya dan tidak percaya, mereka menenangkan teman mereka yang ketakutan itu.

Dua hari kemudian teman Icut sakit. Dia baru sembuh setelah dibawa ke tempat ‘orang pintar’. Katanya dia diganggu oleh si cantik jembatan Seunapet.

Percaya?

Saya masih percaya dan tidak. Menurut saya, mana mungkin hantu bisa nabrak mobil dan mencekik orang di dalamnya. Sampai pada Agustus 2008, kami berkunjung ke Takengon bertakziah. Ayah senior kami di KSR meninggal dunia. Sepulang dari Sabang, kegiatan kami berlanjut ke Takengon.

Kami menumpang truk Hyundai putih milik Palang Merah Indonesia (PMI), kendaraan operasional kami keliling daerah di Aceh. Mulai dari kenduri hidup sampai kenduri mati. Satu truk itu berisi relawan KSR yang tidak takut make up dihapus angin dan hujan. Langit adalah atap kami, angin adalah AC kami. Sebegitu sederhananya bahagia kami para relawan.

Usai takziah dan bermalam di rumah senior, sempat pula berwisata ke Hotel Renggali. Foto sana sini, kemudian pulang. Kebutulan rumah saya di lintas Takengon Bireun. Mereka menyempatkan silaturahmi ke rumah saya. Ayah saya juga membekali sekarung jeruk keprok khas Paya Tumpi untuk disantap di jalan.

Kami menargetkan sampai di Banda Aceh sebelum tengah malam. Akan tetapi, kenyataan berkata lain. Sopir yang juga relawan KSR menyempatkan singgah di Kuta Blang, Bireun. Mengunjungi neneknya yang sudah renta. Akhirnya kami pulang setelah makan malam di rumah nenek salah satu senior ini.

Sepanjang perjalanan para senior yang duduk di belakang terus tertawa. Bercanda berlebihan. Perjalanan malam membelah hutan sepanjang malam dipenuhi dengan tawa lepas. Entah karena efek kenyang atau efek air nira yang sempat mereka minum di hutan Bener Meriah.

Sampai ketika tiba di jalan menurun menuju jembatan Seunapet. Tiba-tiba kepala saya pusing. Bukan karena minum air nira atau kebanyakan makan. Saya duduk dan memandang ke jalan lepas.

Pemandangan yang sama seperti diceritakan oleh Icut terlihat. Seorang gadis cantik melesat dengan tatapan marah ke arah truk yang kami tumpangi. Saya merinding dan terkejut.

“Aaa!!” saya terkejut dan terhempas beberapa puluh senti ke belakang.

Beberapa senior terkejut. Mereka bertanya, “Kenapa, Fa?”

Saya tidak ingat apa yang saya lakukan waktu itu, tapi semua tulang rasanya rontok. Saya menunjuk ke luar truk dan pitam. Meskipun setengah sadar, saya tahu supir truk keluar dan memarahi para senior yang membuat keributan tengah jalan.

“Kalian memancing!” katanya marah. “Harusnya kalian sadar kalau tidak semua orang kuat. Aku tahu dia sedikit-sedikit. Dia bisa melihat yang begituan. Kalau terjadi musibah dengan kita bagaimana? Apa yang kita pertanggungjawabkan pada cabang? Apa yang kita jawab pada keluarga mereka? Harusnya kalian para senior kasih contoh yang baik pada adik-adik ini!”

Supir masuk kembali ke balik kemudi dan membanting pintu mobil. Truk kembali melaju membelah malam dengan kecepatan lebih kejam. Semua penumpang di bak truk diam. Tidak ada lagi bersenda gurau.

Sayup-sayup saya mendengar teman seangkatan di samping saya membaca Yasin. Dia bisa menghapal QS. Yasin. Sepanjang dia membaca, sepanjang itu pula dia menguap terus menerus. Saya juga mendengar beberapa teman lain membaca ayat kursi dengan suara lirih. Mereka juga sama. Menguap dan tertidur.

Saat saya bangun, sebagian dari mereka sudah tertidur. Hanya beberapa senior yang bersuara keras masih terjaga dengan rokok terselip di bibir dan ponsel di tangan. Antara merasa bersalah dan suasana hati mereka sudah kacau.

Bukan kami saja yang mengalami pengalaman horor dalam perjalanan malam. Masih banyak lagi. Bahkan ada yang tidak mengalami langsung, tapi mendapat cerita dari orang lain yang mengalaminya.

Beberapa bulan lalu, ayah mertua saya pula yang bercerita. Katanya ada rekannya yang melakukan perjalanan dari Sigli ke Banda Aceh dengan mobil pick up. Di tengah jalan di dekat Seunapet, seorang gadis muda berpakaian pink menghentikan mobil mereka. Dia minta tumpangan untuk pulang. Tanpa curiga dia memberi tumpangan pada gadis tersebut.

Gadis itu naik di truk belakang pick up. Mereka bahkan mengantarkannya ke rumah yang ditunjuk oleh si gadis. Saat berhenti di sebuah warkop, supir pick up menemukan jaket yang dikenakan oleh gadis itu tertinggal di bak pick up. Bermaksud mengembalikan jaket tersebut, mereka kembali ke rumah si gadis untuk mengantar jaket.

Saat melihat jaket tersebut, ibu si gadis langsung menangis, “ini memang jaket anak saya, tapi anak saya sudah meninggal lama. Jasadnya belum ditemukan.” Tamu yang mengantar jaket ini langsung pucat. Cerita si cantik di jembatan Seunapet baru terlintas di kepalanya. Sebelumnya, pikirannya tidak pernah terlintas.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *