Bibliolive

The Case We Met, Cinta Dokter Anestesi dan Pengacara di Meja Hijau

The Case We Met merupakan novel Flazia pertama yang saya baca. Novel ini sudah masuk ke dalam reading list sejak awal tahun 2020, tepatnya ketika saya melihat daftar buku baru terbitan Gramedia Pustaka Utama di halaman web. Meskipun ilustrasi sampul The Case We Met kurang menarik, tapi novel ini sudah menarik perhatian saya.

Beberapa upaya membaca novel ini saya lakukan, tapi baru berhasil setelah saya berlangganan Gramedia Digital. Berbayar. Novel The Case We Met juga tersedia di sana. Inilah novel pertama yang saya baca setelah akun diaktifkan.

Novel ini berkisah tentang seorang pengacara perempuan bernama Redita Harris. Dia dikenal dengan julukan Red Riding Hijab, karena kegemarannya bertemu klien untuk pertama kali dengan hijab merah agar mudah diingat. Dia pun kemudian disapa dengan sapaan Red ketika masih bekerja di New York.

Sebuah peristiwa di persidangan Mark Ashton mempertemukannya lagi dengan Natanegara Langit, lelaki yang paling ditakuti Dita sejak dia sekolah. Salah satu teman kakaknya yang gemar membuat dia kaget dan ketakutan. Namun, perasaan yang sudah dipendam sejak sebelas tahun lalu berbuah manis dengan segala perjalanan panjangnya.

Redita pingsan karena kekurangan gula darah. Pengacara yang juga selebgram ini juga diharuskan kembali ke Yogyakarta untuk mengurus persidangan Natan yang dilapor oleh keluarga pasien dengan tuduhan melakukan malapraktik. Sebagai perempuan yang tidak mau berhutang budi pada siapapun, Redita membunuh rasa takut demi mendampingi Natan di pengadilan.

Berbeda dengan Natan yang selalu tertarik dengan segala hal tentang Redita, tapi dia masih bisa menjaga jarak dan sikap dengan Redita. Dia memang terkenal bandel dan serigala di saat SMA, tapi yang dilakukannya semata-mata untuk pembelaan. Termasuk menyelamatkan Dita dari gerombolan anak nakal. Kemudian Natan bertemu dengan Bardan yang mengarahkan hobi bertarung Natan ke arah yang positif.

Natan tidak pernah menduga gurunya meninggal di tangannya meski bukan karena kesalahannya. Namun justru itulah yang menyeretnya ke pengadilan. Tuduhan malapraktik dan Dita yang dia sayangi diam-diam ngotot ingin menjadi kuasa hukumnya. Sekeras apapun Natan menolak, sekuat itu pula Dita memaksa. Sampai akhirnya dia menyerah.

Pertemuan di meja hijau, pembelaan yang dilakukan Dita, juga sikap sederhana yang tidak terduga membangkitkan kekuatan dan semangat Natan untuk menjadi orang yang bebas. Meskipun dia harus berhadapan dengan Taraksa Adam, jaksa penuntut umum yang juga terlibat dalam persidangan Natan. Incarannya adalah Dita, perempuan yang pernah akan menjadi istrinya beberapa tahun lalu.

Berbagai masalah yang dibuat secara teka-teki oleh Flazia di awal pembukaan novel seolah dimunculkan kembali ke permukaan di penyelesaian konflik dengan cantik. Di sini, pembaca bisa menilai kualitas eksekusi cerita yang amat apik.

Awalnya saya berpikir cerita ini akan berlatar ibukota, ternyata tidak. Selain New York yang menjadi pembuka cerita ketika Redita menyelesaikan kasus Mark Ashton, penulis mengurai semua cerita di Yogyakarta. Setting tempat menarik untuk profesi yang sangat metropolis.

Konflik cerita diatur sedemikian rupa. Seperti dosis obat yang diberikan pada pasien, konflik yang disuguhkan pun bertahap. Jika pembaca bertahan membaca setelah halaman 60, maka perlahan konflik mulai muncul satu persatu di sini. Terutama bagian-bagian yang lebih erat kaitannya dengan bidang hukum dibandingkan dengan kedokteran. Pembaca yang dibawa pada pengenalan masalah dengan berbagai teka teki diberi penyelesaian yang pantas pada akhir cerita.

Selain itu, tema yang diangkat Flazia tergolong menarik dan menantang, sekaligus membosankan untuk para pembaca yang tidak suka dengan alur cerita rumit. Tema hukum dan kedokteran. Satu tema saja sudah memaksa pembaca berpikir, bagaimana dengan dua tema sekaligus?

Dalam novel The Case We Met penulis memberikan pilihan ibarat mendaki gunung. Nikmati sensasi bosan di awal lereng, kemudian nikmati keindahan hingga ke puncaknya. Bab awal memang terlalu panjang dan relatif membosankan bagi orang-orang yang tidak paham bahasa hukum dan medis. Akan tetapi, bab selanjutnya sangat menarik dan menakjubkan sebagai novel metropop yang identik dengan cerita yang manis.

Meski begitu, novel ini saya nilai memiliki banyak kelebihan. Penulisannya rapi dan hampir tidak ada typo. Selain memaparkan dengan detil berbagai hal yang berkaitan dengan dunia hukum dan kedokteran, penulis juga memberi beberapa tips pertolongan pertama dan lain-lainnya. Hal paling berkesan bagi saya adalah teh dingin dengan metode cold brew.

kekurangan umum yang saya hadapi dan pembaca lain hadapi ketika membaca novel ini adalah di bab awal. Pembaca disajikan terlalu banyak informasi dengan bahasa yang tidak familiar. Bab juga terlalu panjang. Pembaca yang awalnya menikmati bosan sebelum berhadapan dengan bab-bab yang luar biasa menyenangkan untuk dibaca.

Beberapa bab juga ada pengulangan informasi. Memang tidak masalah jika pembaca mencicil bacaan. Namun akan membosankan jika pembacanya membaca dengan sistem maraton alias menamatkan novel ini sekali duduk.

Tentu saya, sebagai pembaca yang sudah lama ingin membaca The Case We Met, novel ini sangat mengesankan bagi saya. Cara Natan mendekati Redita itu sangat luar menggemaskankan. Memperhatikan dan menjaga dengan berjarak. Seperti ikut naik angkota, padahal Natan punya mobil. Kedua teman abangnya Dita (Natan dan Akbar) yang sama-sama mendapatkan orang terdekat Dita. Dalam hal ini si Natan berkeras nggak pernah memanggil perempuan lain dengan panggilan Dita selain untuk Redita Harris. Dia punya mantan seorang penulis novel terkenal bernama Ditaniar, dia memilih memanggil dengan Niar. Dia juga memanggil istri Akbar yang bernama Nadita Yusuf dengan panggilan Nad, bukan Dita.

Cara Flazia menggambarkan Ditaniar saya tangkap sebagai cara Flazia memperkenalkan dirinya sendiri. Meskipun baru The Case We Met novel karya penulis yang saya baca. Kisah Red Riding Hood memang sangat populer, tapi Flazia seperti mengadaptasi cerita ini dengan kemasan yang modern.

Data Buku

Judul Buku: The Case We Met

Penulis: Flazia

Penerbit: Gramedia (Jakarta: 2020)

Tebal: 440 halaman

ISBN: 978-602-06-3650-4 (Digital)

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *