Bibliolive

Kukejar Cinta Ke Negeri China, Saat Hidayah dan Cinta yang Lain Datang Bersamaan

Ada yang sudah nonton film berjudul Kukejar Cinta ke Negeri Cina? Diperankan oleh Adi Dolken dan Eriska Rein. Btw, gimana menurutmu filmnya? Bagus?

Film ini diadaptasi dari novel Ninit Yunita berjudul sama. Bagi yang pernah baca dan nonton, pasti menemukan ada perbedaan, kan?

Di pasar perbukuan Indonesia, banyak sekali novel Islami beredar. Sebagian besarnya malah tidak dikategorikan sebagai novis. Kenapa? Karena dianggap masih terlalu standar dan ngambang.

Bagi saya, novis sendiri punya level. Dari yang hal sederhana sampai hal berat. Baiknya memang begitu, karena kadar iman dan pengetahuan keislaman seseorang juga berbeda-beda. Kukejar Cinta ke Negeri Cina contohnya. Salah satu novis yang amat ringan karena mengisahkan seorang pemuda bernama Imam yang berpacaran dengan Widya. Masalahnya Imam ini tidak kelar kuliah, sementara Widya sudah selesai kuliah dan sudah bekerja.

Sebagai ortu yang memikirkan masa depan anaknya, tentu bapak Widya punya pilihan untuk masa depan anak gadisnya. Bukan Imam yang belum pantas jadi Imam sholat Widya lah. Sholatnya sendiri masih senin kamis. Dalam kegalauan Imam dan kacaunya hati Widya, Imam malah bertemu dengan Jia Li, gadis asal Beijing yang sedang melakukan penelitian di Semarang.

Awalnya Imam hanya menemani Jia Li. Ternyata sikap, keramahan, dan cara Jia Li berdakwah malah membuat Imam jatuh cinta. Karena Jia Li pula Imam banyak berubah menjadi ke arah yang lebih baik. Widya juga menyadari jika dia masih mencintai Imam. Imam saking cintanya pada Jia Li sampai menyusul Widya ke China.

Sayangnya, Jia Li sudah dikhitbah oleh lelaki baik dan sepadan dengannya. Fu Hsien, lelaki itu sama-sama berjuang mempertahankan cinta Jia Li.

Tema ini juga terkandung dalam novis ini. Seseorang akan berubah ke arah yang lebih baik karena seseorang itu mungkin banget, seperti Imam yang berubah karena Jia Li.

Imam yang mengerjakan skripsi malas-malasan akhirnya selesai kuliah. Dia termotivasi karena Jia Li. Imam yang ibadahnya jungkir balik juga lebih taat dalam ibadah. Widya yang selalu berpakaian seksi mulai menurunkan kadar ekspos tubuhnya karena melihat Jia Li yang shalihah. Perubahan-perubahan kecil yang sangat berpengaruh dalam hidup.

Karakter Imam, Jia Li, dan Widya sangat kuat dalam novis ini. Sebagai pembaca kita bisa langsung merasakan seperti apa mereka sebelum dan sesudah kedatangan Jia Li.

Pengenalan karakter dan perubahan karakter tokoh sendiri memiliki nilai dakwah dalam novis ini. Jadi, kalau ada adik-adik mahasiswa yang ingin mengkaji nilai-nilai amar ma’ruf nahi munkar dalam novis untuk skripsi, novel ini boleh banget tuh. Recommended!!

Meskipun sampai sekarang saya tidak percaya jika cinta bisa mengubah karakter seseorang, tapi banyak bukti yang mengarah ke sana. Banyak orang yang berubah karena mencinti seseorang yang lain. Banyak juga perubahan yang permanen. Ada yang berhenti merokok karena wanita yang dicintainya. Ada yang pensiun jadi badboy karena berusaha memantaskan diri untuk goodgirl. Banyak lagi contohnya.

Imam terbuka hati dan mendaay hidayah karena melihat Jia Li yang sangat terjaga. Jia Li menjaga sholatnya. Jia Li juga tekun. Tanpa berniat menggurui Imam, Jia Li membuka pintu hati Imam yang tertutup rapat.

Hal paling sederhana dan dianggap remeh ketika Imam menemani Jia Li makan di resto temannya yang Chinese. Dia tidak mau makan di sana meskipun bukan babi. Jia Li meragukan kehalalannya. Sederhana sekali pesannya bukan?

Novel ini memuat pesan-pesan dakwah yang sangat dasar dan kerap diabaikan dalam kehidupan sehari-hari oleh penganut Islam. Ngena sekali. Jadi, bukan melulu soal cinta.

Tidak semua buku mampu begitu memberikan setting yang memikat pada pembaca. Seolah pembaca berada di tempat tersebut, tapi novis ini bisa. Bersetting di dua tempat berbeda, saya benar-benar bisa merasakan lokasi yang digambarkan secara apik oleh penulis.

Di Semarang, saya menemukan kehidupan lokal yang teratur dan budaya lokal yang menawan. Apalagi ketika menjelaskan bagian China dan Islam di Semarang. Sangat edukatif.

Deskripsi tentang China pun sangat menawan. Beijing, saya bisa merasakan tempatnya sama seperti ketika saya berada di Beijing. Tidak membuat kecewa sama sekali. Saya pernah tinggal di Beijing, tapi belum pernah ke Semarang. Saya seperti dibawa kembali ke China dan diajak berkunjung ke Semarang.

Nilai moral dari novel ini juga ngena sekali. Tidak perlu mengejar cinta sampai ke negeri China. Kalau yang setia menunggu sedang berusaha yang terbaik. Toh kalau jodoh nggak akan kemana.

Ada beberapa alasan buku ini menarik untuk dibaca. Terutama bagi yang penasaran dengan novel Islami, tapi nggak terlalu berat levelnya.

🧕 Menasehati tanpa menggurui. Menurut saya, ini poin paling penting dalam menyampaikan dakwah. Baik bil lisan ataupun bil qalam.

🧕 Realistis. Meskipun menikah antar negara itu bukan tidak mungkin dan banyak terjadi, di novis ini justru menunjukkan ketidakmungkinan. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan sebelum menikah.

🧕 Lelaki yang baik untuk perempuan yang baik. Memang benar Imam berubah dan ingin bersama Jia Li. Akhirnya Widya pun juga mengubah dirinya untuk Imam. Mereka berjodoh karena sekufu.

🧕 Deskriptifnya mempesona. Dalam hal menceritakan untuk mata, novis ini menang banyak.

Namun tetap saja ada kekurang walau tak berarti. Alur menuju ending terlalu cepat. Di bagian ini saya agak kurang terpuaskan. Sedikit kecewa juga. Tiba-tiba sudah begini begitu saja.

Anyway, novel dan filmnya sama-sama bagus. Saya suka membaca bukunya dan juga menonton ulang filmnya berkali-kali.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *