BP Network,  Traveliner

3 Tahun Pengalaman di China, Sedih?!

Setiap orang punya pengalaman melewati hari besar dengan cara sendiri. Punya kesedihan sendiri. Bahkan berulang kali lebaran masih sendiri. Bagaimana rasanya? Biasa ajja!

Saya pun punya beberapa pengalaman lebaran tanpa keluarga. Bahkan jauh sebelum berangkat ke Cina untuk kuliah. Tahun pertama melewati lebaran tanpa keluarga ketika saya sedang internship di Irish Red Cross Society tahun 2008. Kemudian berlanjut ketika Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) tahun 2009 di Singkil. Baru tahun 2013 saya berangkat ke China dan lebaran tanpa keluarga lagi.

Kehidupan di China tentunya jauh dari ekspektasi saya. Terutama berkaitan dengan hari besar seperti lebaran. Namun kesedihan saya berlebaran di negeri orang sebanding dengan pengalaman yang saya dapatkan. Pokoknya tidak sampai nangis bombay menyesali dosa yang menimbun. Di tahun pertama saya langsung sadar jika lebaran cuma soal urusan perut dan salaman kemudian buat salah lagi, sama saja bohong.

Lebaran pertama saya lewati di kelas Bahasa Mandarin, saya belajar bahasa. Ternyata dosennya sudah tahu hari besar umat Islam seluruh dunia ini. Di hari H, semua yang muslim dibebaskan dari ruang kelas untuk merayakan hari besar. Saya kaget karena separuh isi kelas beragama Islam. Mereka berasal dari Turki, Pakistan, Kazakstan, Korea, dan Rusia. Hanya saya yang berasal dari Indonesia.

Saya juga diundang oleh keluarga besar Pakistan untuk menyantap hidangan lebaran khas negara mereka di asrama. Mungkin karena Indonesia lebih dekat secara emosional, mereka dengan senang hati mengajak saya. Sementara teman-teman dari negara lain memilih berkumpul dengan komunitas sendiri dan makan di restauran muslim di dekat kampus sampai kenyang.

Shalat ied di KBRI Beijing
[Photo: Search by Google]

Tahun kedua di Cina, saya bertekad untuk lebaran di KBRI dan mencari masjid di Beijing. Katanya masjid di Dongzhimen cukup ramai. Apalagi jika saya ingin menikmati lebaran dengan suasana Cina. Itu kata teman saya asal Xinjiang, dia mengajak saya untuk sholat ied di sana. Semangat empat lima, saya segera berkemas pada jam 6 pagi. Berebutan subway dengan pekerja lokal dan tiba di Dongzhimen sekitar dua jam kurang.

Jujur saja, saya mulai mengantuk. Saya bahkan tidak bisa mengontak teman saya. Bermodal bahasa mandarin pas-pasan, saya nekat keluar dengan petunjuk. Di exit direction tidak disebutkan lokasi masjid Dongzhimen. Sialnya, saya berjalan jauh ke arah mall dan kebingungan. Teman Uyghur saya menelepon, bertanya posisi saya. Ternyata kami sangat jauh. Saya menyerah karena sudah terlambat, dia harus segera ke masjid.

Lebaran saya dengan niat baik di masjid, berakhir di mall. Melihat-lihat brand menengah dan lokal. Melihat-lihat saja, tidak membeli apapun. Bermodal keberanian, saya kembali ke asrama. Sebelumnya saya singgah di restauran muslim, membeli beberapa jenis makanan untuk saya santap di kamar.

Saya juga berniat ke KBRI. Ternyata kartu transportasi saya kehabisan dan uang yang saya miliki tidak cukup untuk mengisi kartu transportasi. Saya hanya punya uang untuk pulang ke asrama. Akhirnya saya memilih pulang, mengambil ATM, kemudian memilih berlebaran dengan teman-teman saya di kampus.

Tahun ketiga lebih miris, saat takbir berkumandang. Teman-teman Indonesia mengajak kumpul di KBRI. Apalagi ada seorang teman penerima beasiswa LPDP yang berkenalan sejak tahun 2013 melalui email, berlanjut ke Whatapp, dan dia mengajak bertemu di KBRI. Sayangnya, hari itu adalah H-3 saya kembali ke Indonesia. Mau tidak mau saya harus menyelesaikan urusan berkas yang akan saya kumpulkan untuk penyetaraan ijazah.

Saya, dibantu oleh seorang dosen Sastra dan Bahasa Melayu yang orang China asli mengisi formulir untuk pengajuan lembar CDGDC yang tulisannya keriting kotak-kotak semua. Seharian saya mengisi itu. Malamnya saya melewati lebaran Idul Fitri dengan teman-teman muslim di asrama.

Dibandingkan dengan lebaran, saya lebih merasakan seperti pesta-pesta. Namun, begitulah budaya mereka melewati hari besar Islam ini di negaranya.

Sedih? Awalnya saya berpikir akan sedih. Ternyata di hari H saya sama sekali tidak merasakan sedih. Benar kata Imam Syafi’i, “Merantaulah! kau akan dapatkan pengganti kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah berjuang.”

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *