Bookish

Hari Buku Nasional 2020; Dilema Corona dan Minat Baca

Selamat Hari Buku Nasional!

Ya, selamat hari buku buat para bookish yang mengingat hari ini sebagai HBN. Kok? Karena tidak semua dari kita ingat hari ini sebagai salah satu peringatan nasional saking senyapnya.

Kalau saja saya tidak membuka akun sosial media sosial, bisa dipastikan saya lupa akan hari ini. Saya tidak sempat menuliskan dan mempublikasikan sebuah artikel di halaman ini. Saya benar-benar tidak ingat jika hari ini adalah hari penting buat para pecinta buku, pembaca buku, penulis, penerbit, dan pegiat literasi di bawah komunitas apapun. Bahkan poster-poster yang disebarkan dengan daring tentang seminar HBN berlalu begitu saja.

Hari ini, para penerbit, penulis, dan komunitas literasi punya satu agenda khusus. Sama seperti peringatan hari lain, poster tentang ucapan ‘Selamat’ beredar di setiap feeds para pengguna instagram. Tidak terkecuali di timeline saya, berbagai pemilik akun mengucapkan kata ini sebagai bentuk kepeduliannya.

Peduli? Saya tidak yakin ini. Bisa jadi memang mereka sudah punya kalender posting sosial media untuk menggaet like, follower, dan comment dari orang-orang yang sependapat. Nyatanya, di luar sana banyak yang tidak tahu menahu tentang HBN ini.

HBN tahun 2020 ini agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sejak Menteri Pendidikan Nasional, Abdul Malik Fadjar menggagas HBN pada tanggal 17 Mei 2002 silam, kata sejenis disertai kutipan dari para penulis legen beredar di sosmed. Mungkin Anda juga ikutan ngeshare. Khusus tahun ini saya tidak menulis apa-apa, tidak membagikan apa-apa karen lupa. Bahkan artikel ini saya tulis beberapa jam sebelum HBN berlalu.

18 tahun lalu, Abdul Malik Fadjar memilih tanggal kelahiran Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai peringatan HBN. Maksudnya mulia, selain mengenang lahirnya perpustakaan nasional pada tahun 1980, HBN juga mengandung misi lain. Tujuannya adalah memicu minat baca masyarakat Indonesia dan menaikkan penjualan buku.

Menurut saya, tujuan kedua ini sangat berlebihan. Bagaimana penjualan buku meningkat jika harga satu eksemplar buku bisa mencapai harga satu karung beras. Belum lagi harga buku di luar Pulau Jawa dan Bali berbeda dengan harga di Pulau Jawa dan Bali. Misalnya harga buku di Gramedia Aceh lebih mahal 10% dari pada harga yang tertera di sampul belakang buku.

Itu masalah pertama. Masalah keduanya bukan saja soal persentase harga yang meningkat lumayan ini. Harga yang diberikan oleh toko buku juga sangat mahal. Di luar jangkauan masayarakat menengah ke bawah. Tidak heran jika pada akhirnya membaca kerap dilakap sebagai hobi atau kebiasaan orang kelas atas saja. Selain harga buku melambung, untuk mendapatkan akses buku berkualitas dan baru tidak mudah. Tidak semua perpusda menyediakan buku yang update setiap bulannya.

Meskipun Perpustakaan Nasional RI sudah memberikan layanan digital melalui iPusnas yang bisa diunggah dari playstore ponsel pintar, pertimbangan lain tetap harus dipikirkan. Tidak semua daerah memiliki akses internet yang memadai. Bahkan tidak semua orang mampu membeli kuota internet yang tak semurah iklan di TV. Kerap kali tanda bintang super kecil menjebak para pengguna provider.

Apalagi di musim pandemi Covid-19, kehadiran buku di tengah keluarga masyarakat kecil bukan sesuatu yang wow. Masyarakat kecil akan lebih bahagia mendapatkan kiriman sembako daripada buku bacaan. Pun begitu, mengisi otak juga harus seimbang dengan mengisi perut.

Sebagaimana yang ditulis oleh Kompas pada tanggal 17 Mei 2020, pandemi Covid-19 yang melanda dunia tahun ini sangat berpengaruh pada penjualan dan penerbitan buku di dunia. Khususnya di Indonesia yang dicap memiliki tingkat pembaca rendah di dunia. Ikatan Penerbit Indonesia (IPI) melakukan survei terhadap 100 perusahaan penerbitan. Hasil survei menunjukkan kekhawatiran serius terhadap keberlangsungan minat baca di Indonesia juga. Sekalipun di sana tertulis ini dampak dari Covid-19. Penjualan buku menurun sebanyak 58,2% dari 50% perusahaan yang dilakukan survei. Hanya 4,1% saja bertahan dengan penjualan stabil.

Dalam sebuah diskusi dengan penerbit digital, saat ini penerbit besar pun sedang kalang kabut menghadapi penurunan penjualan. Penulis yang sudah menandatangi kontrak harus ditunda penerbitan bukunya. Pengajuan naskah baru ditahan sampai waktu yang belum bisa ditentukan. Royalti penulis terhambat, bahkan penerbit kecil terancam tutup karena bangkrut.

Padahal, sebelum pandemi menguasai dunia pun Indonesia termasuk negara yang menerbitkan sedikit judul buku. Setiap tahunnya Indonesia menerbitkan 18 ribu judul, jauh di bawah Jepang yang menerbitkan 40 ribu judul buku. Bahkan China menerbitkan 140 ribu judul buku pertahun.

Bagaimana dengan tahun 2020? Bumi sedang sakit dan memulihkan dirinya. Harusnya, minat baca yang memang sakit-sakitan sejak dulu mengalami pemulihan alias peningkatan sejak pemerintah menetapkan #dirumahaja. Selain melakukan hal produktif lainnya, para pengguna ponsel pintar bisa memanfaatkan gadget ini sebagai alat untuk membaca jika tidak memungkinkan membeli buku.

Apakah minat baca meningkat? Sepertinya hanya nol koma sekian persen saja. Karena selama #dirumah saja, kebanyakan minat nonton drama yang meningkat. Bukan membaca!

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *