Bookish

Membudayakan Membaca di Kalangan Masyarakat Hanya Mimpi?

Pada sebuah seminar literasi yang saya isi ada peserta bertanya, “Kak, bagaimana caranya menumbuhkan budaya membaca di masyarakat kita yang masih rendah? Seperti kita ketahui, masyarakat kita sangat susah untuk diajak membaca. Jangankan membaca, diajak ke toko buku saja susah.”

Jujur saja, pertanyaan ini membuat saya putar otak beberapa detik. Pertanyaan mainstream yang selalu ditanyakan di setiap ada bincang literasi. Baik itu di talkshow, seminar, bahkan hanya obrolan santai di komunitas. Ternyata pertanyaan sederhana ini sangat sulit dijawab. Perkaranya, belum ada solusi untuk menumbuhkan minat baca secara masif sampai saat ini.

Merujuk kepada pengalaman pribadi, kita tidak bisa memaksakan orang lain menjadi pembaca yang baik. Apalagi membaca berjama’ah. Sulit sekali. Sekedar mau melihat dan membaca sampul serta blurb buku saja sudah bagus.

Saya teringat ketika saya masih kuliah S1 di IAIN (sekarang UIN) Ar-Raniry Banda Aceh. Saya tinggal di kos dengan peminat buku yang nyaris hanya mimpi. Tidak ada yang membaca buku selain saya. Bahkan ketika saya membeli buku dengan harga ratusan ribu pun cap orang bego langsung melekat. Mau dipakai apa buku yang saya belikan? Tidak bisa memikat orang lain, tidak bisa dimakan, tidak bisa dijual lagi.

Mereka tidak salah dengan cara pikir mereka. Saya juga tidak mengaku salah dengan kesenangan saya. Ketika saya membeli buku, ada banyak harapan yang saya niatkan di hati. Salah satunya hasil bacaan saya bermanfaat dunia akhirat. Mereka juga tidak salah, toh uang ratusan ribu yang belanjakan buku mereka tukar dengan beberapa gram emas di Pasar Aceh. Mereka memakainya sebagai perhiasan dan menjualnya ketika harga emas meningkat.

Jika dikalkulasikan dengan nilai materi, memang mereka untung. Saat masa panceklik, mereka bisa menjual emas mereka untuk bertahan hidup. Saya tidak bisa menjualnya lagi. Satu hal yang perlu digarisbawahi untuk urusan mempertahankan hidup, kita sama-sama bisa bertahan.

Buku, lho? Bukan emas.

Iya, tapi dengan ilmu yang bermanfaat kita juga bisa bertahan hidup, kan? Ini cerita saya. Setiap pecinta buku tentu mempunyai cerita berbeda di balik berkah sebuah buku. Ketika teman saya sibuk menjual emas, saya mendapatkan pekerjaan yang saya sukai. Pekerjaan sederhana yang bisa saya kerjakan di mana saja. Saya memilih bekerja di rumah atau perpustakaan. Pekerjaan saya hanya diminta untuk membaca buku yang ditulis dan akan diterbitkan. Saya diminta mengecek kesalahan, tingkat pemahaman, dan memberikan masukan. Untuk pekerjaan begitu saja saya dibayar dengan angka yang baik.

Memang saat saya masih kuliah masih banyak NGO yang mau membayar pekerjaan sederhana dengan harga fantastis. Bayangkan, sebulan bekerja saya sudah bisa mengganti ponsel baru yang sesuai dengan kebutuhan. Ada kameranya dengan kapasitas 1 MP. Masa itu punya HP berkamera saja sudah wow sekali.

Bukan sekedar bertahan hidup, pekerjaan sederhana ini bisa membantu untuk bayar uang kuliah dan beli baju baru. Kamar kos saya yang hanya berperabotkan beberapa buku, kasur tipis, ricecooker, dan sebuah kardus mie instant untuk menyimpan pakaian perlahan mulai bersolek. Saya mulai mengganti kardus indomie dengan lemari kayu kecil. Buku yang saya susun di lantai kayu mulai naik derajat ke rak buku portable. Ricecooker juga sudah punya teman sebuah dispenser. Kasur tipis kiriman dari kampung berganti menjadi kasur busa yang sedang ngehits. Seprei saya yang hanya sebuah dan ukurannya besar berganti dengan seprei dengan motif yang saya sukai. Gara-gara punya duit untuk beli bantal guling, akhirnya saya pakai bantal guling. Awalnya hanya untuk hiasan saja, pelengkap. Lama-lama jadi ketergantungan. Btw, saya tidak pakai kipas angin karena tidak tahan dengan angin buatan itu.

Tentu saja, penghuni kos penasaran. Apa yang saya kerjakan sampai kamar kecil saya mulai penuh. Ada yang mengira saya melakukan hal-hal terlarang sampai bisa begitu. Di sinilah kesempatan saya menunjukkan kekuatan membaca.

Saya menjadi pembaca buku yang akan terbit. Proofreader. Istilah yang asing buat mereka yang menyentuh buku pun jarang. Perlahan mereka mulai tertarik menyentuh buku. Membaca novel tipis, buku-buku how to yang memberi solusi. Perlahan anak-anak di kos mulai membaca buku dadakan.

Saya pikir ini akan lama bertahan, tapi tidak. Hanya sementara saja. Setelah itu mereka kembali disibukkan dengan rutinitas biasa yang mereka sukai. Setidaknya sesekali saya melihat mereka mulai akrab dengan bacaan ketika butuh. Mereka mulai baca koran atau majalah, walaupun hanya untuk baca gosip seleb dan baca resep masakan.

Tidak mudah membudayakan masyarakat kita membaca. Membaca adalah keinginan dari hati. Bukan sekedar tujuan. Jadi, jika dikatakan membudayakan literasi dalam masyarakat hanya mimpi tidak benar. Budaya membaca bisa diubah, tai dalam waktu yang lama.

Hal sederhana yang bisa dilakukan oleh kita untuk mengajak orang lain membaca ya menunjukkan manfaatnya . Manfaat yang sesuai dengan kebutuhan mereka dalam mencapai tujuan.

Jadi, membudayakan masyarakat yang melek literasi atau minimal mau mulai membaca saja bukan sekedar mimpi. Semua butuh waktu dan ada yang harus dikorban.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *