Bibliolive

Quit; Saatnya Keluar Dari Zona Aman

Buku perjalanan yang ditulis oleh seorang traveler atau travelblog memang selalu menggoda untuk dibaca. Berbeda dengan buku travel tip yang mengulas how to travel, buku yang ditulis dengan cara membagikan pengalaman langsung penulisnya lebih banyak memberikan pelajaran moral bagi pembaca.

Di Indonesia, tidak banyak buku yang ditulis oleh travel blogger langsung. Apalagi jika buku tersebut sampai meninggalkan jejak pengalaman bagi pembacanya. Dari beberapa buku traveling yang saya baca, Quit termasuk buku yang menarik untuk dibaca.

Quit ditulis oleh seorang vlogger dengan akun instagram backpackertampan, silahkan mampir jika penasaran dengan lelaki bernama Pandu Waskhita ini. Buku ini ditulis dengan permulaan menceritakan perjalanan Pandu di India saat mengantri di Taj Mahal. Sejak inilah perjalanan hidup sebagai seorang vlogger Pandu dimulai dengan segala suka citanya.

Seorang Pandu mengajukan permohonan magang sebagai pengedit video di perusahaan asing. Belajar banyak dengan segala suka duka. Sampai dia dipertemukan dengan Christian Leblanc, seorang vlogger internasional dengan jumlah follower di Instagram sebanyak 678K saat saya menulis artikel ini. Sementara pelanggan kanal YouTubenya meraup 1.47M pelanggan.

Wow banget, kan? Lebih wow lagi karena Pandu Waskhita yang lebih akrab dipanggil Tampan atau Tamps oleh Christian dan teman-temannya ini adalah fulltime video editor untuk vlog Christian. Selain boleh memakai fasilitas di villa Leblanc di Bali, dia juga berkesempatan bertemu dengan para vlogger internasional lainnya. Ada yang sampai sangat akrab untuk diajak keliling dunia.

Bagian ini saya mupeng.

Permasalahan muncul ketika mimpi Pandu Waskhita untuk menjadi tim dari Wonderful Indonesia datang. Dia harus minta izin ke Leblanc dan meyelesaikan proyek ini selama dua minggu. Bahkan Leblanc menawarkan kamera seharga ratusan juta untuk dipakai oleh Pandu. Kurang baik apa? Namun hubungan mereka harus berakhir ketika Pandu memutuskan liburan ke India bersama Ali. Pandu dihadapkan pada dilema mengundurkan diri bekerja dengan Leblanc atau mengubur semua keinginannya untuk jalan-jalan keliling dunia.

Buku ini seperti diary nostalgia untuk saya. Ketika saya dihadapkan dengan pilihan untuk keluar dari zona aman. Bukan mudah, apalagi berhadapan dengan sesuatu yang kita sukai saat melakukannya. Bermasalah dengan pekerjaan dan bosnya. Saya merasa di sinilah cermin diri saya.

Kisah yang dituturkan Pandu dengan sudut pandang pertama dengan sebutan ‘gue’ juga semakin mendekatkan saya sebagai pembaca memposisikan diri sebagai Pandu dan saya sekaligus. Meskipun tidak tenar seperti Pandu, apa yang dialami oleh Pandu juga saya alami. Sehingga ada benang merah antara pembaca dan penulis Quit.

Di sini ada nilai yang dipaparkan oleh Pandu tentang keberanian mengambil keputusan. Setiap manusia dihadapkan dalam pilihan. Jadi, memilih dan memutuskan adalah hal yang harus dilakukan oleh seseorang dalam melewati sisa hidupnya.

Menariknya lagi buku ini ditulis seperti kerangka novel. Ada bagian pembuka, pra klimaks, klimaks, anti klimaks, sampai ending. Bahkan saya tidak percaya dengan ending buku ini.

Selama membaca buku ini, tangan saya juga tidak lepas dari ponsel. Setiap ada nama baru pasti akan saya cari di Instagram atau YouTube. Ternyata memang wadidaw sekali si abang Tampan ini. Menyalurkan energi positif untuk hidup yang lebih baik. Terutama ketika saya melihat salah satu postingannya di Instagram saat berkunjung ke Aceh. Pandu berdiri di depan Masjid Raya Baiturrahman dengan tampannya. Hoah!

Di antara semua kelebihan yang saya temukan karena kedekatan emosi, saya juga menemukan kekurangan tak berarti dari buku Quit. Ilustrasi sampulnya memang bagus, warnanya juga oke. Gagas Media sebagai penerbit memang tidak pernah gagal dalam memberi wajah pada pembaca.

Sayangnya, bagi penikmat ilustrasi sampul buku seperti saya, tidak bisa menemukan sisi traveling yang digambarkan oleh buku ini. Tulisan Quit dengan warna putih terlalu besar. Sehingga teman-teman Pandu yang tertinggal di belakang saat melihat Pandu berlari jadi terlihat seperti tumpukan entah apa. Sepertinya akan lebih menarik jika ilustrasi sampul diganti pada cetakan selanjutnya. Lebih menggambarkan sebuah tekad.

Secara umum, saya sangat menyukai Quit dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

[*]

Judul Buku: Quit | Penulis: backpackertampan | Penerbit: Gagas Media (Jakarta, 2020) | Tebal: 145 halaman | Harga: Rp 66.000,-

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *