Bookish

Melek Literasi di Era Digital

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Tidak terasa, ya, rasanya baru kemarin kita berganti tahun, ternyata sudah bulan Mei lagi. Di bulan ini, ada beberapa hari yang kita kenal sebagai peringatan nasional, yaitu hari buruh internasional, hari pendidikan nasional, dan hari kebangkitan nasional.

Apa kabar pendidikan Indonesia?

Well, jangan tanyakan bagaimana nasib bangsa Indonesia di sosial media jika kita tidak bisa berbuat banyak untuk bangsa tercinta. Lantas, ada pikiran yang melintas, “Kenapa Indonesia tidak bisa menjadi negara yang kuat dalam hal pendidikan seperti layaknya negara-negara maju seperti di Eropa, Amerika, Australia, atau negara Asia lainnya?”

Mereka negara yang maju. Are sure ini penyebabnya? Kemajuan sebuah negara menentukan majunya pendidikan, tapi SEBENARNYA kemajuan negara ditentukan oleh kondisi pendidikannya. Apalagi di era digital ini, semua bisa diraih dilakukan dengan teknologi. Kita juga bisa mengakses informasi dari negara lain dengan memanfaatkan fasilitas internet. Tentu saja, dengan memanfaatkan ponsel pintar pun kita harus melek literasi.

Bisa dipastikan, anak sekolahan dan mahasiswa sekarang hampir semuanya memiliki ponsel pintar untuk berkomunikasi. Setiap penggunanya juga mengkonsumsi informasi dari ponsel pintar tersebut. Namun, tanpa sadar kita bukan saja mengonsumsi berita yang sifatnya edukatif dan informatif, kita tanpa sadar juga terpengaruh dengan berita hoax yang belakangan semakin marak di dunia digital.

Yach, memang berita hoax di Indonesia tidak bisa dibendung, tapi kita punya alat untuk mencegah. Jadikan ponsel pintar dan pengetahuan kita menjadi senjata. Salah satu cara melawan berita hoax adalah dengan melek literasi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literasi diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca; kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan kecakapan hidup. Literasi seringkali digabung dengan kata lain untuk menunjukkan kekuatannya. Salah satunya adalah literasi digital.

Literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan. Semuanya digunakan untuk menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan membuatkan secara sehat, bijak, cerdas, hemat, tepat, dan patuh hukum. Baik secara sadar atau tidak, kita sedang memasuki era digital dimana kegiatan literasi sangat dibutuhkan.

Di era ponsel pintar masuk sebagai kebutuhan primer, kuota internet sebagai keharusan, harusnya kegiatan literasi juga semakin mudah. Apa saja bisa dilakukan dengan si benda persegi panjang yang luar biasa itu. Termasuk kegiatan membaca dan menulis. Ini zamannya tidak ada alasan tidak membaca karena perpustakaan jauh dan harga buku lebih dari jajan seminggu. Tidak ada lagi alasan tidak bisa menulis karena tidak punya laptop. Kita punya ponsel pintar yang memberi solusi untuk ini semua.

Tidak Ada Alasan Tidak Membaca

Minimnya koleksi di perpustakaan daerah dan harga buku yang melambung jangan jadikan alasan untuk tidak membaca buku. Toh banyak sekali perpustakaan digital yang bisa diakses gratis dan penerbitan digital yang memudahkan pengguna ponsel pintar untuk tetap membaca dan menulis. Salah satu perpustakaan digital yang bisa diakses dengan mudah adalah ipusnas. Ribuan koleksi buku di perpustakaan nasional dapat diakses secara gratis di ipusnas. Selain ipusnas, aplikasi literasi lain juga dapat diakses di sini.

Apalagi di musim pandemi, stay at home alias di rumah aja bisa diisi dengan kegiatan literasi yang lebih bermanfaat. Tidak masalah apa yang Anda baca, semua bacaan pada dasarnya baik. Hanya tujuannya saja yang berbeda-beda. Baca apa saja yang menjadi minat Anda, baik itu berkaitan dengan hobi, spiritual, atau pengembangan diri dari motivator dunia.

Menemukan Jati Diri

Membaca dan menulis menyumbang manfaat yang sangat baik bagi pelakunya. Selain untuk menambah wawasan dan pengetahuan, membaca dan menulis bisa menjadi terapi diri sendiri tanpa harus ke psikiater atau psikolog. Bayangkan ketika stress harus ke psikolog, sudah berapa duit yang Anda keluarkan untuk curhat masalah ini.

Presiden BJ. Habibie pun memanfaatkan kemampuan literasinya untuk menerapi diri sendiri setelah ditinggal oleh istri tercinta. Habibie Ainun, salah satu buku yang amat populer adalah hasil dari pengendalian diri dan terapi Presiden Keempat Republik Indonesia ini.

Bahkan untuk mereka yang tidak suka menulis, tapi suka berbicara di depan umum, membaca sangat membantu untuk membentuk kepribadian. Kosa kata yang disampaikan akan variatif sesuai dengan tingkatan dan level membaca. Kemampuan seseorang berkomunikasi dan bersosialisasi juga ditentukan oleh seberapa banyak buku yang dia baca.

Akan lebih baik lagi jika ia menuliskannya. Hernowo, penulis Quantum Writing menjelaskan bahwa menulis itu mengikat makna. Apa yang dibaca oleh seseorang akan lebih baik jika diikat dalam pikiran dan otak agar tetap melekat. Caranya? Tuliskan!

Menulis dan membaca juga cara muda seseorang menemukan jati dirinya. Apa yang banyak ditulis dan dibaca menunjukkan minat seseorang. Kegiatan ini akan mengantarkan kita untuk tetap berada di garis fokus dalam tujuan hidup, meningkatkan empati, dan memperluas pemikiran seseorang.

Tentunya untuk menjadi penulis yang baik harus menjadi pembaca yang baik dulu. Tidak mungkin seseorang menulis dengan baik jika dia tidak suka membaca. Tidak mungkin pula tersedia bahan bacaan seperti buku, artikel secara daring atau buku teks pelajaran jika tidak ada penulis yang menuliskannya.

Apa hubungan era digital dengan kegiatan literasi? Tentu saja ada. Sebagai pemegang ponsel yang baik, sudah semestinya kita mampu mengawinkan kemampuan dalam menarikan jempol di layar virtual dengan dunia literasi.

Manfaatkan Aplikasi

Banyak sekali aplikasi yang bisa dimanfaatkan untuk menulis dan membaca dalam ponsel pintar yang kita punya. Semuanya bisa diunduh dan dipasang secara gratis. Bahkan sosial media yang kita pakai selama ini bisa menjadi ladang untuk berliterasi dengan bijak. Daripada menulis status galau dan membaca berita hoax di WAG, tidak ada salahnya mengubah jalur untuk memberikan infomasi yang lebih baik untuk pengguna sosial media lainnya.

Tapi saya nggak tahu apa yang harus saya tulis selain status bucin. Gimana, dong?

Tulislah yang tidak Anda tahu atau yang Anda tahu saja. Tulis yang dekat dengan lingkungan Anda setelah mengkonfirmasi kebenarannya. Bagikan, biarkan dunia tahu. Misalnya, seperti gaya belajar di sekolah Anda. Cara pintar mendapatkan prestasi. Sosok inspiratif di sekeliling Anda, semuanya bisa dituliskan di sosial media.

Saya melakukan hal yang sama. Sejak memanfaatkan ponsel pintar saya lebih berfaedah, banyak kejutan yang saya dapatkan di kemudian hari.

Awal mula saya memanfaatkan instagram sebagai media literasi sangat sederhana. Sebelumnya saya sudah menulis di blog dengan nichee sebagai books and travel blogger. Setelah menikah, frekwensi jalan-jalan dan makan saya berkurang. Setelah melahirkan, aktivitas saya memagang laptop juga menurun drastis. Saya sempat galau dengan rutinitas yang banyak dipantangkan dalam tradisi madeung (bersalin dalam istilah Aceh). Sampai akhirnya saya mengenal sebuah dunia di Instagram, mereka menyebutnya bookstagram.

Saya membaca buku, memfoto sampul bukunya, kemudian membagi isi bacaan dan pengalaman membaca saya sebagai caption Instagram. Tidak disangka, responnya disambut baik. Ada yang terpengaruh untuk membaca buku-buku tersebut. Ada yang menghubungi secara personal dan meminta saya membaca buku mereka. Banyak lagi hal lain yang saya dapatkan di sosial media. Beberapa postingan berkaitan hal-hal informatif di sekitar saya juga terkadang masuk dalam feeds untuk dilihat oleh teman-teman yang tertarik.

Tidak ada yang sia-sia dengan apa yang kita lakukan selama itu benar. Bahkan di era digital yang katanya informasi akan datang dan pergi tanpa filter. Penyaringan yang sesungguhnya bukan dilakukan oleh orang lain, tapi kitalah yang menyaring informasi itu. Kemampuan literasi seseorang sangat menentukan cara pandang dan kualitas hidup seseorang. Setinggi apapun pendidikan, jika tidak dibarengi dengan kemampuan kesadaran kita terhadap literasi akan sia-sia.

Dengan kekuatan literasi yang menyeluruh dari anak bangsa, kekuatan pendidikan Indonesia akan bangkit menyamai negara-negara maju yang menjadi panutan. Bahkan mereka yang diam-diam kita banggakan dan bandingkan di sosial media atau forum.

Selama kita hidup, sudah berapa kali Hari Pendidikan Nasional singgah di hidup kita? Apa yang kita lakukan? Di musim pandemi ini, kita bisa emulai berkegiatan literasi dari diri kita sendiri. Kita bisa mengubah Indonesia lebih pintar meskipun hanya di rumah saja.

Nah, sudah saatnya ponsel pintar dipegang oleh orang-orang cerdas, bukan ponsel yang mencerdaskan kita.

Disampaikan pada Kuliah Whatapps Memperingati Hari Pendidikan Nasional 2020 bersama Pelajar Islam Indonesia (PII) Wati Aceh.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *