Bookish

Ini Dia Aplikasi Membaca Oliverial Untuk Usir Bosan #dirumahaja!

Beberapa waktu lalu, saya mengepos foto buku yang saya baca di sosmed. Sekalian dengan hape. Belakangan saya memang lebih suka membaca ebook dibandingkan dengan buku fisik. Selain gampang dibaca, waktu membaca saya sejak pandemi berhasil menawan saya #dirumahaja memang agak random. Meskipun membaca ebook, tapi legal punya, ya. Bukan ilegal.

Tentu saja, untuk membaca ebook legal yang nyaman ada aplikasi yang mesti diunggah. Semua buku yang saya baca ini gratis-tis-tis! Ya, tidak dipungut uang sepeser pun. Berhubung saya bergabung dengan komunitas literasi, setiap ada penerbit yang membagikan ebook gratis, saya juga paling semangat untuk mengunduhnya segera. Bukunya bagus-bagus dan penulisnya tenar-tenar.

Penulis tenar hanya untuk mereka yang person oriented. Sesekali saya juga masuk ke dalam tipe menyebalkan ini. Jangan tanya kenapa, mungkin karena konsep diri dan kepribadian seseorang itu kadarnya juga naik turun. Sesekali saya tidak melihat siapa yang menulis, sering kali nama penulis adalah penentu untuk membaca buku tersebut.

Terus, dimana kita bisa menemukan buku bagus dengan penulis bagus? Ini dia aplikasi yang saya instal berikut kelebihan dan kekurangannya, ya.

Gramedia Digital

Aplikasi milik Gramedia Group yang memang diperuntukkan bagi mereka yang pecinta buku-buku terbitan Gramedia. Semua buku Gramedia ada di sini, termasuk majalah dan koran yang diterbitkan oleh Kompas Gramedia Group (KKG). Untuk menggunakan aplikasi ini memang harus berbayar, ada yang premium dengan akses baca pribadi, ada yang grup. Satu grup bisa patungan untuk lima orang. Kekurangannya selain berbayar, buku-buku di Gramedia Diigital alias GATAL tidak bisa discreenshot. Jika Anda adalah pengoleksi quote dengan sistem tangkap layar, gatal tidak sebaik itu.

iJak

iJak adalah aplikasi perpustakaan daerah Jakarta. Koleksinya lumayan, sebelas dua belas dengan ipusnas. Terkadang buku yang tidak tersedia atau kosong di ipusnas bisa ditemukan di sini. Sistemnya sama dengan ipusnas, tampilannya saja lebih cerah. Orens, buat semua pengguna ijak semakin semangat. Kelebihannya, ijak menyediakan pustakan pribadi yang dihubungkan ke aplikasi. Misalnya nih, selama ini saya antri Filosofi Kopi. Begitu buku tersedia, notifnya akan langsung menunjukkan pustaka mana saja yang menyediakan buku ini. Kita bisa pinjam ebooknya di sana, termasuk Bentang Pustaka. Kekurangannya tidak compatible, saya harus mendaftar juga ke pustaka mereka untuk menjadi member. Baru bukunya bisa saya pinjam secara daring.

Wattpad

Bagi generasi milenial dan zillenial, pasti tidak asing dengan aplikasi ini, kan? Aplikasi ini memuat jutaan novel tamat dan on going dari berbagai penulis. Ada yang pemula dan banyak pula yang sudah expert seperti Ary Nilandari, Luluk HF, Wulan Fadi, dan lain-lain. Berbagai genre buku juga akan mudah sekali ditemukan cukup dengan satu kunci. Ketika kamu membuka lagi wattpad, ratusan rekomendasi buku dengan tema yang sama akan muncul di beranda. Kekurangannya, kita tidak bisa membaca buku full di sini. Khususnya buku yang sudah diterbitkan. Pasti ada beberapa bab yang sudah dihapus atau diprivasikan. Sedangkan kelebihannya, kita bisa berinteraksi dalam tiap paragraf dengan penulis atau tokoh rekaan si penulis. Kamu juga bisa menulis di sana, lho.

ipusnas

Kalau ijak perpustakaan digital milik Kota Jakarta, maka ipusnas milik perpustakaan nasional. Lucunya, saya mengenal ipusnas justru dari teman saya asal China. Dia mendaftarkan saya untuk menggunakan ipusnas. Lucu, kan?! Satu sisi juga miris, sih.

Koleksi buku di ipusnas ini sangat banyak. Saking banyaknya, terkadang kita juga harus rebutan. Lho, kok?! Katanya banyak? Nah, buku-buku populer juga dapat ditemukan di ipusnas. Stoknya lumayan, antara 10 sampai 20 eks. Sayangnya, buku femes seperti Cantik Itu Luka, Filosofi Kopi, dan beberapa buku lainnya terkadang dalam proses antrian yang lama sekali. Saya pernah antri novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan bertahun-tahun, sampai saya mendapatkan pinjaman dari pustaka Basajan.Net. Kelebihan ipusnas lebih kepada koleksinya. Banyak buku-buku yang sudah tidak beredar di toko buku atau di perpustakaan daerah bisa ditemukan di sini.

Playbook

Nama ini bisa jadi tidak asing. Kebanyakan penulis menjual ebook di sini. Bahkan buku-buku sekelas Risa Saraswati ada di Playbook. Beberapa waktu lalu, diawal lockdown dan imbauan #dirumahaja saya mendapatkan sangat banyak ebook di aplikasi ini. Tulisannya juga nggak terlalu kecil, kita bisa membaca senyaman membaca buku cetaknya. Kekurangannya nyaris sama dengan gramedia digital. Kekurangannya, banyak buku harus beli, syukur kalau dapat gratisan dan memang buku incaran.

Storial

Ini beda tipis dengan wattpad. Bedanya di Storial saya banyak menemukan penulis yang namanya sudah sangat familiar seperti Ary Nilandari, Bernard Batubara, Raihan Lubis, dan lain-lain. Ada dua model buku yang bisa dibaca, ada yang reguler dan premium. Untuk membaca karya reguler tidak ada yang mesti dibayarkan. Untuk membaca yang premium harus bayar pakai koin. Sejauh ini saya belum berani berkorban budget untuk membaca yang premium. Jadi, kekurangan dan kelebihan yang premium mungkin bisa Anda jawab di kolom komentar. Kekurangan aplikasi ini masih labil. Sering kali settingannya kacau. Untuk settingan, wattpad sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan Storial.

Oh, ya, di sini kamu juga bisa menulis, kok. Sama seperti di wattpad dan mendapatkan pembaca plus uang jajan buat isi kuota. Untuk informasi selanjutnya bisa langsung kontak admin storial saja, ya.

Cabaca

Aplikasi bergambar gurita hijau ini juga memuat penulis dengan berbagai level. Di sini ada Honey Dee, Ari keling, Ria N. Badaria, Maya lestari GF, Johannes Jonaz, dan lain-lain. Nama-nama familiar dengan karya spektakular mereka jangan diragukan lagi. Di Cabaca, setiap orang bisa membaca dengan membeli perbab menggunakan kerang. Harga perbab beragam, tergantung tingkat popularitas novelnya. Kelebihannya, Cabaca tidak hanya mempublikasikan novel yang ditulis oleh penulis mereka sendiri. Ada juga novel hasil kolaborasi dari penerbit lain seperti Penerbit Haru, Indie Corner, dan lain-lain. Kekurangannya ketidakstabilan aplikasi ketika jaringan jelek. Kalau kerang habis juga tidak bisa melanjutkan bacaan yang lagi seru-serunya.

Nah, itu dia tujuh aplikasi yang saya pasang dan saat ini aktif di ponsel pintar saya. Jadi, tidak ada istilah nggak #dirumahajabacabuku kan?! Kamu pasang yang mana, guys?! Share yuk!

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *