BP Network

Kisah Sial Social Distancing, Ada yang Mengalami?

Kata social distancing belakangan menjadi femes di kalangan masyarakat awam. Bukan saja bagi mereka yang mengerti Bahasa Inggris dan mudah mengucapkan istilah bule ini. Baru-baru ini saja kata social distancing diubah menjadi kata jaga jarak, tapi warga +62 sudah akrab dengan kata-kata social distancing.

Bagi saya, kata social distancing bukan saja soal jaga jarak. Kata-kata ini memang sudah sial sejak dulu. Sebelum Covid-19 tenar dengan berbagai istilah aneh. Tanpa harus dihimbau pun, jaga jarak sudah terjadi di masyarakat kita. Terutama bagi kelas sosial tertentu.

Penerapan social distancing selama Covid-19 ini memang dilakukan dengan tujuan. Memberi jarak untuk memutus mata rantai virus yang seperti api. Lidah api bisa melahap jarak dekatnya, tapi jika ada jarak yang sedikit jauh, dia hanya akan menghanguskan apa yang sudah terpapar dan tidak lagi membakar bagian lainnya. Begitu juga kerja si Corona ini. Itu sebabnya jaga jarak alias social distancing sangat diperlukan di masa-masa ini.

Di Banda Aceh, setiap fasilitas publik sudah menerapkan social distancing dengan bijak. Saya pernah berkunjung ke bank, bolak balik ke Rumah Sakit Umum Provinsi, bahkan ke klinik buat berobat. Semuanya sudah dibuat sistem jaga jarak.

Ketika saya demam dan ke klinik, pasien tidak lagi masuk ke dalam klinik. Dokter hanya berdiri di depan klinik, mendengar keluhan dan memberikan resep. Tidak ada lagi pemeriksaan intensif. Pengalaman bertahun-tahun mendengar keluhan pasien yang itu-itu saja tentu memudahkan sang dokter untuk membuat resep tanpa harus menyentuh.

Di bank, semua orang nasabah akan menunggu di bawah tenda. Kursinya sudah diberi jarak sekitar satu meter. Kursi empuk di dalam bank pun sudah dibatas. Jika dulu satu sofa bisa diduduki empat orang, kali ini hanya bisa diduduki satu orang.

Di setiap kursi ditulisi dengan kata, “Social Distancing. Covid-19″ dengan ukuran besar-besar. Meskipun ada juga yang bandel tetap duduk. Biasanya satpam akan datang dan mengingatkan jika tempat yang bertulisan tidak boleh diduduki.

Lain di bank, lain pula di Rumah Sakit. Di sini memang tertulis jika tempat tersebut tidak boleh diduduki. Sejak Covid-19 melanda Aceh dan Rumah Sakit Pemerintah dijadikan RS Penanganan Corona, para perawat pun tensinya naik. Mungkin karena lelah dan terserang ketakutan pribadi.

Apapun alasannya, kejadian ini seperti menampar saya sebagai masyarakat biasa. Semakin jelas bahwa social distancing sudah ada sejak lama. Bukan saja karena Corona, tapi karena kita bukan siapa-siapa. Ini terjadi ketika mengantar keluarga untuk kontrol pasca operasi dan menebus kursi roda yang dijanjikan RS untuk keluarga saya.

Setelah membawa pasien ke ruangan, saya dipanggil untuk wawancara. Dibantu oleh seorang dokter Peserta Program Dokter Spesialis (PPDS) yang berpakain bebas dan membantu mengurusi berkas ini dan itu. Kami saling menatap beberapa kali. Saya tidak bisa mengenali wajah di balik masker itu. Kulitnya terang dan berminyak karena lelah.

“Ulfa, kan?” Tanyanya kemudian ketika kami berdiri di depan petugas administrasi yang menangani berkas untuk pengambilan kursi roda. Setelah dianalisa, kursi roda diganti dengan walker dengan alasan keluarga saya lebih butuh walker dibandingkan kursi roda.

“Iya, siapa, ya?” Tanya saya. Maklum saja, saya sulit mengenali orang dengan masker. Apalagi jarang-jarang bertemu seperti orang di depan saya.

“Lia,” katanya. Saya spontan menepuk lengannya sambi menyebut namanya. Detik selanjutnya kami langsung kaget bareng seperti tersengat listrik. Bukan karena tersetrum.

Di sebeang kami seorang perawat meneriaki, “Hei! Kalau ngomong ya ngomong saja. Tidak usah pegang-pegang! Kamu tidak tahu siapa orang yang kamu pegang dan kamu tidak steril!”

Sejujurnya saya sedh dibentak begitu. Kata-katanya membandingkan kelas sosial. Saya paham benar arah pembicaraannya. Saya sudah menyentuh calon dokter spesialis.

Saya memina maaf, meskipun harus mendengar ceramah panjangnya. Saya diam saja. Sepertinya teman saya tidak enak hati. Kami tidak bicara lagi sampai akhirnya dia memulai percakapan lagi di ruang telaah.

“Ulfa dosen di UIN?” Tanya Lia, saya pernah memberitahu dia tentang suami yang bekerja di Universitas Islam Negeri bergengsi di Banda Aceh ini.

“Bukan. Saya di Meulaboh. Kami LDR,” kata saya. Pandangan perawat yang tadi membentak saya berubah baik. Dia mendengar semua percakapan saya dengan Lia. Bahkan ruangan yang ditempati empat orang berubah seperti ruang kantor diskusi.

Si petugas mendadak baik. Dia memberi pengarahan kepada saya dengan lembut. Bahkan dia memberikan nomor hape kalau-kalau saya bingung harus mengambil bagaimana walker yang dijanjikan itu. Satu sisi saya berterima kasih kepada teman saya calon dokter spesialis paru. Satu sisi lagi saya merasa kesal dengan keadaan.

Sebelum Covid-19 pun status sosial sudah menciptakan jarak dengan tampilan luar. Cara berpakaian seseorang menentukan kedekatan jarak dalam kelas sosial. Profesi seseorang juga menciptakan jarak. Semuanya berjarak. Jadi, jika Covid-19 meminta setiap orang membuat jarak sepertinya bukan hal yang baru. Tanpa diminta pun, di dalam masyarakat sudah terbentuk social distancing.

Social distancing bukan saja untuk memutus mata rantai paparan virus. Social distancing terjadi sejak bertahun-tahun lamanya sejak manusia mengenal kelas sosial.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *