"You are Connecting To My Words"

[PNH 1] Menulis Naskah Humas dan Menulis Kreatif

[PNH 1] Menulis Naskah Humas dan Menulis Kreatif

Hubungan masyarakat atau lebih dikenal dengan humas merupakan bagian terpenting dalam sebuah lembaga atau perusahaan. Kerennya, di bagian perusahaan lebih dikenal dengan sebutan public relation. Sementara di instansi saja akrab dengan sebutan humas. Apa yang dikerjakan oleh humas terkadang hampir sama dengan apa yang dikerjakan oleh jurnalis.

Pengertian Humas

Secara umum, humas adalah usaha untuk membangun dan mempertahankan reputasi organisasi dan masyarakat. Tugasnya mempertahankan reputasi, citra, dan komunikasi yang baik bermanfaat untuk lembaga tertentu. Gagal atau sukses sebuah lembaga tergantung sekali pada humasnya.

Ibaratnya sebuah toko atau swalayan, humas ini seperti pramuniaga atau sales dari toko tersebut. Untuk apa? Untuk menarik dan memberi dukungan penuh kepada pelanggan agar bersedia membeli atau tertarik dengan produk yang ditawarkan oleh si pramuniaga.

Lalu, apa kaitannya humas dengan penulisan naskah? Bukankah menulis itu semata-mata kinerjanya wartawan?

Salah satu tugas pokok dan fungsi humas harus menulis untuk membangun citra lembaganya. Tidak heran jika banyak perusahaan besar atau lembaga besar memang memperkejakan humas atau PR yang kompeten dalam menulis. Fungsinya untuk membangun citra dan memberi keuntungan besar untuk kebaikan lembaga tersebut. Selain itu, humas juga berfungsi mengklarifikasi segala hal berkaitan dengan masalah intern lembaga yang keluar ke publik. Artikel-artikel yang ditulis oleh tenaga humas dan dibagikan ke publik disebut naskah humas.

Naskah humas disebut juga PR Writing, khususnya di perusahaan-perusahaan karena mereka menggunakan istilah public relation untuk menyebut kata humas.

Apa sih yang ditulis oleh humas?

Dalam menjalankan tugasnya sebagai tenaga humas, ia berkewajiban untuk membangun hubungan dengan media. Salah satu caranya dengan menulis artikel berupa naskah berita, feature, atau artikel yang dipublikasikan di media internal mereka. Biasanya setiap lembaga humas memiliki media internal untuk membangun citra di masyarakat.

Selain menulis untuk media internal, humas juga harus piawai menulis naskah Press release, dan adventorial. Adventorial (adv) ditulis dalam bentuk berita, artikel, atau feature. Khusus untuk adventorial yang dipublikasikan di media massa, biasanya akan diberi kode adv.

Jadi, kemampuan dasar seorang humas yang wajib adalah writing skill. Di perusahaan besar misalnya, kewajiban utama seorang humas adalah menulis. Di samping ia harus memiliki keahlian lain yang mendukung seperti negosiasi, fotografi, dan lain-lain.

Penulisan Kreatif

Dalam dunia kepenulisan, kita juga mengenal istilah penulisan kreatif. Penulisan kreatif berbeda dengan penulisan humas. Menulis kreatif bisa dengan cara apa saja dan tema apa saja tanpa terbeban dengan aturan tertentu.

Menulis kreatif adalah proses mengembangkan ide atau gagasan menjadi tulisan yang menarik. Menulis kreatif ini berasal dari pikiran-pikiran kreatif yang berkembang dalam proses brainstorming. Misalnya, ketika Anda sedang melihat tiga buah benda. Maka ada pikiran tertentu yang menyeret kita untuk berpikir kreatif.

Bayangkan di sekitar kita ada beberapa benda, sebut saja buku, kursi, dan papan tulis. Ketiga benda ini akan membentuk ribuan cerita yang berbeda untuk setiap orang. Tergantung kepada daya imajinasi seseorang.

Dalam menulis kreatif, tiga benda ini harus dibuatkan menjadi gagasan dan tulisan yang menarik untuk pembaca. Menulis kreatif identik dengan artikel ringan atau cerpen dan novel. Untuk menulis artikel misalnya, tiga benda tersebut bisa dideskripsikan dalam beberapa paragraf.

Aku masih duduk di kursi merah menghadap papan tulis ketika jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Dosen belum masuk, papan tulis masih kosong. Biasanya pada pukul delapan tepat, dosen yang mengajar mata kuliah Penulisan Naskah Humas sudah duduk di dekat papan tulis memberi materi. Pertemuan hari ini buku tulisku kosong. Tidak ada yang aku catat selain tanggal dan pertemuan ketiga yang harusnya menarik.

Tulisan di atas adalah narasi deskriptif yang ditulis dengan penulisan kreatif. Melibatkan tiga kata utama, mengembangkan menjadi kalimat untuk membangun paragraf.

Bedanya dengan penulisan naskah humas apa?

Sederhananya, naskah humas ditulis dengan serius. Dipikirkan yang baik-baik saja. Iya, dong. Kan naskah humas untuk membangun citra perusahaan atau lembaga. Sedangkan menulis kreatif sifatnya lebih ringan. Ini sejenis artikel sangat ringan yang mudah dipahami oleh siapa saja. Terutama berkaitan dengan cerita yang umum dilakukan atau dialami oleh pembaca. Pembaca tidak perlu berpikir rumit ketika membacanya.

Kaitan Penulisan Naskah Humas dengan Penulisan Artikel

Syarat utama mampu menulis naskah humas adalah mampu menulis artikel. Artikel adalah tulisan yang berisi pendapat, ide, dan fakta yang ditulis dengan tujuan berbagi informasi, mengedukasi, mengkritik, dan dipublikasikan di media massa. Artikel ini harus dipublikasikan. Jika ide dan gagasan ini tidak dipublikasikan, artinya ini bukan artikel, tapi catatan harian.

Artikel bisa ditulis oleh siapa saja. Termasuk orang yang tidak memiliki pengakuan sebagai wartawan atau tenaga humas. Sementara naskah humas memang ditulis khusus oleh tenaga humas. Biasanya berisikan informasi yang berkaitan dengan lembaga yang menaunginya.

Tenaga humas harus memiliki kemampuan jurnalistik untuk menulis artikel. Berbeda dengan orang yang menulis kreatif, dia tidak perlu memiliki kemampuan jurnalistik.

Kemampuan jurnalistik yang wajib dimiliki oleh seorang tenaga humas adalah memahami dan peka terhadap news value, mengerti bahasa jurnalistik, dan memahami kode etik jurnalitik. Ketiga hal ini keharusan yang dipahami oleh tenaga humas, tapi tidak untuk penulis kreatif.

Perbedaan Penulisan Naskah Humas dan Creative Writing

Naskah humas (PR Writing) memiliki dua ciri yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Berkaitan dengan media relation/press relation. Di atas sudah disebutkan jenis artikel yang digunakan untuk humas, yaitu press release, adventorial, dan konferensi pers.
  2. Berkaitan dengan media promosi, informasi, dan komunikasi perusahaan atau lembaga. Naskah yang berkaitan akan dipublikasikan di media internal miliki lembaga atau perusahaan.

Jelas sekali jika naskah humas ditulis dengan memikirkan tujuan. Tidak sembarangan ditulis. Sedangkan menulis kreatif ini sebuah teknik tidak biasa. Ada inovasi dan kreatif di dalamnya.

Menulis kreatif menekankan para penulisan dengan menggunakan narasi, ada pengembangan tokoh, bisa diselipkan opini, gaya bahasa yang digunakan pun tidak formal. Bebas.

Jenis tulisan yang termasuk creative writing adalah jurnal, diari, esai, storytelling, puisi, memoir, naskah, lagu, blog, dan lain-lain.

Apakah ada tulisan yang tidak menggunakan teknik creative writing? Ada. Perbedaannya bisa dilihat sebagai berikut:

Tulisan Kreatif: novel, puisi, epik, cerpen, naskah drama, skenario, naskah iklan, dongeng, dll.

Tulisan non kreatif: karya tulis ilmiah (tulisan akademis), buku teks, jurnalisme, dan tulisan teknis.

Pada dasarnya, kita semua memiliki kekuatan menulis kreatif. Namun sering kali ide kreatif yang keluar dalam pikiran terbelenggu dengan perlawanan pikiran non kreatif. Sering kali penulis takut mengutaran gagasannya dengan alasan “takut nggak bagus”, padahal dengan menulis dan menyelesaikan tulisannya, seseorang sudah memulai menulis kreatif.

Disampaikan pada kuliah daring ‘Penulisan Naskah Humas’ pada hari Jum’at, 27 Maret 2020.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *