Bibliolive

Finn; Mengobati Luka Ke Balikpapan

Adakah yang suka membaca karya kak Honey Dee? Bisa dikatakan, ini karya keempat kak Honey Dee yang saya baca. Menarik dan selalu memberikan tema berbeda.

Inilah yang membuat saya selalu tertarik untuk membaca karya @honeydee1710 setiap waktu. Ada rasa penasaran, kali ini tentang apa, ya?!

Sebelum saya memulai postingan pertama, ucapan terima kasih untuk kak @rizkymirgawati yang menjadi penghubung antara saya, Finn, dan kak @honeydee1710 di review kali ini.

Sebelumnya kamu pasti sudah membaca ulasan Finn dari para kakak-kakak bookstagrammer, kan?! Hari ini versi saya dimulai.

QOTD: Seberapa menarik sih tema yang dipilih oleh kak Honey Dee?

Bisa dikatakan sangat menarik. Selalu ada tema baru tak biasa. Begitupun dengan Finn. Bahkan untuk blurb saja bisa membuat kepikiran jika tidak segera masuk wishlist. Nggak percaya? Coba baca blurb berikut ini.

Sejak kematian Arthur, kehidupan Liz dan keluarganya seolah ikut mati. Tak ada lagi kehangatan maupun kebahagiaan. Muak dengan kehidupannya, Liz merencanakan pelarian menuju kebebasan.

Liz berkenalan dengan Andika Gautama, kakak dari seorang remaja autisme. Perkenalan itu membawa Liz ke balik papan, tempat ia menyanggupi untuk bekerja sebagai terapis Finn, adik Andika.

Bagi Andika, Liz tidak hanya memenuhi semua kriteria terapis Finn, tetapi juga mengisi ruang kosong di hatinya. Bagi Finn, Liz adalah harapan setelah dunianya hilang saat kematian ibunya. Dab, bagi Liz, Andika dan Finn adalah kunci mendapatkan uang demi kehidupan baru dan memaafkan diri sendiri atas kematian Arthur.

Masing-masing berjuang menyembuhkan diri dari luka. Namun, jika tiga tragedi ini bersatu, akankah ada keajaiban atau justru lebih banyak musibah terjadi pada mereka?

Judul Buku: Finn • Penulis: Honey Dee • Penerbit: Gramedia (Jakarta: 2019) • Tebal: 312 hal • ISBN: 976-6020-634-86-9

[*_*]

Sejak berkenalan dengan Honey Dee, saya menemukan kesamaan penulis dalam menciptalan tokoh novelnya. Perbedaan yang terasa antar tokoh.

Ada dua kekuatan karakter yang menghidupkan Finn. Andika dan Liz. Keduanya diciptakan bertolak belakang, persis seperti ilustrasi sampul.

Sisi paling main hati yang saya serap dalam penciptaan kedua tokoh ini adalah soal perasaan. Andika terlalu lembut sejak bundanya meninggal. Itu pula kenapa dia bela-belain buat pengumuman di Facebook cari tetapis untuk adiknya.

Liz terlalu dingin. Sejak keperhian adiknya dia bukan lagi sosok yang hangat.

Bisa dibayangkan bagaimana dua karakter ini bertemu dalam Finn.

Seringnya saya mendapat buku dengan judul 1 kata mengantar imajinasi berkelana. Buku dengan 1 kata lebih membuat penasaran karena menyimpan misteri di balik judul tersebut. Apalagi jika ini berkaitan dengan nama orang.

Saya sempat bingung juga. Finn, nama orang atau kota? Ternyata nama orang. Novel ini benar-benar mengulik Finn meskipun intrik yang dibahas juga berkelabat di sekitar Finn, ada Andika dan Liz. Yes, ini metropop. Sisi romansa tetap dimunculkan meski isu utama bukan cinta-cintaan.

Finn, seperti anak berkebutuhan khusus yang saya lihat. Diperlakukan tidak baik, bahkan oleh keluarga sendiri. Dia juga dianggap gila oleh ayahnya sendiri. Hellowww, gila dan autis itu berbeda, om!

Uniknya, Finn tidak berlatar tempat di Jakarta. Nuansa daerah lebih terasa. Ini berlatar belakang di Balikpapan. Jadi, kehidupan Finn sebagai anak istimewa lebih terasa. Di daerah memang masih sedikit orang tua yang sadar dan peduli soal beginian.

Ekspektasi orang setiap membaca berbeda-beda. Begitu juga saya. Ada harapan besar setiap saya menamatkan satu novel.

Dari Finn saya berharap ada yang baru tentang pengetahuan saya membaca. Salah satunya cara menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan anak autis ini. Ternyata saya salah tempat. Ini bukan buku non fiksi. Ini metropop, lho. Bahkan yang saya dapatkan bukan tip and trik. Lebih dari itu, saya mendapatkan makna hidup.

Makna yang dalam tentang arti sebuah pengorbanan, memaafkan, berdamai dengan diri sendiri, dan juga membuka hati terhadap orang-orang yang peduli. Hal-hal yang dianggap biasa akan menjadi luar biasa ketika diramu oleh orang yang benar memahami masalahnya.

Pertanyaan ini memang agak mainstream untuk dijawab. Namun saya yakin setiap pembaca memiliki jawaban berbeda setelah membaca novel ini. Begitu saya. Kelebihan yang saya dapatkan dari novel ini adalah:

💦 Tema anti mainstream. Seperti saya bahas sebelumnya, jika kisah percintaan antara lelaki dan perempuan itu biasa. Ia menjadi berbeda karena dibalut dengan kisah yang lain, misal autisme.

💦 Novel ini juga tepat buat mereka yang bosan dengan setting ibukota atau cerita dengan lokasi di Pulau Jawa. Ini di Kalimantan, lho.

💦 Ilustrasinya cantik bingits. Apalagi bagian dalamnya. Haduh, saya semakin happy karena mendapatkan versi tanda tangan kak @honeydee1710 lho. Dulu, tuh, dapat buku edisi bertanda tangan kan impian banget.

💦 Nilai moral yang menyentuh dibalut dengan kalimat motivasi. Quote yang menarik sekali. Saya suka. Saya suka.

💦 Bukan penulis amatir. Jika khawatir membaca buku ini karena merasa ini buku penulis pemula, simpan jauh-jauh pikiran ini, sudah ada beberapa karya kak @honeydee1710 di toko buku dan platform online.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *