Oliversity

Saya, China, dan Corona (Part 2)

Banyak orang bertanya, “Kenapa memilih kuliah ke China? Apa hebatnya China? Bukankah lebih baik kuliah ke Malaysia?”

Pertanyaan seperti ini kerap saya terima dan membuka peluang perdebatan. Ada yang menganggap saya pengikut paham komunis sampai dikatai perempuan yang tidak mengerti agama. Di awal saya kuliah ke Beijing, banyak pertanyaan yang membuat sentimen. Memberi penjelasan berulang dan berakhir perdebatan. Sampai akhirnya saya sadar sendiri, orang yang bertanya tidak pernah berniat benar-benar bertanya. Mereka bertanya bukan juga karena peduli. Mereka yang bertanya hanya mencari kelemahan dan memancing emosi.

Tahun kedua, saya sedikit lebih ‘cerdas’ dalam menjawab. Jika pertanyaan yang sama diajukan, ada jawaban yang saya lontarkan dan selalu berhasil membungkam mereka yang berniat mendebat.

“Bukan saya yang memilih China, tapi China yang memilih saya. Bagaimana, ya? Orang yang dipilih berarti posisinya sangat dibutuhkan,” begitu saja jawaban saya. Biasanya jawaban ini akan mengakhiri semua perdebatan tentang Saya dan China.

Saya pun tidak mengerti apa yang menarik dari China. Perfilman China selama ini hanya saya kenal sebatas Kung Fu dan drama kolosal. Satu-satunya komik yang menarik perhatian saya tentang China berjudul The Return of Condor Heroes. Pertama kali saya baca di rumah paman. Saya baca ketika masih duduk di bangku Tsanawiyah. Komik ini bercerita tentang kungfu juga. Namun selipan pengobatan China dan kebijaksanaan Konfusius yang menarik. Ini pun tidak ada kaitannya dengan ketertarikan saya ke China.

Saat menginjakkan kaki ke Kota Beijing, ibukota negeri tirai bambu ini, hal yang pertama yang saya serap adalah soal penerimaan. Saya merasa penduduk Beijing terlalu serius, kaku, dan apatis. Pernah beberapa kali saya melihat kejadian di depan mata, namun tidak ada yang menolong. Hal yang sama pernah saya alami sendiri ketika saya berada di kantin di musim dingin.

Saya bersama teman saya dari Indonesia. Usianya masih 17 tahun, usia kami bertaut sepuluh tahun. Saya tidak makan, hanya menemaninya makan. Kantin ini pun bukan kantin muslim. Jadi, saya tidak berani makan sembarangan. Semester pertama di Beijing, saya masih beradaptasi soal makanan. Soal makanan saya lebih lambat dalam adaptasi. Perkembangan adaptasi perut saya trafficnya sama seperti kemampuan bebahasa mandarin saya. Mampu baca dan lafal, barulah saya aman mengatasi keroncongan.

Waktu itu kantin penuh. Jam makan malam. Di Beijing, orang lokal makan lebih cepat dari orang Indonesia. Pukul lima sampa tujuh sore adalah jadwal makan malam. Datanglah ke kantin jam enam lewat, tidak ada menu yang tersisa lagi. Maka memilih ke kantin jam lima sore adalah waktu ideal dan tepat untuk menikmati makan malam. Makan di kantin atau dabao (bungkus bawa pulang). Saya lebih sering dabao, makannya jam delapan malam. Sesuai dengan jadwal perut orang Aceh memanggil. Mungkin ini pula faktor penyebab orang China bertubuh langsing. Mereka tidak makan lagi lewat jam enam sore.

Kami duduk di dekat pintu. Kursi panjang yang saya tempati agak goyang. Lantai licin. Saya berkata pada si adik, “Ini kursinya goyang, lho.”

Dia menjawab, “Santai saja, kak. Nggak akan jatuh, kok.”

Beberapa detik setelah dia berkata seperti itu, ada sesuatu yang meluncur diikuti dengan suara yang luar biasa keras. Suara yang melebah di sekeliling hilang. Senyap seketika. Tidak ada yang bergerak. Namun semua kepala berpaling ke arah pintu. Saya baru menyadari di detik berikutnya. Posisi saya tidak lagi di bangku panjang. Saya terjerembab jatuh dengan posisi bangku terbalik. Saya berada di bawah meja dengan posisi terlentang.

Tidak ada seorang pun yang membantu saya bangun. Bahkan si adik yang saya temani makan hanya berkata, “Ya ampun, kak. Malu-maluin banget. Bangun, deh, cepetan!”

Susah payah saya bangun. Badan terasa remuk. Bahkan saya curigai gegar otak. Orang-orang kembali subuk dengan obrolannya. Tidak ada yang bertanya apapun. Mungkin ada yang diam-diam merekam dan membagikan ke WeChat atau Weibo, jejaring sosial sejenis Whatapps dan Twitter di China.

Setelah si adik makan, kami keluar kantin. Saya tertatih menahan sakit. Kepala juga agak pusing. Di depan pintu, seorang ayi (bibi) cleaning service menyentuh saya. Ia berkata dalam bahasa mandarin yang diterjemahkan oleh si adik.

“Si ayi tanya, sakitnya di mana?” Terjemahannya begitu.

Zhe ge (di sini),”saya menunjuk bagian lengan kanan. Sebulan di Beijing, bahasa yang saya kuasai baru sebatas nihao, zhege zhege, dui, dan duibuqi.

“Kata si ayi, dia bisa bantu ngobatin kakak. Sejenis diurut gitu, kak. Kalau kaka mau, kasih aja tangannya sama si ayi,” si adik menjelaskan lagi. Saya mengangguk dan memberikan lengan saya pada perempuan tua itu.

Dia menyentuh tangan saya dengan mulut komat kamit. Persis seperti sedang berada di Aceh. Dikusuk bagian yang sakit. Kemudian sembuh. Ayi yang mengobati saya sama juga, ia berhasil membuat saya merasa nyaman dengan sakit saya.

Ayi berbicara dalam bahasa mandarin. Ia menyuruh saya membalurkan sesuatu pada tangan. Si adik menerjemahkan dengan bahasa Indonesia yang tanggung, “Aku nggak tahu bahasa Indonya apa, kak. Si ayi  bilang kakak taruh rouguo  di tangannya. Aduh, rouguo apaan, sih, bahasa Indonya.”

Sampai di kamar saya mencari tahu apa arti rouguo. Sayangnya, saya tidak bisa menemukan arti kata ini. Pengucapannya roukuo, sehingga amat susah melakukan pencarian dengan kamus. Bahkan ketiga saya bertanya pada teman dan dosen saya. Mereka pun bingung menjelaskan pada saya. Pasalnya saya menanyakan kata rouguo dengan nada yang salah.

Rouguo diucapkan dengan nama keempat dan ketiga yang berarti buah pala. Buah pala telah digunakan sebagai pengobatan tradisional China sejak zaman dahulu kala. Ketika orang-orang di daratan China mengenal peradaban.

Arti kata ini saya ketahui ketika iseng mencari bahasa mandari buah pala. Awalnya saya iseng mengetik kata nutmeg di google. Ketika muncul kata rouguo, jangan tanya betapa senang hati ini. Kata tersebut saya tulis lengkap dengan aksara, pinyin, dan terjemhan dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Saya tempel di buku binder. Kejadian ini salah satu motivasi saya belajar bahasa mandarin. Banyak obat-obatan yang berasal dari dapur, tapi kita tidak tahu cara pengucapannya.

Kejadian di kantin juga mengajarkan saya lebih hati-hati dalam bertindak. Terutama ketika menggunakan tempat umum. Jangan sampai terjatuh jika tidak siap berdiri sendiri. Tidak akan ada yang membantu berdiri. Kejadian itu merupakan pengalaman hidup bersosial  pertama yang saya dapatkan ketika berada di Beijing.

Apakah tidak ada orang baik di Beijing?

Banyak. Ya, banyak sekali.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *