Bibliolive

Alfian Ibrahim; Sosok Ayah di Balik Kelahiran UTU

“Jangan takut salah, karena dengan kesalahan kita belajar arti kerja keras dan kebenaran.” -Alfian Ibrahim.

Kalimat di atas merupakan inti dari keseluruhan dari isi buku biografi Alfian Ibrahim, salah seorang tokoh pendidikan di Barat Selatan Aceh. Pengabdian dan cintanya untuk negeri dituangkan dalam bentuk perjuangan.

Alfian Ibrahim, begitulah nama yang baru saya kenal melalui buku yang ditulis oleh Mellyan. Sosok yang ditulis oleh penulis asal Aceh Barat ini mungkin tidak sepopuler tokoh pendidikan lain sekelas nasional. Namun, melalui buku ini pembaca diperkenalkan dan diajak berkenalan dengan hangat untuk dekat dengan sosok ‘Ayah’, sapaan akrab untuk Alfian Ibrahim.

Tidak seperti kebanyakan buku biografi yang ditulis dan beredar di pasaran, penulis tidak memaksakan diri untuk menyodorkan tokoh yang ditulis kepada publik. Penulis mengenalkan Alfian Ibrahim perlahan, mulai dari masa kecil, masa remaja, dan menajamkan kiprahnya dengan tegas melalui bab perbab. Sehingga, ketika pembaca awam yang tidak mengenal sosok ayah ini juga berkenalan dengan Alfian Ibrahim dengan ramah.

Dimulai dengan kehidupan dan perjuangannya menempuh pendidikan, penulis bercerita dan mengajak pembaca dengan cerdas memahami polemik dunia pendidikan di Aceh pada masa sulit. Bahkan seorang Alfian Ibrahim pernah bekerja di percetakan sahabatnya. Pada bab ini, pembaca diajak berkenala dengan tokoh-tokoh pendidikan Aceh yang gaungnya tidak diragukan lagi.

Jika pembaca mengenal nama Dayan Dawood, maka sosok Alfian Ibrahim seperti cermin dari sahabat tokoh ini. Beristrikan Diwana Dawood yang merupakan adik kandung sahabatnya, Alfian Ibrahim melewati kehidupan akademik yang penuh perjuangan. Banyak pesan moral yang disampaikan oleh penulis kepada pembaca dalam setiap halaman.

Buku ini ditulis melalui tahapan wawancara yang mendalam. Banyak tokoh dan orang dekat Alfian Ibrahim diwawancara oleh penulis untuk melengkapi data. Setiap bab pun diramu dengan uraian mendalam tentang perjuangan dalam mendirikan kampus negeri di Aceh Barat, salah satu kampus negeri untuk masyarakat di wilayah Barat Selatan Aceh.

Bosan?

Tentu saja tidak. Penulis terbiasa menulis feature yang khas dengan teknik narasi. Sehingga membaca biografi ini bab perbab terasa diajak untuk bertemu Alfian Ibrahim secara nyata. Cara penulis membuka bab baru juga tidak mainstream seperti kebanyakan buku non fiksi. Penulis membuka setiap bab dengan quotation, puisi, dan nilai moral utama dari setiap kisah. Inilah yang membuat posisi buku biografi ini seperti membaca buku motivasi.

Biografi ini semakin terasa nikmatnya karena ditulis dan dieditori oleh pasangan suami istri. Poin yang begitu menyentuh sangat terasa di bagian perjuangan pasangan suami istri yang harus berjauhan karena penelitian. Saat itu dikisahkan Diwana baru melahirkan. Alfian Ibrahim harus berangkat ke Aceh Selatan untuk melakukan penelitian. Ketika kembali ke rumah, anak mereka sudah meninggal.

Sebagai pembaca, hati saya dipenuhi gejolak dan perasaan campur aduk. Bagian yang berat untuk sang tokoh dapat dirasakan oleh pembaca. Penulisan dan penyuntingan yang melibatkan emosi memainkan peran cukup kuat ketika sampai di tangan pembaca.

Sebagai tokoh masyarakat di dunia pendidikan, bukti fisik berupa lampiran memenuhi kriteria sang tokoh untuk diakui publik. Bahkan kampus Unversitas Teuku Umar (UTU) yang berdiri megah di tengah hutan Alue Peunyareng mengingatkan semua orang pada rektor pertama ini.

Namun, tetap saja di balik kelebihan biografi ini yang enak dibaca ada kekurangan yang layaknya dibenah oleh penerbit dan penulis. Secara pribadi, saya tidak menemukan keburukan yang menyebabkan cacatnya biografi ini. Biografi ini akan lebih menarik jika bagian foto dicetak dengan kertas lux dan berwarna. Nyawanya sang tokoh dari masa lalu lebih dirasa lagi ketika sampai di tangan pembaca.

Setelah menamatkan versi perjuangan sang tokoh, saya tertarik mengetahui kisah hidup Alfian dan the heroes di balik suksesnya rektor sederhana Aceh Barat. Semoga penulis tertarik menelusuri dan menuliskan kembali masa kecil hingga dewasa sang tokoh.

Buku ini direkomendasikan untuk semua pembaca, khususnya yang ingin mengetahui perkembangan pendidikan di daerah. Bahwasanya tidak akan pernah maju sebuah daerah tanpa putr daerah sendiri yang memperjuangkan setiap lini, khususnya di bidang pendidikan.

Ada beberapa nilai moral yang tercatat dari buku ini. Sebagai inspirator pendidikan, Alfian Ibrahim mewariskan beberapa hal melalui tangan dingin sang penulis:
💕 Setiap perjuangan memang ada yang akan dikorbankan. Baik kita yang mengorbankan atau kondisi mengambil korban.
💕 Memperjuangkan pendidikan untuk orang banyak lebih berarti daripada menumpuk gelar tapi tidak bermanfaat untuk orang lain.
💕 Menjadi baik bukan untuk dilihat. Menjadi baik adalah panggilan jiwa yang harus diikuti begitu hati terketuk.
💕 Seseorang yang berkarakter tidak pernah menobatkan dirinya sebagai pahlawan, tapi masyarakat yang menyebutnya pahlawan.

Judul Buku: Alfian Ibrahim; Perjuangan, Pengabdian, dan Cinta Untuk Aceh [] Penulis: Mellyan [] Penerbit: Bandar Publishing (Banda Aceh, 2017) [] Tebal: xxvi+292 halaman [] ISBN: 978-602-5440-05-2

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *