"You are Connecting To My Words"

5 Tantangan Book Blogger Zaman Now; Bukan Sekedar Kompetisi Baca Buku

5 Tantangan Book Blogger Zaman Now; Bukan Sekedar Kompetisi Baca Buku

Menjadi book blogger bukan saja berbicara soal passion suka membaca buku dan menulis resensi. Ya, jika itu saja, saya rasa saat ini saya sudah hidup damai dengan buku-buku saya. Meskipun banyak yang menganggap bahwa baca buku adalah kesanangan, jangan bawa beban. Santai saja.

Memasuki dunia book blogger berarti sudah memutuskan menjadi bagian komunitas yang tidak terlepas dari kompetisi. Meskipun kompetisi dengan diri sendiri yang tidak habis-habisnya. Seorang book blogger harus membuat inovasi sendiri dalam melakukan aktivitas di dunia blogging. Memang tidak sesulit dunia bisnis, tapi dunia book blogger pun saat ini sangat menjanjikan untuk menghemat budget beli buku.

Beberapa hal yang menjadi tantangan di dunia book blogger juga mencatat aktivitas para blogger yang notabene memang pecinta berat buku untuk memanfaatkan teknologi dan mengikuti perkembangan di dunia book blogger. Sebut saja dari dunia sosial media sampai reading challenge yang digagas oleh sebuah komunitas.

Bookstagram

Kebanyakan book blogger saat ini mau tidak mau memang bersentuhan dengan sosial media yang satu ini. Aktif di Instagram dengan membangun komunitas sendiri. Ada beberapa aktivitas book blogger di Instagram yang isa diikuti. Beberapa diantaranya memang rutin melakukan pertemuan untuk diskusi, ngobrol-ngobrol bahkan membuat konten YouTube yang disebut BookTuber. Book blogger yang aktif membagikan bacaannya di Instagram sendiri dinamakan bookstagram.

Tuntutan Skill

Selain memiliki kemauan dan skill menulis, seorang book blogger masa kini dituntut memiliki ide lebih dalam improvisasi buku bacaannya. Book photography, keahlian memotret buku agar terlihat apik ketika dibagikan ke sosial media seperti Instagram atau blog. Banyak book blogger yang awalnya tidak peduli dengan ‘tuntutan’ sosial ini akhirnya juga menyerah dengan keadaan dan memilih belajar memotret lebih baik. Saya memperhatikan, banyak bookstagrammer yang skill memotretnya meningkat seiring jam terbangnya di sosial media yang ngehits ini.

Give Away dan Book Tour

Bagi book blogger atau bookstagrammer, tentu saja give away dan book tour bukan istilah yang asing. Keduanya adalah pencapai yang diraih oleh seseorang dalam meniti karir sebagai book blogger. Terutama jika book blogger tersebut terpilih menjadi host alias seseorang yang diberikan kepercayaan untuk membuka give away atau melakukan book tour. Pada awal saya mememutuskan kembali sebagai book blogger dan aktif sebagai bookstagram, saya merasakan keuntungan luar biasa hemat banyak budget beli buku. Terlebih lagi kesempatan saya membaca buku baru dan bagus memang luar biasa menyenangkan.

Tantangan book blogger yang paling berat bagi saya adalah menjadi host book tour. Bukan perkara kemampuan, memutuskan menjadi book blogger tentu harus siap menulis dan membaca kapan saja sesuai dengan permintaan. Tantangan paling berat bagi saya soal membagi waktu membaca dan jaringan internet. Cara efektif yang saya bagikan pada postingan lalu tentang membaca seringkali tidak sinkron dengan kondisi jaringan internet di domisili saya yang baru.

Buku Bagus VS Buku Buruk

Memang tidak ada masalah mengungkapkan kejujuran dari buku yang baik dan buruk. Namanya resensi, tentu harus jujur mengungkapkan kelebihan dan kelemahan sebuah buku. Ulasan jujur sebenarnya membantu dan menjadi masukan untuk penulis. Namun, tidak semua penulis dapat menerimanya dengan lapang dada. Tidak semua book blogger juga mampu mengungkapkan kejujuran dengan tidak menyakiti atau hanya penulis dan dia yang paham. Kebanyakan hubungan book blogger dengan penulis berakhir tidak syahdu.

Bukan sedikit book blogger yang menerima buku tidak bagus. Bahkan penulis yang sudah punya nama besar di pasaran pun pernah menulis buku dengan kualitas yang tidak biasanya. Ketika diulas, penulis tersebut juga tidak merasa nyaman dengan review jujur si penulis.

Kompetisi

Diakui atau tidak, di dunia para pecinta buku pun ada persaingan. Kompetisi ini memang tidak terang-terangan terjadi di kalangan book blogger saat ini. Namun, semakin lama berada di komunitas kita semakin menyadari adanya kompetisi. Berbagai macam kompetisi biasanya muncul dari gesekan dan perbincangan di grup percakapan.

Seorang teman yang juga book blogger juga mengungkapkan bahwa dia tidak berminat untuk bergabung dalam komunitas apapun karena alasan ini. Menghindari persaingan dan gesekan tidak penting dalam grup. Terlepas dia menerima banyak ‘job’ dan tetap melakukan tugasnya sebagai book blogger. Menurutnya, menjadi book blogger adalah kesenangan. Bukan semata-mata membuka peluang pertemanan dan memberi kesempatan untuk dimusuhi.

Saya setuju dengan pernyataan salah seorang book blogger ini. Namun, sebagai seseorang yang sudah masuk ke komunitas book blogger, apakah kita bisa menghindari berbagai tantangan dan peluang yang datang? Jawaban ada pada personal kita masing-masing. Menghadapi tantangan atau jalan di tempat.



3 thoughts on “5 Tantangan Book Blogger Zaman Now; Bukan Sekedar Kompetisi Baca Buku”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *