"You are Connecting To My Words"

Pojok Literasi, Perlukah?!

Pojok Literasi, Perlukah?!

Belakangan ini, kampanye literasi mulai gencar dibicarakan. Mulai dimasukkan dalam program ekstrakulikuler sekolah sampai dimaksimalkan dalam bagian aktivitas atau program perpustakaan lokal. Bahkan pojok literasi merupakan bagian dari program kerja duta baca di setiap provinsi. Sebenarnya, apa sih pentingnya pojok literasi saat ini?

Sebagai pengamat dunia literasi dan pecinta buku yang sudah over, saya tidak melihat banyak perkembangan yang terjadi di dunia literasi yang digalakkan oleh beberapa komunitas. Ya, kebanyakan memang semangat di awal pendirian pojok literasi saja. Kemudian perlahan hilang, vakum, dan dilupakan dengan berbagai macam alasan kesibukan sebagai pembenaran.

Beberapa sekolah memang memaksimalkan pojok literasi di sekolah mereka. Dibuat di sekolah, di kelas, bahkan dianggarkan dalam program khusus sebagai kekhasan sekolah. Minat baca meningkat? Kebanyakan tidak. Kebanyakan dari penggagas pojok literasi mengedepankan keinginan atau impian utama mereka dalam membangun dan mengembangkan pojok literasi.

Saya pernah juga memiliki impian membangun pojok literasi di rumah. Membuka ruang baca pribadi saya untuk umum. Kegiatan yang juga saya namai pojok literasi ini saya mulai ketika masih ngekos. Dua rak buku dengan berbagai koleksi saya mulai saya buka untuk umum. Bahkan pojok literasi ala saya juga menyediakan buku yang dipinjamkan untuk umum. Baik itu buku referensi kuliah yang berkaitan dengan ilmu sosial sampai novel dan nonfiksi lainnya. Semua peminjaman juga bisa dilakukan by request via SMS. Meskipun pojok literasi ini ruang lingkupnya belum besar.

Perjalanan pojok literasi selama satu semester tidak berjalan mulus. Bukan karena kekurangan peminat. Tentu saja, buku yang dipinjamkan ke publik banyak sekali. Mulai dari novel terjemahan yang harganya ratusan ribu sampai buku how to yang harganya sebandingkan seporsi ayam penyet. Masalahnya, kesadaran para peminjam di pojok literasi ini sangat minim.

Beberapa masalah muncul sangat signifikan. Permasalahannya mulai dari minat baca yang tidak ada. Buku yang dipinjam tidak dibaca. Buku-buku tersebut berakhir di tempat yang dilupakan oleh si peminjam. Sehingga ketika saya menagih buku tersebut untuk dipinjamkan ke orang lain, banyak buku yang lenyap entah dimana. Ada yang tidak bertanggung jawab meminjamkan buku tersebut ke orang lain tanpa izin saya sebagai pemilik pojok literasi Oliverial. Bahkan banyak pula buku yang rusak, hancur tak berbentuk. Lebih miris lagi, bukunya hilang.

Berbicara soal pojok literasi sebenarnya berbicara kesadaran dalam mencintai literasi itu sendiri. Jika sumber literasi saja sudah diabaikan, untuk apa pojok literasi? Pojok literasi berakhir dongeng manis sebuah instansi atau program kerja saja.

Belajar dari pengalaman, kita tidak butuh pojok literasi di tempat umum atau sebagai fasilitas publik. Minat baca tidak bisa dipaksa dengan kehadiran pojok literasi. Pojok literasi justru muncul dengan sendirinya dari peminat pojok literasi itu sendiri.



1 thought on “Pojok Literasi, Perlukah?!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *