"You are Connecting To My Words"

Virus Corona Serang Wuhan, Reaksi Saya Sebagai Beijinger…

Virus Corona Serang Wuhan, Reaksi Saya Sebagai Beijinger…

Wabah virus corona yang menyebar di kota Wuhan (Tiongkok) sangat menggelisahkan bagi hampir semua orang, khususnya bagi warga Aceh yang anaknya sedang berada di kota tersebut untuk menuntut ilmu. Pasalnya, sebagian besar mahasiswa Aceh yang berada di Tiongkok memang melanjutkan studi di Wuhan. Hanya beberapa orang tersebar di kota lain.

Sebagai alumni penerima beasiswa China Scholarship Council (CSC), penyebaran virus Corona di Wuhan juga sangat menggelisahkan. Beberapa teman yang alumni dari kampus di kota Wuhan juga tidak hentinya membagikan informasi terkini dari teman-teman di sana. Belum lagi grup mahasiswa Aceh Tiongkok di Wechat belakangan ramai. Saya yang sudah kembali ke Indonesia sejak tahun 2016 mau tidak mau deg degan juga. Virus Corona di Wuhan ini memang benar-benar mengganggu ketenangan semua orang di tanah air.

Beberapa media melansir bahwa penyebab virus Corona di Wuhan berasal dari makanan warga Tiongkok yang ekstrim. Memang bukan rahasia lagi jika jajanan di Tiongkok sangat aneh-aneh. Mulai dari jajanan yang wajar seperti belalang sampai yang tidak wajar seperti kelelawar. Nah, binatang liar seperti ini diduga dikonsumsi oleh warga Wuhan dan menyebabkan kematian melebihi kengerian virus SARS dan MERS yang sempat mewabah dulu. Penyebaran virus Corona di Wuhan semakin cepat juga disebabkan oleh makanan sejenis yang masih dikonsumsi oleh masyarakatnya.

Pertama kali informasi ini menyebar di media massa, saya masih bersikap biasa saja. Apalagi sekarang ini banyak sekali informasi negatif yang mengarah ke Tiongkok di Indonesia. Seolah-olah Tiongkok bukan saja perusak ekonomi Indonesia, perusak mental, dan lain-lain yang menyebabkan Indonesia kacau. Dulu pun, ketika saya masih berada di Beijing, informasi Tiongkok mengimpor beras plastik, telur ayam palsu, kubis lilin, dan macam-macam yang aneh lainnya cukup menghebohkan. Padahal negeri secanggih Cina pun belum menemukan cara untuk menciptakan makanan yang dibuat dari benda-benda plastik yang ddimasak dan pulen ketika masuk perut. Belum ada. Informasi sejenis ini malah menguntungkan negara Tiongkok sebagai negara dengan pertumbuhan dan kestabilan ekonomi terkuat dunia saat ini. Begitu pun dengan berita yang menghebohkan tanah air saat ini, virus Corona di Wuhan mulai gempar.

Sebagai alumni dari Tiongkok, saya terkejut sekaligus tidak terkejut dengan pemberitaan ini. Tidak terkejut, karena memang hal-hal aneh sering terjadi di sana. Namun mereka juga sigap da cepat menemukan solusinya. Meskipun sampai saat ini banyak yang berjatuhan korban, Tiongkok cukup cepat mengambil tindakan untuk warganyanya. Termasuk orang asing yang sudah menetap di sana. Para warga asing mulai ditutup akses untuk keluar masuk dari Tiongkok untuk meminimalisir penyebaran virus Corona.

Hal yang sama pernah saya lihat ketika masih berada di Beijing. Saat itu kasus Ebola yang menyebar di Afrika. Warga Afrika dari negara yang terserang wabah tidak dibiarkan masuk ke Tiongkok tanpa serangkaian tes. Warga Tiongkok yang melakukan perjalanan ke Afrika juga mengikuti serangkaian tes ketika kembali ke tanah air. Saya yang masih berinteraksi dengan teman-teman Afrika seperti negara Sierra Leone (salah satu negara yang terjangkit) alhamdulilllah aman-aman saja.

Masalah virus Corona di Wuhan ini tidak akan disikapi dengan diam oleh Tiongkok. Terutama sumber virusnya memang dari dalam negeri. Saya pikir, Tiongkok akan sangat sigap dalam mengatasinya. Di Tiongkok ada dua kelompok dokter, dokter pengobatan China dan modern. Keduanya tentu memiliki cara untuk mengatasi virus Corona di Wuhan dan wilayah lain yang sudah menyebar.

Geram dengan Sikap Netizen

Reaksi saya yang pertama adalah geram terhadap netizen. Memang benar ini bukan masalah kecil. Ini masalah serius. Bagi sebagia netizen yang anti ras Tionghoa menyebarkan informasi yang sifatnya hate speech. Seolah apa yang terjadi di negara tersebut adalah kutukan. Come on, netizen, be wise!

Pernahkah kita berpikir, ada ratusann bahkan ribuan orang tua yang saat ini khawatir dengan anak-anak mereka yang sedang menuntut ilmu di Kota Wuhan atau kota lain di Tiongkok sana. Sebaran informasi yang melebih-lebihkan dengan tujuan tertentu tidak menyelesaikan masalah. Informasi seperti ini akan menimbulkan masalah baru. Terutama bagi orang tua yang melepaskan anak mereka untuk melanjutkan pendidikan di sana. Bayangkan jika posisi kita di sana.

Fungsi Media to Educated

Salah satu fungsi media adalah untuk mencerdaskan pembacanya. Memberikan pemahaman yang sifatnya mendidik adalah satu fungsi media. Namun, seiring semakin banyaknya korban yang berjatuhan, hanya sedikit media yang menyeimbangkan antara to inform dan to educate. Salah satu cara mengurangi kepanikan warga Indonesia yang diprediksikan akan menjadi salah satu sasaran virus Corona di Wuhan adalah dengan cara memberi penegtahuan kepada mereka. Baru sedikit media yang memberi solusi bagaimana mengenali dan mengatasi gejala wal penyebaran virus corona.

Bijak Bersosial Media

Mungkin kita punya kenalan di Tiongkok sana, khususnya di Wuhan. Tentunya informasi terkait virus Corona di Wuhan sangat mudah didapatkan dari sumber utama. Informasi kesulitan dan mengerikan di sana tentu bukan hal asing yang akan kita dengar. Alangkah tidak bijaknya jika menscreenshot percakapan kemudian membagikan di sosial media. Alasan membagikan ke sosial media memang untuk berbagi informasi. Namun, hal-hal seperti ini akan mudah dicerna oleh orang dari lingkaran-lingkaran tertentu dangan maksud dan konteks yang berbeda. Lagipula psikologis dan problem solving setiap narasumber kan berbeda-beda. Saring sebelum sharing akan jauh lebih bijak.

Khawatir Itu Pasti

Meskipun sudah jauh dari Tiongkok dan niat kembali ke sana masih di awang-awang, saya akui jika saya sangat khawatir. Khawatir dengan teman-teman yang masih melanjutkan studi di sana. Khawatir juga dengan nasib mereka yang katanya tidak bisa keluar ataupun masuk kembali ke Tiongkok, khususnya ke Wuhan. Bagaimana dengan hidup mereka di sana yang tidak bisa dikatakan mudah. Sebagai bentuk dukungan moral, banyak hal yang bisa dilakukan.

Prihatin Itu Jelas

Berbagai cara bisa dilakukan untuk menunjukkan rasa prihatin. Baik dengan memberi dukungan moral dengan menjaga percakapan dan update informasi dengan teman-teman di Tiongkok atau dengan cara lain. Saat ini mereka kekurangan makanan. Jika memungkinkan, mengirim stok makanan dari Indonesia sangatlah membantu.

So, stay safe untuk teman-teman yang masih di Wuhan dan kota lain di Tiongkok. Tetap semangat menjalani hari. Yakinlah, dengan doa semuanya akan baik-baik saja.



1 thought on “Virus Corona Serang Wuhan, Reaksi Saya Sebagai Beijinger…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *