"You are Connecting To My Words"

Kongkow Dengan Buku Satu Jam Saja!

Kongkow Dengan Buku Satu Jam Saja!

Setelah saya pikir-pikir selama satu semester berjalan, semangat literasi di kalangan anak muda saat ini cukup mengerikan. Nol persen. Ya, nol persen! Saya pikir, mereka yang tidak menyukai membaca karena memang malas. Setelah saya pikir dan kaji lagi, masalahnya bukan sekedar malas. Nggak seektrim itu. Ada yang lebih parah dari sekedar malas.

Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah soal manusia. Generasi yang kita paksa untuk cerdas dan sadar literasi bukan generasi zaman old yang doyan menunggu koran pagi sambil ngopi. Ini generasi milenial dan zillenial yang doyan melakukan sesuatu dengan gadget sambil mendengarkan musik. Itulah pendekatannya.

Penggunaan media tradisional seperti koran dan majalah tampaknya memang sudah tidak perlu dipertimbangkan lagi untuk generasi Z saat ini. Mereka tidak doyan. Jika orang-orang yang katanya gaptek itu lebih suka menikmati matahari pagi sambil mendengar kicau burung dengan segelas kopi, informasi terserap, bahkan buku jendela dunia. Zaman sekarang, google menjadi andalan memasuki dunia yang lebih luas. Bagaimana mereka mau membaca buku jika suguhan audio visual lebih menarik?

Penggunaan media baru seperti penciptaan aplikasi membaca seperti yang sudah dilakukan oleh para pendahulu di negara maju memang perlu ditiru. Indonesia sudah memiliki itu. Generasi muda Indonesia yang katanya tidak melek literasi juga sudah memasuki era ini. Meskipun masih sebatas bacaan hiburan, bukan menyerap informasi akademik, penggunaan platform membaca memang sedang galak-galaknya melawan stigma generasi Z malas membaca. Sebagai bukti, kita bisa melihat jumlah pembaca di platform membaca sebagai bukti.

Sebut saja wattpad yang saat ini sangat luar biasa di kalangan generasi muda. Bukan saja sebagai pembaca, generasi muda juga menjelma sebagai seorang penulis di wattpad. Banyak penulis pemula yang memulai karyanya di wattpad lahir ke dunia nyata sebagai penulis best seller dengan jutaan pembaca, karyanya dicetak di penernit mayor, bahkan diangkat ke layar lebar.

Aplikasi sejenis yang menawarkan kemudahan yang sama adalah Storial, Cabaca, Tinlit, Novel.id, dan lain-lain. Jadi, bukan minat mereka membaca yang rendah. Perlu dipertegas, minat mereka terhadap buku bacaan versi cetak yang tidak laku alias mereka lebih mengandalkan benda praktis dalam genggaman. Tidak heran, jika para penulis yang sadar dengan dunia literasi yang semakin berkembang dan bertransformasi, mereka juga akan bertranformasi. Tidak hanya mengandalkan pengajuan naskah lewat penerbit mayor, para penulis juga mengambil resiko peruntungan dengan berkarya di platform membaca untuk dibaca gratis oleh generasi muda.

Ini juga membuktikan bahwa membaca tidak mesti dalam bentuk buku fisik. Digital juga bisa. Namanya saja yang mesti diubah, dari baca buku fisik ke kata ‘membaca’. Sederhananya begitu.

Hal lain yang perlu dikembangkan lagi, memang sebaiknya generasi muda membuat komunitas untuk berbagi bacaan dengan sesama. Membuat temu nongkrong untuk berdiskusi bacaan yang mereka baru baca di aplikasi apapun. Bacaan yang mereka bagi bisa saya menjadi rekomendasi atau mempengaruhi orang untuk melakukan sesuatu perubahan yang menarik. Jika hal ini rutin dilakukan, bisa saja semangat kembali membaca buku fisik kembali muncul.

Membaca buku fisik atau digital, ini soal selera dan kenyamanan saja, bukan?!



1 thought on “Kongkow Dengan Buku Satu Jam Saja!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *