Bookish

Kapan Emak Baca Buku?!

Teman saya pernah berkata, “Sekarang, sih, iya. Kamu masih punya waktu untuk baca buku. Tunggu sebentar lagi, jangankan baca buku. Ke kamar mandi saja anak kamu bakalan nguntitin.”

Sederetan kalimat warning lain juga memaksa saya menjawab dengan senyuman saja. Tidak ada yang salah dengan kalimat mereka, karena mereka sudah mengalaminya. Mereka sudah terlebih dahulu berhadapan dengan dunia ibu dan anak. Hanya saja, saya masih tidak setuju berhadapan dengan kalimat super pesimis ini. Memangnya apa yang salah dengan emak-emak baca buku? Kita bisa melakukannya bersama anak, kok. Sekalian mendekatkan anak ke dunia literasi.

Itu dulu. Sebelum Alexa berumur satu tahun. Alexa mulai aktif berjalan ke sana kesini pada usia satu tahun. Energi saya dikuras habis meskipun bodi tidak semakin ramping. Pada usianya yang menginjak dua tahun, berbagai macam pertanyaan dan pernyataannya sukses mencuri waktu saya sebagai ibu yang menggaungkan bahwa membaca itu bagian dari pilihan hidup. Bukan paksaan agar terlihat pintar.

Membaca sambil mengurus anak adalah tantangan paling besar, moms. Ada waktu yang harus dikorbankan, ada sesuatu yang harus diabaikan. Setiap orang juga memiliki waktu dan gaya membaca yang berbeda. Ada yang memanfaatkan waktu senggang, menyiapkan waktu khusus, membaca sambil ngeteh, membaca sambil tiduran, ada yang harus pakai musik. Semuanya soal selera dan kebiasaan.

Berawal dari bincang-bincang dengan para bookstagrammer, kebanyakan para emak melewatkan waktu baca buku pada malam hari. Mereka sepakat jika malam adalah waktu yang tepat untuk para emak membaca buku. Sambil rebahan sambil menyerap ilmu atau menghibur diri dengan cerita menarik.

Cara mereka baca buku pun macam-macam. Ada yang langsung ngebut sampai bab tertentu baru tidur. Ada pula yang membagikan jumlah halaman. Saya tipe yang membaca buku dengan metode pembagian ini. Setiap malam sebelum tidur, jika mata masih melek, tidak akan tidur sebelum menjejali otak dengan bacaan. Baik bacaan ringan atau bacaan berat. Dua sampai tiga bab sebelum tidur atau 25-60 halaman.

Memangnya bisa? Sanggup?

Syarat dan ketentuan tentu berlaku. Jangan ngobrol di platform percakapan mana pun. Jangan stalking di sosmed. Rencana ini pasti mulus. Soalnya waktu yang paling banyak terbuang untuk membendung kreativitas seseorang adalah ketika dia terjerat dengan aktivitas di sosial media. Lagipula, jika sudah berurusan dengan sosial media, tidur pun jadi susah, kan?!

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *