"You are Connecting To My Words"

Ilana Tan Pertamaku

Ilana Tan Pertamaku

Para book lovers di Indonesia pasti tidak asing dengan nama Ilana Tan. Ya, penulis novel Metro Pop terbitan Gramedia yang misterius sekali. Belakangan ini, Ilana Tan menjadi penulis favorit saya tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Proses menyukai Ilana Tan sangat alami, bukan rekomendasi.

Jika beberapa nama saya harus membaca beberapa bukunya dulu, kemudian jatuh cinta karena resensi atau rekomendasi. Tidak dengan Ilana Tan. Saya yang menemukannya di rak buku sebuah perpustakaan komunitas. Itu juga tidak sengaja, waktu itu Ilana Tan sudah menerbitkan buku ketiganya.

Berawal ketika berkunjung ke rumah baca SEFA (sebuah lembaga non pemerintahan yang fokus pada pendidikan anak di bawah naungan German Charity), saya tertarik untuk meminjam beberapa buku, terutama novel. Waktu itu genre bacaan saya masih teenlit walau umur sudah tidak teen. Pengurus perpustakaan mengizinkan saya meminjam buku yang tersedia meskipun tidak memiliki kartu keanggotaan. Tentu saja saya senang bukan kepalang. Apalagi koleksi buku mereka 90% memang terbitan Gramedia. Tahu, dong, kasta buku terbitan Gramedia di masyarakat?!

Sayangnya, kebanyakan koleksi di perpustakaan ini sudah saya baca. Walaupun tidak memiliki sebagai koleksi di perpustakaan pribadi. Buku-buku terbitan Gramedia bisa saya daatkan, baca, dan pinjam dari perpustakaan daerah. Faktor harga buku yang melambung dan penghasilan yang tidak seimbang mengurangi intensitas membeli buku. Bagi saya, hal terpenting itu membaca buku tersebut, bukan mengoleksi bukunya saja. Jadi, membaca di perpustakaan daerah bukan masalah bagi saya. Membeli buku pun saya buatkan daftar kriterianya. Haruslah berbintang lima atau benar-benar recommended banget.

Setelah penelusuran buku sekitar 30 menitan, saya menemukan dua judul dari penulis ‘baru’. Nama Ilana Tan pada tahun 2009 masih asing di telinga dan ingatan saya. Terlebih lagi, nama ini terkesan biasa saja. Kurang menjual. Tidak ada menarik-menariknya sedikit un. Dua buku yang saya lirik itu berjudul Autumn in Paris dan Winter in Tokyo.

Saya membaca blurb-nya. Menarik.

Kemudian membaca bab pertama. Oke bingits!

Lantas saya memutuskan membaca novel yang berjudul Winter in Tokyo. Buku ini saya pinjam untuk dibawa pulang.

Alasan utama memutuskan membaca Winter in Tokyo bukan karena lebih bagus dari pada Autumn in Paris. Sederhana saja, saya termasuk Japan Addict. Rasanya segala hal tentang Jepang ingin saya miliki. Jadi, ketika Winter in Tokyo berbau Jepang-Jepangan saya sudah tertarik dan memilih meminjam. Apalagi covernya yang cukup eye catching. Ini jadi poin plus saya untuk melanjutkan membaca.

Sesampainya di rumah, ternyata alur Winter in Tokyo sangat tidak layak ditinggalkan begitu saja. Saya tergoda untuk menamatkan sekali duduk. Dalam hitungan jam novel ini tamat. Saya lupa harus menyelesaikan skripsi dan tumpukan artikel yang menuju deadline.

Ilana Tan benar-benar mencuri hati saya untuk jatuh berulang kali mencintai.

Sejak itu, saya mulai mencari buku-buku yang ditulis oleh Ilana Tan. Mulai mencari lagi novel terdahulunya, Summer in Seoul dan Autumn in Paris. Bahkan saya menitipkan novel ini pada seorang teman yang berangkat ke Jakarta. Uang jajan untuk tiga minggu berubah menjadi koleksi baru yang bertengger di rak buku.

Serius!

Saya menunggu terbitnya buku keempat berjudul Spring in London. Malahan saya memaksa seseorang untuk membeli novel ini sebagai hadiah ulang tahun. Ketika novel Sunshine Becomes You terbit, saya juga ikut pre order di Gramedia online. Dapat diskon 20%, tapi buku itu gagal saya miliki karena saat proses pembayaran terjadi kesalahan. Pembayaran gagal.

In a Blue Moon lebih parah lagi. Berulah kali diPHP oleh toko buku. Mulai dari pre order yang tak kunjung datang sampai kehabisan. Akhirnya saya menitip pada seorang teman sekampus asal Jakarta untuk dibelikan. Novel ini bertemu dengan saya di Beijing, tetapi baru sempat saya baca ketika sudah sampai di Banda Aceh.

Lucu, kan?!

Ntah kenapa, In a Blue Moon tidak semenohok novel-novel Ilana Tan sebelumnya. Terutama Winter in Tokyo. However, saya masih menunggu novel-novel Ilana Tan selanjutnya.

Btw, Ilana Tan apa kabar, ya?



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *