"You are Connecting To My Words"

Siapkan Nyali Melewati Rute Tercepat Meulaboh-Takengon

Siapkan Nyali Melewati Rute Tercepat Meulaboh-Takengon

Perpindahan saya ke Aceh Barat bisa dikatakan tidak terencana dan sangat tiba-tiba. Saya mendapat tugas negara untuk mengajar di salah satu kampus negeri di Aceh Barat ini. Mau tidak mau, perjalanan Meulaboh-Takengon pun tidak terelakkan lagi. Pernah satu masa saya memang harus bolak balik setiap akhir pekan. Jumat pagi berangkat ke Banda Aceh dan Minggu malam berangkat ke Meulaboh. Perjalanan melelahkan memang.

Jarak tempuh dari domisili saya di daerah Gampa ke Banda Aceh sekitar 239 km dengan ongkos transportasi umum sejenis minibus L300 sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 120 ribu. Tergantung jenisya. Mopen L300 dibandrol Rp 100 ribu, sedangkan mopen jenis Hi-Ace dikenakan tarif Rp 120 ribu. Jalannya mulus hingga naik turun gunung di trio mountain; geurutee, kulu, dan paro. Di kawasan ini kondisi tubuh diuji dengan menggoyang seluruh isi perut.

Saya terbiasa dengan mulusnya jalan pulang kampung. Sampai satu hari saya memutuskan pulang kampung melewati jalur barat ke tengah. Jalan ini juga sudah fenomenal sejak lama. Katanya meskipun tengah hari dinginnya bisa menggigil ketika tiba di puncak Singgah Mata. Sensasi yang belum pernah saya rasakan ini menantang jiwa petualang saya. Akhirnya saya memutuskan pulang melewati kabupaten Nagan Raya dan langsung masuk kabupaten Aceh Tengah hanya dengan jarak tempuh 180am kilometer saja.

Perjalanan yang saya pikirkan akan menyenangkan langsung merosot ketika melihat kondisi mopen L300 yang menjemput kami. Tua, beraroma khas angkutan umum, asapnya banyak, dan lebih menyedihkan lagi tidak ada AC. Wajar saja, mopen ini bukan dari jenis Hi-Ace, bukan pula mobil pribadi. Kondisi mopen yang seperti ini lebih menyakitkan lagi ketika tarif yang dikenakan lebih mahal daripada ke Banda Aceh. Ongkosnya Rp 150 ribu/orang.

Saya langsung berpikir positif, mungkin medannya juga susah atau langka sekali mobil yang melintasi hutan lindung ini. Bukankah perjalanan ke Takengon melalui Beutong ini baru dilewati setelah konflik di Aceh mereda?

Pikiran positif saya memang terjawab. Begitu masuk ke kawasan Nagan Raya dari Aceh Barat, pemandangan hutan kiri kanan mulai membuat jantung berdegup lebih cepat. Belum lagi jalan yang sempit dan terjal. Menanjak, menurun, badan jalan yang sudah termakan longsor, jurang lebar. Jika posisi duduk di dekat pintu, bayangan akan terhempas ke luar ketika pintu tiba-tiba terbuka juga melintas di pikiran tanpa bisa dikontrol.

Pernah pengalaman ketika mobil mendadak mundur dengan jumlah penumpang penuh. Belum lagi para penumpang yang menurut saya tidak tahu diri. Mengangkut barang bawaan sebanyak mungkin sesuka hatinya tanpa berpikir medan yang akan ditempuh akan sengeri itu. Saya mencak-mencak dalam hati.

Para supir pengemudi mobil pribadi yang belum berpengalaman juga mengemudi dalam kondisi panik. Masalahnya, jalan yang ditempuh ibarat makan bah simalakama. Mundur akan fatal, maju tidak sanggup mendaki lagi. Alhasil satu persatu penumpang dari mobil keluar dan tersisa hanya supir. Bahkan mopen L300 yang saya tumpangi juga pernah mengalami hal yang sama. Ada penumpang yang mengangkut 30 karung batu putih dari Aceh Barat Daya dan akan dibawa ke Takengon. Sepertinya akan dijual untuk diletakkan di atas makam.

Gara-gara si batu putih, kondisi mobil tidak mampu mendaki. Semua penumpang harus turun di Puncak Singgah Mata, mobil harus didorong oleh beberapa anak muda berbadan tangguh dan masih memiliki tenaga. Sementara saya dan beberapa penumpang lainnya harus mendaki. Ngos-ngosan sampai ke puncak. Kondisi seperti ini menguji solidaritas para pengemudi dan kernet mopen L300 juga. Di sini saya melihat bagaimana antara sesama supir saling bahu membahu meringankan beban angkutan.

Semua penumpang berkumpul di Puncak Singgah Mata. Ada balai-balai permanen di atas sana. Di tepi jurang. Sudah permanen alias bangunan beton. Temperaturnya dingin, bahkan masih jam tiga sore saja sudah berkabut. Perlu dicatat, di atas sana tidak ada sinyal ponsel dan internet. Mesti bersabar jika berniat untuk membuat live di Instagram.

Pemandangan yang membuat mata tak mampu terpejam lagi ketika mulai memasuki Beutong Ateuh. Aliran sungai jeram yang mengalir indah, perkampungan yang terlihat dari atas bukit, hamparan permadi hijau yang kekuningan jelang musim panen di sawah. Semuanya adalah hasil yang tak terlupakan setelah melewati kawasan hutan lindung yang sedikit horor dan menguji nyali.

Ketika memasuki wilayah Aceh Tengah, pemandangan indah pegunungan dan jurang juga memunculkan inspirasi. Tumpukan serai wangi dimana-mana. Saya yakin, pertanyaan Anda sama dengan saya. Dimana perkampungan warga? Ya, memang tidak terlihat dari jalanan. Selanjutnya perjalanan sudah memanjakan mata meskipun masih menguji nyali. Tidak heran jika Aceh Tengah disebut dengan ‘Serpihan Tanah Surga’. Kita memang seperti melihat secuil tanah surga yang terjatuh ke bumi ketika pemandangan di depan mata terhampar. Mulai dari perkampungan sampai alamnya. Saya merasa seperti sedang melihat Switzerland di depan mata, tidak jauh dari Mongolia, hanya beberapa langkah lagi menuju ke Kazakhstan. Begitu mempesonanya perjalanan menuju Takengon melewati Beutong di mata saya.

Satu hal lagi yang perlu dipersiapkan oleh para penumpang yang melewati rute tercepat ini. Tidak ada warung nasi selama perjalanan melintasi gunung. Satu-satunya warung ada di dekat perbatasan kabupaten Nagan Raya dan Aceh Tengah. Menu makanannya tidak banyak. Hanya sekitar tiga atau empat menu saja. Jika tidak terbiasa dengan menu warung kecil, membawa bekal dari rumah memang lebih bijak. Apalagi harga makanan di sini sangat lumayan menguras.

Harga Pop Mie seduh dibandrol Rp 10 ribu, nasi pakai telur asin seharga Rp 13 ribu, dan nasi pakai ikan dikenakan harga Rp 16 ribu. Harga yang wajar untuk warung singgah seperti ini. Namun pilihan akan berbeda jika membawa bekal sendiri, Anda bisa memutuskan makan sambil piknik di tepi aliran sungai berjeram di bawah jembatan.

Sisanya, jangan harap akan ada kios yang menjual makanan enak. Semua yang terlihat hanya hutan, jurang, hutan jurang. Kehidupan sesungguhnya baru terlihat ketika tiba di kecamatan Silih Nara, Aceh Tengah.

Tertarik untuk menjelajah rute tercepat ini? Selain siapkan mental, siapkan bekal dan kesehatan juga, ya?!



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *