Traveliner

Awas, Penipuan! Ini Tarif Minibus ke Pidie dari Banda Aceh

“Mak, berapa ongkos naik L300 ke kampung?” Pertanyaan ini saya ajukan kepada ibu saya melalui telepon sebelum berangkat ke kampung bersama suami dan ayah mertua saya. Kampung yang saya maksud adalah Gampong Panjoe, Kecamatan Geulumpang Minyeuk, Pidie. Tidak jauh dari kabupaten pemekarannya, Pidie Jaya.

Saya memang jarang pulang kampung, sehingga tarif yang dikenakan dengan menumpang angkutan umum seperti mini bus L300 tidak saya ketahui info terbarunya. Terakhir saya pulang kampung pada tahun 2010 dengan tarif L300 dibrandol seharga Rp 20 ribu di hari biasa dan Rp 35 ribu di hari raya. Ya, tarif ke arah utara Aceh memang suka dipermainkan ketika lebaran tiba.

“Kalau di antar sampai rumah sekitar Rp 50 ribu atau Rp 60 ribu,” jawab emak di seberang telepon. Belakangan jam terbang mamak pulang kampung memang sangat tinggi. Baik dari Takengon ke Sigli atau dari Banda Aceh ke Sigli. Tepatnya dari Indrapuri ke Sigli.

Kami pun mematok harga sekitar Rp 50 ribu mengingat susah sekali menemukan minibus yang mau mengantar sampai ke Gampong Panjoe. Kampungnya memang agak masuk ke dalam. Di belakang Rumoh Geudong, tempat penyiksaan rakyat yang dilakukan oleh tentara pada masa konflik dan terkenal di masa Daerah Operasi Militer (DOM). Biasanya ada Rakyat Banting Tulang (RBT) yang mengangkut penumpang dari Bili Aron ke Gampong Panjoe dengan sepeda motor. Tarifnya sekitar Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu. Tergantung hubungan emosional.

Kami tidak ke terminal untuk menumpang minibus. Dari rumah, kami naik sepeda motor diantar oleh adik-adik. Kemudian menunggu minibus di Simpang Kuta Malaka. Tidak lama menunggu, minibus lintas kabupaten Utara, Timur, Tengah langsung lewat. Jarak yang kami tempuh pun tidak begitu jauh, sekitar 203 kilometer sampai ke Gampong Panjoe. Semua kemungkinan tidak menyenangkan sudah kami perkirakan sebelumnya. Misalnya jika tidak ada yang menjemput di Teupin Raya yang berjarak sekitar 1 km dari Gampong Panjoe. Apa yang harus kami lakukan? Kami sudah siapkan diri.

Ketika turun dari minibus di Teupin Raya, sang supir langsung menerima Rp 150 ribu tunai dari dompet kami untuk tiga orang. Saya, suami, dan ayah mertua. Si supir tidak perlu membantu apa pun. Dia hanya membantu menurunkan tiga buah ransel yang kami bawa. Itu saja. Dia pun melenggang ke balik kemudi dengan sederhana.

Mahal? Saya tidak merasa mahal sampai suami saya bercerita sebuah fakta tiga minggu kemudian.

“Ternyata kita dibohongin soal ongkos minibus pulang kampung,” katanya.

“Berapa?” Tanya saya.

“Saya memberikan uang Rp 50 ribu, si supir langsung mengembalikan Rp 15 ribu. Saya pikir dia salah, kemudian saya gugel. Eh, benar saja. Ongkosnya memang Rp 35 ribu.” Suami menjelaskan.

Selama ini, kami dengan suka rela memberikan Rp 50 ribu kepada si supir. Saya pun merasa wajar tarif itu. Tanpa kesepakatan, tanpa meminta kurang ketika disebutkan, apalagi tanpa tiket resmi dari loket minibus. Harga Rp 50 ribu untuk jarak 203 km adalah harga yang pantas meskipun berat. Eh, ternyata…. Tarif sebenarnya hanya Rp 35 ribu saja.

Apakah kalian punya pengalaman dibohongi oleh supir minibus ketika melakukan perjalanan, traveler?

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *