Bibliolive

Tentang Motivasi Setelah Bapak Pergi

Judul Buku: Perempuan di Sudut Kota | Penulis: Eka MD •|Tebal: 213 halaman | ISBN: 978-602-5729-55-3

Namanya Naya. Gadis mungil berhijab, dengan sejuta mimpi di kepala. Menyerah tidak pernah ada dalam kamus hidupnya, sampai sebuah kejadian pahat membuatnya berpikir ribuan kali atas mimpi yang selama ini ia yakini. Perjuangan menjadi tidak mudah dan kata menyerah sering kali hinggap. Akankah Naya bertahan atau malah kalah dengan keadaan?

(^_^)

Bagaimana? Menarik untuk membaca kelanjutannya? Atau pandangan saya tentang novel ini?

So, saya memulai dengan membahas soal tema yang diangkat. Bisa dikatakan, ini adalah novel motivasi dan inspirasi. Kenapa saya katakan begitu?

Nyaris tidak ada konflik dalam novel ini. Bahkan penjabaran cerita pun seperti catatan harian penulisnya. Mungkin besar kaitannya pula dengan kisah nyata sang penulis. Soal ini bisa dijawab oleh kak @ekaa_md langsung.

Dari bab pertama sampai bab terakhir diuraikan tentang kesederhanaan, perjuangan, dan sang motivator yang meninggalkan mereka tiba-tiba. Bapak mereka.

Hidup lantas tidak mulus lagi. Ternyata sang bapak juga meninggalkan hutang puluhan juta karena usahanya sempat bangkrut. Dimulai dari sang bapak meninggal, perlahan kisah dipaparkan dengan mengurai benang masalah satu demi satu.

Tidak mudah bagi Naya, Ri, dan ibu mereka hidup tanpa bapak dan berbagai kemelut batin. Sebagai seorang anak yang juga ditinggalkan oleh ayah ketika dalam proses pendidikan tinggi, saya merasakan betul bagaimana gejolak emosi Naya. Antara ingin meninggalkan bangku kuliah atau tetap melanjutkan.

Tertatih, tapi terus maju. Perlahan tapi pasti. Hasilnya akan manis di akhir.

Novel seperti ini memang bukan satu dua di pasaran. Tapi cara penyampaian yang sederhana tidak banyak. @ekaa_md menang banyak dengan cara penyampaian yang tidak bertele. Mulus sampai akhir.

#perempuandisudutkota yang memberikan berbagai inspirasi untuk pembaca. Kali ini tentang karakteristik tokohnya. Saya merasakan kekuatan karakter keempat tokoh utama dari #novelinspirasi ini.

Naya, anak pertama di keluarga kecil ini. Dia kuliah di UI. Kampus dambaan sejuta calon mahasiswa. Paling bisa menerima keadaan dan tidak takut menghadapi perjuangan hidup.

Ri, adik Naya yang ceria dan manja. Dia sedikit lebih banyak menuntut dibandingkan kakaknya. Meski begitu, dia anak yang juga mengerti kondisi orang tuanya.

Bapak, tipikal lelaki bertanggung jawab. Perokok dan pengopi yang mengantarkannya pada penyakit infeksi paru-paru. Karena penyakit ini pula menyebabkan bapak meninggalkan dunia.

Ibu, wanita tulen. Ibu rumah tangga yang masih sulit dan cukup lama move on sejak bapak meninggal dunia.

Cerita tidak berporos paca satu tokoh. Cerita berkisar tentang kehidupan mereka. Tentang Ri yang ngambek karena foto wiauda SMPnya tidak sebagus foto Naya. Perjuangan Naya mendapatkan beasiswa. Bapak yang pekerja keras. Juga peran ibu dalam mengayomi keluarga mereka.

Lantas, apakah yang menarik dari novel ini? Simak terus postingan #dailyreview saya, ya.

#perempuandisudutkota bersetting di Jakarta. Bukan di perumahan elit atau latar belakang elit seperti kebanyakan novel yang kita baca. Justru kesederhanaan yang dimunculkan di novel ini menunjukkan betapa beragamnya masyarakat Indonesia.

Konflik yang dibangun oleh penulis juga tidak dipaksakan. Penulis membangun konflik sesuai keadaan. Artinya, jika ini berdasarkan kisah nyata, cerita dibangun berdasarkan pengenalan kisah, konflik, dan penutup.

Pernahkah kalian merasa ada kesamaan antara buku yang kamu baca dengan hidupmu? Tinggalkan komen buat yang pernah, ya. Sekaligus judul bukunya.

Menyelesaikan kuliah dengan tertatih karena di prosesnya orang tua lelaki meninggal dunia. Saya berada di poin ini. Perasaan yang amat teramat galau dan menyedihkan. Sampai terpikir untuk berhenti daripada menambah beban.

Di dalam masyarakat kita, masalah seperti ini bukan kita saja. Ada banyak orang yang mengalami hal yang sama. Hanya saja, cara mereka mengekspresikan berbeda. Mungkin tidak banyak yang berbagi dengan menulis. Namun dengan menulis justru memberikan inspirasi seperti buku ini.

Poin yang saya dapatkan adalah:
? Kita belajar bahwa hidup yang kita jalani bukan untuk hari ini saja. Masih ada esok dan seterusnya.
? Mengeluh tidak akan memberi solusi. Benarnya mencari solusi agar masalah selesai.
? Kita tidak perlu meminta bantuan orang lain untuk hidup kita. Kalau ada yang berniat menolong, tanpa diminta pertolongan akan datang.

Kalian bagaimana, Olivers? Terutama yang sudah baca novel ini? Berbagi, yuk.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *