Bookish

Kita Pernah Sama-Sama Punya Cinta

Kalian suka buku dengan kalimat puitis dan maknanya dalam? Coba cek blurb buku ini. Sepertinya ini buku yang tepat untuk kalian bawa pulang dari toko buku.

Judul Buku: Cinta yang Dulu Pernah Ada | Penulis: @berbagi.rasa_(Apriyandisi) & @intuisi_rindu (Indy Yustiani) | Penerbit: Penerbit Toro (Jakarta: Cet 1, 2019) •|Tebal: viii + 204 halaman | ISBN: 978-602-534-464-0

Buku ini kutulis dengan kamu sebagai inspirasinya. Saat merangkai kata-kata cinta di setiap halamannya, terkadang aku harus berhenti dulu untuk memejamkan mata. Membayangkan kamu masih mencintaiku seperti dulu. Saat kita bahagia bersama, berlomba-lomba mencintai lebih banyak.

Tiba-tiba aku tersadar sendiri, betapa sepinya hidup ini tanpamu lagi, dan karenanya air mataku tak hentinya menetes di halaman buku ini. Andai aku bisa membalikkan waktu, pikirku. Aku dan kamu tidak akan berakhir dengan kenangan…

(^_^)

“Sering kali seseorang disalahkan atas hancurnya suatu hubungan. Padahal, semua mungkin takkan terjadi jika pemilik rumah tidak menyambutnya pada awalnya.” (Hal. 20).

Buku ini berisi tentang kumpulan prosa tentang cinta, patah hati, dan pengobatan hati. Ada banyak nilai moral yang terdapat pada 30 halaman pertama.

Menikmati buku ini seperti diaduk perasaan. Diposisikan diri oleh penulis sebagai tokoh dalam buku.

Apakah kalian menyukai novel dengan genre tertentu karena karakteristik yang kuat alias si tokoh cerita?

Sama. Saya juga.

Jangan berharap dari buku ini kalian akan mendapatkan tokoh dengan nama unik dan karakter ajaib. Tokohnya hanya aku. Aku ini pun merujuk pada kekuatan penulis melihatkan pembaca.

Baik itu penjelmaan saya menjadi aku atau kamu menjadi aku. Pokoknya, penulis menciptakan tokohnya sesuai dengan kadar rasa yang dia ciptakan dalam kalimatnya.

Nggak percaya? Buktikan saja melalui kalimat berikut, “Baterai ponselku penuh.. Lalu perlahan melemah. Ia telah menjadi saksi hilangnya kabar darimu hingga saat ini.” (Hal. 33).

Gimana? Sederhana tapi mengena, kan?

Tidak ada setting tempat seperti novel romance. Tapi untaian katanya lebih manis dari romance. Konfliknya lebih menohok. Karena kedua penulis ini memang berbicara dan menulis dengan melibatkan hati seutuhnya. Penulis melibatkan pembaca sebagai tokoh utama dalam cerita. Sehingga pahit getirnya bisa dirasakan oleh pembaca dengan bebas.

Bahkan konflik dalam alur buku ini juga mengaduk-aduk emosi saya ketika membaca.

Ada beberapa hal yang terkutip dalam buku ini, tersimpan dalam ingatan. Terutama saal gaya bahasanya yang menyentuh.


? Terasa seperti membaca buku Kahlil Gibran. Tapi dengan bahasa yang lebih enak karena bukan terjemahan.

? Cinta yang terselubung dalam aksara selalu berhasil memikat. Itu yang saya rasakan.

? Cocok buat orang-orang yang belum bisa move on.

Saya sempat berpikir jika saya belum bisa move on. Tiba-tiba saya sadar, orang yang membuat saya belum bisa move on ternyata suami saya sendiri.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *