"You are Connecting To My Words"

Ampon Teeh di Hari Merdeka

Ampon Teeh di Hari Merdeka

“Dimana mie Aceh enak di Meulaboh?” Pertanyaan ini pernah saya ajukan kepada teman-teman yang sudah lama berdomisili di Meulaboh, bahkan penduduk asli Meulaboh. Sebagai pendatang, kekayaan kuliber setempat juga menjadi perekat betah tidaknya saya di tempat baru.

Kenyataannya tidak semua orang tahu mie enak di Meulaboh itu berlokasi di mana. Tidak semua orang Meulaboh suka jajan di luar. Tidak semua pendatang pecinta kuliner. Inilah pengamatan awal saya selaku pendatang baru di Meulaboh. Lima bulan berdomisili di Meulaboh merupakan petualangan kuliner yang memaksa saya menelusuri sendiri tentang kenikmatan lidah yang berefek pada perut dan pikiran.

“Mie Ampon Teeh enak,” komentar seorang teman pada suatu hari. Setelah beberapa nama kedai mie Aceh yang masuk dalam daftar tujuan makan mie Aceh ada di daftar makan saya. Saya yang merasa nilai mie Aceh di sini masih di angka tujuh, tidak berekspektasi terlalu tinggi untuk makan di Ampon Teeh.

Satu hari, saya diajak oleh teman untuk makan mie Ampon Teeh di bilangan Jalan Manek Roo, Meulaboh. Pesanan saya; mie udang, mie daging, jus wortel, dan jus pokat. Saya memang harus merogoh kocek agak dalam untuk menikmati menu ini. Meskipun harga yang disebut masih lumayan standar.

Katanya, mie kerang di Ampon Teeh is the best. Meskipun saya tidak memesan mie kerang dengan alasan tertentu, tapi mie udang dan mie daging yang saya pesan sudah cukup mewakili kata ‘enak’ untuk ukuran rata-rata mie yang saya makan. Bahkan teman-teman mengatakan jika mie Ampon Teeh di Meulaboh yang super enak itu di Alue Penyareng (Alpen), dekat dengan tiga kampus negeri di Aceh Barat; AKN, UTU, dan STAIN.

17 Agustus 2019, saya dan kolega kerja diwajibkan mengikuti upacara di Yonif Batalyon 116 Garuda Sakti Meulaboh. Berada di bawah terik matahari tanpa sarapan memang menggoda untuk melahap apa saja yang terlihat di depan mata. Warung kopi, kedai ayam penyet, dan semua tempat makan dan nongkrong yang memang hanya hitungan sebelah tangan penuh semua. Apalagi kedai mie Aceh setenar Ampon Teeh. Bisa dipastikan kepadatannya.

Beruntung kolega saya berbaik hati ‘menjaga’ tempat di kedai Ampon Teeh. Mereka sudah datang lebih dulu di sana dan sudah kenyang duluan. Ketika kami datang ke sana, kami hanya bersiap untuk makan. Bahkan mereka juga berbaik hati memesankan menu yang kami inginkan.

Saya pesan mie polos alias tidak ada campuran apa-apa dan jus jeruk. Memang enak. Tapi masih lebih enak mie yang saya pesan di Manek Roo beberapa minggu yang lalu.

Rasa soal selera. Soal rasa pun saya pikir bukan karena makannya di hari 17an yang memang rame sekali pengunjungnya. Karena teman-teman saya yang memesan mie kerang semuanya sepakat jika mie kerang mereka maknyus. Saya mengiyakan alasan kurang menikmati mie ini karena terlalu polos alias tidak ada campuran lain seperti daging, udang, kerang.

Harga mie di Jalan Manek Roo dibandrol sekitar Rp 15 ribu untuk mie kerang. Sedangkan di Alpen dibandrol Rp 12 ribu saja. Perbedaannya terletak pada ukuran porsi yang lebih sedikit. Mie polos saya hanya dihargai Rp 8 ribu, harga yang sangat standar untuk satu porsi mie Aceh di Meulaboh.

Saya paling puas dengan jus jeruk yang saya pesan. Sangat juicy seperti jus yang saya pesan di Jalan Manek Roo. Harga segelas jus jeruk yang kinclong (tidak ada biji nyasar) ini Rp 10 ribu. Mungkin bagi saya masih mahal, karena di Meulaboh banyak jus yang juicy dibandrol dengan harga Rp 5 ribu saja.

So, Mie Ampon Teeh salah satu cara cepat untuk memerdekan diri dari rasa lapar. Terutama di akhir pekan yang menuntut hidup lebih hidup.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *