"You are Connecting To My Words"

Cerpen Terbaik, Antologi Lagi

Cerpen Terbaik, Antologi Lagi

Saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Saya menulis untuk apa? Uangkah?”

Lama saya merenungi pertanyaan ini. Tidak mudah menemukan jati diri saya melalui karya sudah lahir. Kebanyakan memang antologi. Selain seleksi di penerbit mayor super duper beratnya, menerbitkan indie saya kalah di pendanaan. Memang, sih, tidak banyak uang yang harus dikeluarkan. Ya, jika hanya terbit. Tapi untuk cetak buku tersebut, saya harus ngemodal sendiri. Lantas saya bertanya lagi pada diri sendiri, apakah saya siap jika tidak dibayar? Alias buku saya dimintai begitu saja. Gratis!

Saya pikir-pikir lagi, saya belum siap. Terlepas buku saya itu diberikan dengan dalih give away. Itu lain ceritanya, ya. Namun saya juga tidak menyangka jika perkara menerbitkan karya serumit ini. Bukan soal dana atau memilih mayor atau indie. Tapi pertanyaan di paragraf pertama membuat saya megap-megap.

Ada beberapa sahabat yang nyinyir, “Nerbitin bukunya ntar saja. Setelah ada NIDN.”

Saya bukan tidak terprovokasi. Saya sangat terprovokasi. Namun saya paksa otak saya mengingat niat awal. Setiap karya yang saya lahirkan bukan tanpa alasan. Saya ingin berkarya. Bukan sekedar kejar kum. Saya punya resolusi tahunan untuk diterbitkan buku. Syukurnya, sekarang banyak lomba yang menggratiskan penulisnya untuk menerbitkan buku seperti yang baru saja saya ikuti bersama Jejak Publisher.

Saya tidak menyangka jika cerpen saya berjudul, “Kev, Apakah Mamamu Cantik?” terpilih menjadi satu dari lima cerpen terbaik dengan total nilai 445. Keunggulan cerpen saya hanya pada kemasan yang menarik dari masalah yang biasa saja.

Saya berada di peringkat ketujuh dari 50 penulis terpilih yang karyanya akan dibukukan oleh Jejak Publisher. Suatu kebahagiaan bagi saya untuk menimang lagi buku yang lain. Meskipun orang berkata, “Ah, bunga rampai toh. Belum keren. Baru keren kalau nulis solo.”

Kalau saya pikir-pikir lagi, lebih sulit berurusan dengan bunga rampai daripada solo. Jika mau menerbitkan buku solo, cukup menabung saja. Buku langsung cetak. Sementara bunga rampai melewati seleksi yang luar biasa panjang.

Semuanya memang kembali kepada diri kita sendiri. Apakah kita bisa menerima komentar atau tidak. Saya sendiri sedang belajar menerima apapun komentar dan berpijak dengan kaki sendiri. Saya adalah orang yang menjalani hidup saya sendiri.

Orang-orang yang berkomentar juga harus memastikan jika mereka juga bisa menerima kelebihan orang lain. Tanpa komentar-komentar yang menjatuhkan, orang akan tetap berkarya. Tapi jangan karena sedikit komentar yang kita anggap biasa, orang lain akan jatuh.

Saya tidak masalah dengan komentar orang lain. Insyaallah, tahun 2019 atau awal 2020, empat buku siap terbit. Bunga rampai dan solo. Terima kasih untuk teman-teman yang memberi dukungan di dunia maya dan dunia nyata. Kemenangan ini tidak lepas dari dukungan kalian semuanya.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *