"You are Connecting To My Words"

Rindu (Memang) Itu Baik

Rindu (Memang) Itu Baik

Dear Olivers,
Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan kiriman buku dari Penerbit Shofia. Bukunya kece, ukurannya nggak mainstream, ditambah lagi dengan tebalnya pasti. Tidak membuat saya berpikir kapan akan menamatkannya. Ini buku esai, non fiksi. Serius, judulnya menggoda. Terutama buat kami yang sedang dilanda rindu.

FYI, ini buku yang saya dapatkan dari GA yang diadakan oleh @noveladdict_ di Instagram.

Ada 70 artikel dikemas dalam bentuk esai singkat. Mengena & menginpirasi. Angka yang tidak bisa dibilang sedikit, kan? Tapi tidak akan bosan membacanya. Karena benar-benar ditulis to the point. Tidak bertele-tele.

Setiap halaman buku ini dibatasi oleh ilustrasi dan tulisan. Berupa quote atau kalimat favorit, lah. Jadi, baca pun semakin semangat. Tidak akan bosan.

Tulisan hanya 3-5 paragraf. So, jangan harap akan mendapatkan ceramah tentang rindu di buku ini. Tidak. Karena yang terasa justru membuka wacana tentang rindu saja.

Pecinta quote mungkin akan berbahagia karena setiap tulisan dibuka dengan quote menarik.

(^_^)


Judul Buku: Rindu Itu Baik | Penulis: Fitrawan Umar | Ilustrator: @pisaraihanna | Penerbit: Penerbit Sofia (Makassar: Januari, 2019) | Tebal: viii+150 hal | ISBN: 978-602-5862-11-3

Saya suka cara penulis menjabarkan sesuatu. Benar-benar mengena tapi tidak menggurui. Sebut saja beberapa artikel yang saya masukkan ke dalam daftar favorit berikut ini.

Jodoh Itu; penulis mendeskripsikan mencari jodoh itu seperti mencari alamat. Ya, kita sering tersesat bersama orang yang salah dalam proses menemukan jodoh. Bukan seperti yang kita inginkan. Tetapi begitu kita menemukan orang yang tepat, alamat yang kita inginkan tidak perlu dicari lagi.

Rindu Selalu Baik; ini mewakili keseluruhan isi buku sebagai judul buku ini. Saya baru sadar, rindu bisa juga hadir tentang apa yang kita tidak pernah lakukan. Awalnya saya bingung, apa ya?! Ternyata memang ada hal yang tidak kita lakukan ingin kita lakukan. Sejenis rindu ingin dilakukan bahkan selama ini baru niat saja.

Memulihkan; tulisan ini dirujuk untuk perempuan. Penulis mengibaratkan perempuan seperti sungai, mudah tercemar dan terbersihkan. Ini karena sifat perempuan yang selalu ragu-ragu.

Apa yang kamu rasakan ketika berpisah dengan seseorang? Sedih? Jelas. Bahagia? Nyaris tidak pernah terjadi.

Di buku ini, @fitrawanumar bercerita tentang perpisahan dengan versi yang lain. Seperti pukulan untuk membangunkan kita dari tidur sore tepatnya.

Ternyata selama ini kita sering mengalami perpisahan yang ditanggung sendiri. Saya berpikir, iya juga, ya. Benar saja. Saya sering kali mengalami perpisahan sendirian. Sementara orang lain tidak merasakannya. Salah? Tidak. Tapi rasanya nggak enak.

Di esai berjudul Escedensiast, saya belajar sesuatu. Ini sebutan untuk orang yang menyimpan rasa sakit di balik senyuman. Saya juga begitu, dan orang bilang emosi saya tidak sehat. Namun juatru kepura-puraan ini membuat kita merasa nyaman berhadapan dengan orang yang menyakiti.

Di bab Diam-Diam saya belajar hal baru. Orang bilang ini zamannya perempuan pun harus bicara tentang diri sendiri. Mencintai diam-diam bukan sesuatu yang salah. Yang salah jika membenci diam-diam.

Bagaimana jika ada yang tidak mencintaimu? Santai saja, kan cinta tidak bisa dipaksakan. Begitu jawab saya kalau berkaitan dengan cinta.

Cinta kepada siapa dulu?

Kenyataannya, cinta yang kita tujukan kepada seseorang yang kita anggap punya andil mencintai balik lebih sakit daripada mencintai tanpa pamrih kepada seseorang yang kita tahu akan mencintai kita.

Dari sekian banyak esai. Saya tertohok habis-habisan di bagian cinta-cintaan. 

Sebagai reviewer buku ini, tentu saja ada beberapa poin menarik yang masuk dalam catatan saya. So, ada beberapa hal yang perlu diertimbangkan jika kalian ingin membaca buku ini. Bagi saya, pertimbangannya sebagai berikut:

💜 Tulisan di buku ini sangat pendek. Jadi saat membaca serasa seperti membaca status di sosial media seperti Facebook. Tahu kan?! Baca status itu nyaris tidak membosankan.

💜 Tulisannya pendek. Buku setebal ini bisa habis sekali duduk. Apalagi dilengkapi dengan gambar. Anti bosan, lah.

💜 Ukuran buku gampang di bawa. Bentuknya juga unik. Persegi empat. Hanya sebesar kotak CD saja.

💜 Kalau saya bilang, ini buku “Obat jiwa untuk hati yang merindu.”

💜 Setelah tamat membaca buku ini saya belajar satu hal. Saya yakin Anda juga, “Belajar menerima keadaan.”

Menarik bukan? Langsung masuk wishlist, ya.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *