"You are Connecting To My Words"

Setahun Menjadi Bookstagram

Setahun Menjadi Bookstagram

Tidak terasa, ternyata sudah setahun saya menjadi bookstagrammer. Tepat pada bulan Mei ini. Berbarengan dengan hari ulang tahun saya juga. Saya namai dia oliverial, sebagai bentuk dari opini pribadi saya berkaitan dengan literasi. Entahlah, saya pun tidak paham mengapa begitu saja nama itu tercetus dari alam imajinasi. Oliverial menjadi nama yang paling kekinian sebagai seorang emak beranak satu.

Awalnya saya tidak berniat menjadi bookstagrammer. Hanya saja, diawal melahirkan saya merasa kesepian. Tidak ada waktu untuk berkumpul dengan komunitas yang pernah saya ikuti. Bahkan saya merasakan sosial media saya berdebu karena tidak ada akses khusus. Setelah saya pikir, mungkin membaca pun memiliki tempat istimewa di kalangan para pembaca lain di sosial media.

Komunitas. Ya, komunitas yang akan menepikan rasa sepi. Saya lantas bertemu dengan mbak Dyah Agustine (dblueholic). Saya diterik ke dunia book photography. Saya baru tahu jika buku pun bisa diolah sedemikian rupa untuk terlihat menarik. Saya mencoba, meskipun tidak sehebat orang lain. Kalau menulis resensi (review), sering saya lakukan. Tapi berkomunitas dari rumah, ini yang akan saya lakukan ke depan.

Komunitas bookstagram memberi manfaat yang besar untuk saya. Terutama untuk dunia yang berkaitan dengan perbukuan. Saya tahu buku baru, buku yang sedang populer, rekomendasi buku, dan segala hal terkait tanpa harus ke toko buku. Saya dengan mudah pula berinteraksi dengan sesama bookstagrammer untuk berdiskusi tentang buku tertentu.

Selama ini saya masih mencari buku dengan cara mainstream. Datang ke toko buku, bolak balik sana sini. Kemudian bawa pulang kalau ada uang. Memang secara psikologis rasa puas menang jauh. Namun, sejak memiliki bayi dan jaran keluar, cara ini justru menyiksa. Saya tidak benar-benar mendapatkan waktu untuk masuk ke toko buku.

Bergabung di komunitas bookstagram memberi manfaat lebih. Dari teman-teman sehobi saya tahu buku apa yang lagi ngehits dan baru. Saya juga mendapatkan rekomendasi buku bagus yang layak dipertimbangkan untuk dibaca. Bahkan buku gratis melalui giveaway.

Ketika budget membeli buku lagi seret, dari bookstagrammer pula saya mendapatkan rekomendasi aplikasi ipusnas dan ijakarta. Aplikasi yang selama ini tidak saya ketahui. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak membaca buku sebenarnya.

selain terjalin silaturahmi dan menambah teman baru di dunia maya, menjadi bagian dari bookstagram saya menjaga kinerja otak dengan menganalisa. Menulis review buku dan memposting di blog dan instagram adalah salah satu solusi agar saya tetap waras dan mengasah otak.

Jadi, oliverial adalah akun yang menjadi identitas saya selama di dunia maya dan nyata. Tidak hanya di halaman ini atau di instagram. Dimana-mana Oliverial adalah Olive. Saya.



8 thoughts on “Setahun Menjadi Bookstagram”

  • memang semenjak masuk ke dunia bookstagram, aku pun merasakan hal yang serupa dengan kakak. dunia aku serasa lebih berwarna dengan buku-buku maupun teman bookstagrammer lainnya.

    ig : @cinthya.reads

  • Akuu sebenernya sukaa bgt baca novel sama wattpad, tpi kalo mau masuk ke bookstagramer masih amatiran ehehe ?

  • Waktu awal-awal terjun ke dunia bookstagram. Masih awam banget, bahkan gak tau apa ada temen-temen di indonesia yang udah fokus ke bookstagram. Tapi, lama kelamaan dapet deh temen-temen baru yang punya hobi baca juga. Sekarang, malah udah tau siapa aja yang sesama pembaca thriller. Mana yang suka baca sastra. Dan siapa yang suka baca young adult.

    Salam kenal dari @alenaslibrary

    • Sama, mbak. Awalnya bingung juga nyari teman-teman bookstagram Indonesia. Ternyata nggak kalah kece sama yang luar negeri itu. Begitu gabung di kelas baca, jadi banyak paham juga genre yang berkembang. Salam kenal kembali, mbak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *