Bookish

Menilai Kualitas Buku Dari Resensi

“KH sudah mengeluarkan buku baru, lho.” Kata teman saya sesama bookstagrammer suatu hari. Dia adalah fans fanatik penulis impor tersebut dan selalu memiliki ulasan positif tentang bukunya.

Selain teman saya ini, banyak reviewer lain yang menulis poin positif dari karya si penulis berinisial KH. Sebagai orang yang belum mengenal karyanya, saya memang sudah berencana untuk membaca buku KH dengan mulai mengoleksi buku tersebut dari awal.

Mulailah saya dengan modal Rp 100 ribu ikut Pre Order (PO) di penerbit besar Indonesia ini. Saya menunggu buku tersebut selama dua minggu lamanya. Apalagi setelah saya tahu bahwa penerjemahnya adalah teman saya sesama bookstagrammer. Saya ingin menjadi salah satu orang pertama di dunia bookstagrammer yang membaca buku ini pertama kali. Bisa dibayangkan betapa bahagianya.

Ketika bukunya sampai, saya kecewa berat. Buku KH yang datang diluar ekspektasi. Harga mahal yang digadangkan akan disumbangkan rasanya tidak ikhlas. Meskipun secara keseluruhan dan umum, buku yang saya bela-bela untuk PO ini memang bagus sekali. Secara khusus, saya menolak.

Berbicara kualitas buku, baik itu dari sisi teknis maupun isi, ada beberapa hal yang harus dilirik. Tidak cukup dengan popularitas penulis atau trik marketing penerbit dalam menggalang pembeli. Terutama tipe pembeli penimbun buku seperti saya.

Organisasi atau Kerangka Penulisan

Jika itu buku non-fiksi, membaca kerangka penulisan melalui daftar isi suatu keharusan. Kerunutan penulisan buku menentukan nyaman tidaknya dalam membaca. Ketika membaca resensi tentang suatu buku pun, ada baiknya menemukan komentar atau ulasan yang berkaitan dengan kerangka penulisan dari buku yang dimaksud. Berbeda dengan resensi fiksi, nilai lebih dalam pembahasan dititikberatkan pada sinopsis cerita, pemilihan diksi, tema, dan amanat. Barulah pembaca bisa memutuskan apakah buku tersebut layak masuk daftar koleksi atau sekedar dibaca saja.

Isi Pernyataan

Seorang resensor yang baik akan detil membahas isi pernyataan dari buku yang diresensinya. Pernyataan mencakup bobot ide, analisis, penyajian data, dan kreativitas. Keempat pernyataan penting ini disadari oleh penulis sebagai kunci dari keberhasilan buku yang dia tulis.

Aspek Teknis

Tampaknya pepatah “Jangan menilai buku dari sampulnya” harus segera dipatahkan. Zaman now, desain sampul buku sangat berpengaruh terhadap daya jual. Sebagian besar pembaca mengatakan bahwa ilustrasi sampul yang menarik menentukan sekali isi ceritanya. Saya pun harus membenarkan kalimat ini.

Aspek teknis lain yang perlu dilirik dari resensi buku adalah ulasan si resensor tentang teknis buku yang diresensi. Tata letak, typo, bahasa yang digunakan, sampai dengan seberapa banyak gambar yang muncul di halaman buku. Aspek teknis juga menentukan seberapa menarik buku yang akan dibaca.

Ada buku yang katanya bagus, tetapi typo bertebaran di setiap halaman. Kenikmatan membaca malah lenyap. Tidak ada lagi kesan buku bagus yang tertinggal. Namun buku berantakan dan penulis yang tidak teliti. Serta editor dan penerbit yang tidak bertanggung jawab. Penilaian subjektif ini mengalihkan pikiran untuk mempertimbangkan apakah buku ini layak dibaca atau tidak.

Di samping penilaiaan di atas, saya juga suka memainkan angka di kalkulator ketika membeli buku sekarang. Jika harga buku mahal dan ditulis oleh seseorang yang memang berkompeten, saya tidak akan ragu untuk mengeluarkan rupiah di depan kasir toko buku. Sementara jika harganya mahal sementara saya tidak begitu mengenal penulisnya (atau tidak terkenal), saya akan mundur teratur. mencari di pustakan jauh lebih baik.

Kasus PO buku saya berbeda. Harga yang mahal untuk penulis berkualitas. Tetap saja saya kecewa. Karena apa? Saya membayar mahal untuk sebuah buku puisi yang sangat singkat. Bukan kumpulan puisi. Sebuah puisi yang dipenggal-penggal. Sebait untuk satu atau dua halaman. Saya kecewa.

Sebelum kejadian yang saya alami juga menimpa Anda, ada baiknya lakukan penilaian dengan melihat tiga poin di atas.

Semoga bermanfaat!

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

6 Comments

  • Asrika

    Walaupun gitu, buku mantra awan yg ada tulisan kak ukfa didalamnya itu tetap bagus dan berkualitas. Suka pokoknya bacanya. 😘😘 tetap semangat dan terus berjuang kak. 💪

  • Lyndha

    Hallo, kak Oliv. Semangat terus ngeblognya. Aku suka gaya penulisannya. To the point dan gak muter-muter. Smpt bbrpa kali liat-liat ulasan yg lain. Dan aku jadi pengen baca juga hehe. Padahal aslinya pengen nanya-nanya gimana sih caranya ngeblog? 😂.. Jujur sih, aku juga memang tipe pemakan resensi orang lain. Tp tetap saja ketika aku ingin beli buku, ada banyak pertimbangan. Kira-kira bukunya cocok atau tidak dengan selera bacaku. Ya salah satunya buat menghindari adanya penyesalan terhadap uang yang sudah dikeluarkan. Nah, apalagi klo beli bukunya yang udh bbrpa kali dibaca resensinya katanya bagus, ini itu cocok buat kamu yang ini.. Yang itu. Yah it’s okay sih sah-sah saja bagi resensornya. Karena toh memang dia suka. Lagian males jg kan klo misal harus mikir ini resensinya bukan cm buat promosi doang kan biar terkenal. Jadi intinya balik lagi ke diri sendiri klo mau beli buku. Adanya resensi buat jdi bahan pertimbangan. Selebihnya ttp kita yg memutuskan utk beli bukunya atau tidak. Dan soal resikonya, jadikan pembelajaran. Jadi gk cuma ngumpat yg engga-engga soal buku yang dibeli lantas dibaca dn tidak sesuai harapan. Duh panjang aned ngetiknya, smga kak olive paham mksdku.

    • Ulfa Khairina

      Hai Lyn,
      Senang ketemu kamu di sini dan teryata kamu suka dengan tulisannya. Semoga bisa terus ngelanjutin keinginannya buat ngeblog. Ayo, say. Kita ngeblog buat informasi siapa saja. Terutama soal buku. Aku pahaaammmm maksudnya.

  • Lyndha

    Aku sendiri pemakan resensi atau review orang lain terhadap buku yang ingin aku beli. Klo aku ragu buat beli bukunya pdhl udh baca resensinya (yang katanya bagus) aku biasanya tidak jadi beli. Tp klo aku mantap buat beli dg segala pertimbangan (termasuk resensi, uang mencukupi, kira-kira aku butuh bukunya apa engga) aku pasti beli bukunya. Sejauh ini, bbrpa kali makan resensi dr orang lain, alhamdulillah rasanya lega krna buku yang dibeli sesuai dg harapan dn resensi yang kubaca. Klo misal mengalami kekesalan krna buku yg dibeli tidak sesuai harapan atau resensi, balik lagi sm diri sendiri. Bukunya memang sesuai dg genreku atau tidak. Klo kurang yakin, mnding nnti dlu aja belinya hehe.

    • Ulfa Khairina

      Betul.
      Insting pribadi jauh lebih baik, sih. Resensi orang oke, mungkin bukan selera kita. Kalau terlanjur beli akan kecewa juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *