Bookish

Menaklukkan Media Dengan Resensi

Suka membaca buku? Jika iya, kita sama. Saya juga suka membaca buku. Sebagai penikmat bacaan, tentu ada banyak hal yang kita dapatkan dari buku-buku yang sudah terbaca. Sebagiannya bikin susah move on. Sebagian yang lain malah merasa rugi waktu dan uang. Pernah mengalami hal yang sama?

Ada banyak alasan seseorang membaca buku. Bisa jadi, kita adalah orang pertama yang membaca buku tersebut. Sementara di luar sana, banyak orang yang sedang menanti informasi tentang buku yang sedang kita baca tersebut. Apalagi jika buku yang sudah dinanti sekian lama oleh pembaca dari penulis tertentu.

Menulis resensi adalah cara yang digunakan untuk menginformasikan tentang sebuah buku kepada calon pembaca lain. Tentu saja, untuk mendapatkan jangkauan calon pembaca yang lebih luas, setiap pembaca layaknya menulis resensi buku tersebut. Sayangnya, tidak semua resensi mampu menembus media dengan berbagai alasan. Salah satu alasan yang paling kuat adalah ketidaksesuaian pakem penulisan resensi untuk media.

Menulis resensi untuk media tentu saja berbeda dengan menulis ulasan di sosial media. Di platform sosial media apapun, menulis resensi tidak terikat aturan apapun. Tulis saja suka-suka, ada yang baca, dilike, selesai. Sudah, gitu aja. Sementara di media, ada aturan baku yang mengikat sebuah resensi sudah layak terbit. Setidaknya ada 6 (enam) unsur wajib dalam sebuah resensi.

Judul Resensi Buku

Judul resensi, bukan judul buku. Ya, poin ini mendapat penilaian dan poin lirikan pertama ketika mengirimkan sebuah resensi buku ke media. Penulisan judul yang menarik akan menggugah redaksi untuk membaca dan mempertimbangkan publikasi. Jika sebuah resensi yang dikirim ke meja redaksi tidak diberi judul atau hanya judul bukunya saja, sebagus apapun ulasan yang ditulis tidak akan dilirik sama sekali.

Misalnya saja seperti resensi salah satu buku biografi Merry Riana yang pernah saya tulis dan publikasikan di Lintas Gayo. Daripada menulis “Langkah Sejuta Suluh Merry Riana by Clara Ng,” menulis dengan judul “Suluh Sukses Merry Riana” jauh lebih menggoda redaksi untuk membaca.

Data Buku

Bagian ini merupakan bagian yang tidak kalah penting dari judul resensi yang ditulis. Data buku menunjukkan semua informasi buku secara teknis. Data yang buku dimaksud seperti; judul buku, pengarang, penerbit, tahun terbit beserta cetakannya, tebal buku, dan harga buku. Jika buku yang diresensi merupakan buku terjemahan, menulis nama penerjemah adalah suatu keharusan.

Sebagian resensor tidak menulis harga buku yang dibacanya. Secara pribadi, saya tidak menuliskan harga buku yang saya baca karena faktor perbedaan harga saat ini. Sebagian buku dijual dengan harga berberda di tiap pulau. Seperti kebanyakan harga buku sekarang, di belakang buku pasti tertulis harga buku dan di dalam kurung dilengkapi keterangan Harga P. Jawa & Bali. Tentu saja, harga untuk Aceh terkadang sudah berbeda. Biasaya ditambah 10% dari harga yang tertulis.

Pembukaan Resensi (Lead)

Layaknya artikel lainnya, resensi pun membutuhkan lead untuk memulai ulasan. Setelah menulis data buku, penulis harus mendeskripsikan sedikit tentang pengantar tentang buku yang akan diresensi. Penulis bisa memulai dengan bercerita kesamaan kisah dengan fenomena sosial yang tengah berlangsung, latar belakang penulis, dan lain-lain yang dianggap nyambung dengan buku yang akan dibahas.

Isi Resensi Buku

Untuk meresensi buku, tentu saja harus membaca secara detil buku tersebut. Peresensi juga sebaiknya menandai buku yang dibaca dengan seksama. Isi resensi buku yang akan dikaji atau dibahas dalam resensi buku berkaitan dengan keseluruhan konten. Ditulis dengan jujur dan tidak memihak.

Ada perbedaan dalam menulis resensi buku fiksi dan non fiksi. Dalam menulis resensi buku fiksi, unsur intristik dan eksentrik buku lebih ditonjolkan. Sinopsis cerita adalah kekuatan dalam menulis. Terutama dalam pemilihan tema, plot, setting, genre, sampai tendens (amanat). Sementara dalam menulis resensi buku non-fiksi lebih menekankan kepada pandangan terhadap konteks buku dinilai dari berbagai sudut pandang.

Dalam mengulas atau meresensi sebuah buku, memahami dan mendalami topik yang dibahas dalam buku jauh lebih baik dan memiliki nilai jual. Namun perlu diingat, meresensi bukanlah membedah. Jadi, poin yang dibahas dalam resensi hanya yang bersifat informatif saja. Tidak termasuk kritik teoritis.

Penilaian

Penilaian yang dimaksud di sini adalah pandangan penulis terhadap buku tersebut. Kelebihan dan kekurangan buku yang dibaca dari sudut pandang peresensi. Jangan heran jika satu judul buku yang sama akan mendapatkan penilaian berbeda-beda dari pembacanya. Ini karena sudut pandang setiap peresensi berbeda-beda. Sesuai dengan latar belakang resensor.

Penutup Resensi

Ada pembuka, ada pula penutup. Penutup resensi boleh berupa pujian, harapan, atau kutipan dari buku yang dirensi. Intinya, resensi yang kita tulis tidak menggantung penyampaiannya.

Nah, bagaimana? Sudah berapa buku menarik yang Anda baca dalam minggu ini? Tertarik untuk berbagi dengan calon pembaca lain? Yuk, tuliskan resensimu!

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

6 Comments

  • Vee

    Kak Oliv, ini kali pertamaku mampir di blog kakak, hehe.. aduuuuh aku baca artikel ini kayak bawain berita deh, tapi seru gitu.. jadi pengen nge-blog juga. Dan gara2 kakak maparin soal resensi di media aku jadi pengin nyoba suatu saat. Kayaknya tertantang gitu buat nulis resensi di media, karena biasanya suka2 aja aku buat di IG sama Goodreads, hehe. Thanks udah nulis ini kak, mayan buat bekal 😁

      • Zahraton Nawra

        Aih, kakak. Akhirnya aku bisa mampir dan lihatlihat isi rumah, eh blog kakak. Jujur selama ini, aku tuh kalau resensi suka nggak pakai hati (hiks) maksudnya asal nulis aja.

        Terlepas apa yang aku tulis seperti apa yang aku baca, sudah. Padahal kan nggak gitu juga. Nah, dari tulisan kakak aku jadi dapat pencerahan bagaimana menulis resensi nggak cuma bisa dibaca oleh orang lain tapi juga bisa menarik redaksi buat ngepublish.

        Terima kasih banyak kak. Secara tidak langsung udah menjadi guru.

        Semangat berkarya, ditunggu tulisan kakak berikutnya 😍😍😍

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *