Traveliner

MieKocok Blang Pidie di Aceh Barat

“Kamu tahu mie enak? Pokoknya tiada duanya. Nggak akan menyesal meski sudah makan berulang kali.” Kata teman saya suatu hari. Sekitar setahun lalu, ketika kami menghabiskan waktu makan siang di sebuah kedai mie kocok di Banda Aceh.

“Nggak ada tandingan selain di sini,” kata saya super pede dengan pilihan hati. Ya, saya tipe susah move on. Termasuk untuk urusan perut. Jika sudah setia, bisa sampai mati.

“Bukan. Di sini nggak ada apa-apa. Mie kocok paling enak itu ya di Blang Pidie. Itu memang khasnya Blang Pidie.” Teman saya kemudian menyebutkan nama satu daerah di provinsi Aceh. Ibu kota hasil pemekaran Aceh bagian selatan.

Sejak saat itu pembahasan tentang mie kocok tidak lagi menjadi topik. Saya berpikir, kami sudah berada di jalan rasa masing-masing. Rasa soal selera, kan? Enak di dikau, belum tentu di daku.

Sampai sebulan lalu, ketika tugas negara memindahkan domisili saya dari Aceh Besar ke Aceh Barat. Pertanyaan yang pernah diajukan berbulan silam berubah menjadi ajakan oleh seorang teman. Asoe lhok (penduduk asli) kota Meulaboh.

Teman saya hanya mengatakan seperti ini, “Kita makan mie kocok, yuk.” Saya pun langsung mengiyakan tanpa menunggu lama.

Kami sedikit mutar-mutar. Padahal jalan yang ditempuh untuk menikmati sepiring mie kocok tidak serumit ketika dibonceng oleh si teman. Kami hanya perlu masuk ke jalan Cut Mutia, di Babussalam. Masih searah jalan Nasional kemudian masuk sedikit. Bisa jalan kaki jika dari simpang bergapura itu.

Spanduknya langsung kelihatan jelas. Mie Kocok Blang Pidie.

Waktu itu saya hanya berpikir, “Ah! Ini kan biasa saja pasti.” Karena tata warungnya masih sangat sederhana sekali. Nggak ada keren-kerennya seperti kebanyakan tempat kulineran era now yang memang didekor mengikuti zaman.

Saya memesan mie kocok, mencomot perkedel yang ukurannya lumayan, menghantam tahu isi yang juga super besar, memesan teh dingin. Lantas memesan seporsi untuk Mamak saya di rumah.

Suapa pertama, kepala saya angguk-angguk. Lidah saya meminta lebih. Rasanya memang oke. Soal rasa memang selera saya juga. Terlebih penting dari soal rasa, porsi yang diberikan lebih banyak dan daging cincangnya menyebar ke seantero sudut piring. Kejadian yang amat langka jika makan mie kocok di Banda Aceh.

Kenyang makan, ketika bayar ke kasir, saya hanya membayar Rp 58 ribu included tiga porsi mie kocok, dua buah perkedel, satu buah tahu isi, sebutir telur rebus, sebotol air mineral, segelas jus alpukat, dan dua gelas teh dingin.

Ulala!!

Pengen balik lagi? Iya.

So, please wait for detail on next article, ya.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

12 Comments

  • Azizi AR

    Widihh siang-siang panas lagi puasa pas lihat ini langsung tergoda.. Favorite banget sama artikel ini
    ..
    Ig: @ongak44

  • Fasofwafa

    Jadi penasaran kak, gimana sih enaknya mie kocok blang pidie? Tapi jauh banget … Aceh. Sedangkan rumahku di Mojokerto. Puasa-puasa gini enak banget ya baca-bacaan tentang makan๐Ÿ˜

  • Nanairu

    Ini artikel yg plg kusuka. Kenapa?? Krn aku suka makan yg pertama. Yg kedua, info baru nih klo da jalan2 ke banda aceh. Da kulineran yg hrs dicoba. Aku tuh suka kulineran klo ke tempat2 bru gitu. Dan mencoba semua makanan yg ada. Tp gk sampe makanan ekstrim sih. Setidak na aku gk pilih2 makanan. So, one of my hobbies beside reading is…makan!!! Love from nanairu ๐Ÿ˜˜

  • Amelia Fitri Josicha

    Mie kocok emang the best, di Bogor juga ada mie kocok yang the best banget. Nggak heran tempatnya rame banget, harus sedikit bersabar karena antriannya yang lumayan panjang. Dulu sering banget makan mie kocok ini karena tempat nya deket dgn tempat kerja. Kalau ke Bogor jangan lupa mampir yaa, btw thankyou ulasannya tentang mie kocok bikin kangen dan langsung beli aja hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *