Bookish

Pertemuan 1: Nyesal di Kelas Sastra OWOB

Pada tanggal 19 Februari 2019, saya membaca postingan tentang dibukanya kelas sastra di akun instagram Gerakan One Week One Book (OWOB). Kelas diskusi buku dibuka. Saya langsung tertarik dengan kelas sastra. Tanpa bertanya apa-apa lagi, saya memilih ngecek di grup OWOB yang selalu ramai hampir setiap hari. Jika sudah ada yang melemparkan pertanyaan, pasti grup akan ramai. Bisa sampai ratusan chat setiap harinya.

Di grup juga langsung diarahkan, siapa yang harus dihubungi untuk kelas sastra OWOB ini. Kak Utamy Ningsih, anak-anak OWOB banyak yang memanggil Kak Uta. Saya ikutan memanggil dengan sebutan yang sama. Kak Uta.

Di hari yang sama saya menulis untuk kak Uta melalui jalur pribadi, “Kak Uta, saya mau, dong, gabung di kelas sastra.”

Tidak lama kemudian kak Uta membalas, “Di kelas sastra yang dibahas dan dibedah nanti buku sastra serius yah, kak.”

Saya tidak begitu paham pembagian sastra serius dan sastra modern. Dalam pikiran saya, sastra serius itu ya sastra klasik. Saya tidak masalah dengan genre bacaan berat seperti ini. Oke, saya setuju. Kak Uta mengatakan melalui balasannya jika konfirmasi soal sastra serius ini harus diluruskan di awal biar tidak terjadi kesalahpahaman.

Saya setuju saja. Ternyata sebelum bedah buku dimulai memang ada juga yang gagal paham bagaimana sastra serius dan populer. Bahkan tampaknya salah kelas. Saya merasa bersyukur sebelum mendaftarkan buku yang ingin saya baca melewati diskusi dulu di grup. Novel Tempat Paling Sunyi karya Arafat Nur diizinkan untuk masuk bedahan pada tanggal 30 Maret 2019.

Hari pertama bedah buku jatuh hari ini, 2 Maret 2019. Ipeh Alena adalah pembedah utama. Sekaligus ketua kelas sastra. Saya terlambat join di kelas. Harusnya kelas dimulai dari jam 19.00 sampai dengan 21.00 WIB. Karena hape saya lowbat dan anak rewel, saya lupa jika bedah buku berlangsung malam hari.

Ketika menyalakan hape dan menemukan 100+ pesan, saya terkerjut. Ada satu pemberitahuan di sana. Bagi yang menghilang alias tidak hadir dalam satu pertemuan, maka akan diberikan sanksi. Saya terlambat. Saya pun menyesal bergabung di kelas sastra.

Ya, saya menyesal bergabung di kelas Sastra OWOB.

Baiklah, sebelum fans atau anak kelas sastra OWOB ngegas atau mengamuk dan mendepak saya dari grup OWOB, saya akan memberikan alasan saya menyesal bergabung di OWOB.

Hape Low Bat Harus Dikondisikan

Saya lupa. Ini alasan klise. Untuk lain kali, saya harus menkondisikan batre hape agar selalu siap sedia untuk melirik grup dan tidak ketinggalan diskusi. Minimal, saya bisa unjuk chat dulu sebagai peserta yang hadir dalam diskusi. Baru kemudian membaca hasil bedahan kak Ipeh Alena demi kenyamanan bersama. Saya menyesal karena hape lowbat.

Novel Yasunari Kawabata

Dari zaman saya mengenal sastra impor (terjemahan), saya memang sudah jatuh cinta pada penulis-penulis Jepang. Menurut saya penulis Jepang itu keren abis. Tingkat kerennya sudah saya sadari saat saya masih duduk di bangku Tsanawiyah. Karena itu pula, saya menyesal melewatkan kelas perdana yang dibedah oleh kak Ipeh Alena. Pembahasannya cukup menarik. Novel Yasunari KAwabata yang pernah saya taksir habis-habisan bertengger di rak buku abusyiek tapi belum pernah saya baca sama sekali, Ibu Kota Lama.

Perbedaan Sastra Serius dan Populer

Seperti saya tulis di atas, saya belum paham-paham benar yang dimaksud dengan sastra serius dan modern (populer). Pemahanan saya sama seperti kebanyakan orang awam sastra. Sastra serius ya sastra yang berkaitan dengan masa lalu dengan bahasanya bikin ngantuk di halaman pertama. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Bahkan sastra serius pun masih banyak yang penyampaiannya renyah.

Membaca ulasan singkat katagori sastra pun saya langsung tahu saya menyesal berada di kelas sastra hari ini. Harusnya saya cek di awal. Harusnya saya jaga kondisi hape agar nggak lowbat. Sekali lagi saya menyesal.

Grup Komunikatif

Saya bergabung dengan beberapa grup di WA. Jangankan ada diskusi yang sesuai dengan minat saya, bermanfaat pun seringnya tidak. Dengan menyesal kemudian saya meninggalkan grup karena unfaedah. Kelas sastra berbeda. Saya menyesal baru bergabung di kelas sastra tahun ini. Bulan Februari. Harusnya saya bergabung sejak dulu. Jangan sekarang. Saya menyesal telat kenal OWOB.

Saya juga menyesal baru kali ini menulis tentang OWOB. Padahal, begitu banyak topik yang bisa dibagikan untuk teman-teman bookish yang tidak bergabung dengan OWOB. Informasi dan hasil diskusi di kelas OWOB tentu saja bisa dibagikan di lapak yang sederhana ini.

Semoga catatan sederhana ini bermanfaat dan kalian yang membaca tidak ikutan menyesal.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *