"You are Connecting To My Words"

Come On Get It

Come On Get It

Judul Buku: Come On Get It • Penulis: Emi Widianingrum • Penerbit: LovRinz Publishing (Cirebon, 2018) • Tebal: viii+430 halaman • ISBN: 978-602-489-033-4


Ayumi Ndaru Soenarko, dia wanita yang ceria, bahagia, dan penuh semangat, tapi egois dan materialistis. Sebuah kesalahan membuat hidupnya yang indah berubah pahit dengan derita berturut.


Rajata Gerandra Rosagung, tak ada wanita yang tahan dengan pesonanya. Dia pria yang memiliki segalanya. Tampan, muda, seksi, tapi teramat bejat dan bodoh hingga menghancurkan masa depannya.

Arlingga Bagaskara, semua yang ada dalam dirinya meneriakkan kesempurnaan. Bukan hanya secara fisik dan finansial, dia juga memiliki hati seperti malaikat, idaman setiap wanita. Namun dia rusak dan tidak punya masa depan.

Kerasnya hidup membentuk ketiganya menjadi manusia baru yang mandiri, kuat, dengan pemikiran terbuka. Mereka memiliki perspektif berbeda akan arti bahagia sesungguhnya. Namun hanya yang memiliki keteguhan cinta yang kuat, yang dipilih Ayu untuk menemaninya mengukir kebahagiaan.

[*]


Ini dia novel yang aku sentil semalam. Novel terbitan indie yang saya baca sebagai penutup dan pembuka tahun ini. Dari blurb di atas, bisa dipastikan kisahnya penuh tantangan, bukan?


Apa yang asyik dari sebuah hubungan? Bagian ini silahkan jawab sendiri. Karena goal hubungan setiap orang beda-beda. Begitu pun dengan Ayumi. Meskipun dia sudah berusia kepala tiga, relationship goalnya cukup muluk.

Saya tidak menyebutnya matre. Meskipun sepanjang membaca kata itu berhasil menyabotase pikiran. Sebutlah dia realistis. Toh, cinta tidak cukup dengan obral janji dan kata saja. Penulis dengan cerdas menggiring pembaca tidak berpikiran jika Ayumi ini sangat matrealistis. Cara penulis menggambarkan Ayumi cukup piawai. Meskipun jelas-jelas dia memanfaatkan dua cowok kaya yang dekat dengannya.

Sudut pandang pertama dengan penceritaan sebagai narator, Ayumi seperti menjelma pada diri pembaca. Saya merasa jadi Ayumi dan berpikiran sedang menjalani takdirnya. Sekalipun ada beberapa bagian yang tidak sukai dari Ayumi.

Menurut saya, penulis menciptakan sosok Ayumi dengan kejujuran tingkat tinggi. Tidak menghakimi, tapi natural. Mengalir apa adanya. Sementara karakter Gie dan Arly, murni diceritakan dari sudut pandang Ayumi.

Yach, mungkin ini pula yang menjadi kekurangan sudut pandang orang pertama. Kita tidak bisa mengekplorasi bagian lawan dengan sisi yang berseberangan.

Overall, karakteristik tokoh sangat kuat. Aku samlai mengagumi ketiga peran mereka selama membaca.


Genre romance yang satu ini menurut saya collectable. Meskipun ada beberapa bagian yang hanya dinikmati oleh pembaca dewasa. Ya, bagi yang merasa usianya masih imut, hindari novel ini. Ini novel dewasa. Saya tidak menjamin efek samping yang ditimbulkan.

So far, saya sangat menyukai pemilihan diksi dan cara penulis memainkan kata. To the point dengan istilah keren abis. Meskipun beberapa makna memang menjurus ke arah yang bikin ngakak. Kemungkinan penerimaan bahasa seperti ini masih sangat subjektif, belum semua orang bisa menerimanya.

Tapi percayalah, jika selama ini Anda bisa menerima karya sekelas Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, atau penulis sekelas mereka. Harusnya penuturan kak @emiwidianingrum bukan apa-apa untuk dibaca. Tidak ada unsur negatif apalagi pornografi. Penulis mencoba jujur dan blak-blakan dengan karyanya.

Tema yang diangkat juga sesuai dengan fenomena perempuan kebanyakan saat ini. Perempuan berumur dan berkarir, cewek metropolis, ekspektasi lelaki idaman, dan… Cinta.


Apa yang salah dengan bahagia? Tidak ada yang salah. Karena setiap orang memilih cara masing-masing untuk berbahagia. Seperti yang dinasehatkan oleh ibu Ayumi kepada anaknya di halaman 193, “…bahagia saja atau bahagia lahir batin. Karena bahagia itu hanya kamu dan hatimu sendiri yang tahu. Asalkan kamu jujur pada diri sendiri.”

Penulis menggiring unsur luar yang mempengaruhi kondisi dalam kisah yang ia tulis. Dengan apik @emiwidianingrummenggiring nilai budaya dan ekonomi dalam tiap uraian.

Seperti Ayumi yang cenderung matre dan tergolong berani dalam bertindak terhadap lelaki. Satu sisi belum bisa diterima oleh budaya di Indonesia. Di sisi lain, kehidupan kota dan pergaulan juga tidak lagi melihat norma-norma ketika berbicara soal gaya hidup. Meskipun begitu, penulis tidak lantas menulis blak blakan detil ‘kelakuan’ sang tokoh untuk menarik pembaca ‘biru’.

Come On Get It masih ditulis dalam skala sangat sopan dengan permainan kata yang bagus. Di sini juga saya mengerti satu hal, crazy rich dan normal woman selalu berbenturan dengan satu simbol, kelas sosial.

Nah, jika kamu ingin tahu bagaimana menaklukkan crazy rich, Ayumi akan berbagi cara. Apalagi jika ia yang diincar setipe dengan Gie, cowok yang isi kepalanya hanya pakaian dalam wanita.

Apa yang menjadi nilai plus dan minus dari novel Come On Get It? Saya mencatat beberapa poin penting dalam novel ini.

? Keberagaman tingkah sosial yang kerap terjadi di masyarakat. Meskipun dipertentangkan, tetapi terjadi. Menceritakan hal-hal seperti ini jelas tidak mudah. Jika bukan dianggap pendukung, ya dianggap tidak humanis. Misalnya seperti menyisipkan isu LGBT.

? Kelas sosial yang selalu menjadi duri dalam hubungan. Terkadang kita sering berkata, “Ah, itu kan cerita lama.” Ya, kenyataannnya kisah klasik paling diminati dalam masyarakat. Menjadi tolak ukur sukses tidaknya sebuah hubungan.

? Hal tabu yang dianggap tidak sesuai dengan norma-norma. Meskipun bacaan dewasa, membaca novel yang sedikit blak blakan membicarakan hal-hal ‘orang dewasa’ juga tidak mudah. Bukan saja tidak mudah untuk dibaca di depan umum. Penulis pun berpikir panjang untuk menulis.

Terlepas dari 3 hal di atas, banyak sekali nilai moral lainnya yang bisa kita dapatkan dari kisah tiga anak muda ini. Realistis, sesuai dengan keadaan sosial sekarang, dan yang pasti menghibur.

Kekurangan novel ini terletak pada kisah yang to the point. Saya prediksikan, jika ditambah penjelasan lebih panjang juga akan menambah ketebalan novel ini. Atau penulis perlu membuat 2-4 novel lagi dengan ketebalan yang sama untuk membuat bagian pertokoh lebih menarik dan jelas.

Diperingatkan sangat keras, ini bukan bacaan remaja. Bukan teenlit.

Saya sangat berterima kasih untuk @emiwidianingrum yang memberi kesempatan baca dan review novel ini. Semoga mendapat kesempatan baca novel selanjutnya. Terus berkarya dan majukan literasi Indonesia. Kami menunggu karya selanjutnya.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *