Bookish

IG Review: Membongkar Kuasa Media

Hello Olivers, tidak disangka ternyata sudah masuk hari kedua di tahun 2019. Omg! Saya belum mulai apa-apa, ih! Dan berbagai insiden juga terjadi di hari ini. Abaikan! Fokus ke buku.

Buku pertama yang akan saya bahas bulan ini juga menjawab tantangan #indonesiamembaca tentang membaca buku berilustrasi. Ya, benar-benar buku full ilustrasi. Non fiksi, ilustrasi. Gimana asyiknya coba.

Buku siapakah itu? Yang jelas, masih dari penulis Indonesia. Apa isinya? Ini dia.

Tak seorangpun bisa lepas dari kuasa media. Setiap hari, selama berjam-jam kita menonton TV, mendengarkan radio, membaca surat kabar dan majalah, menonton bioskop, duduk di depan video atau berselancar di internet. Media memberi pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan manusia.

Membongkar Kuasa Media melacak relasi yang kompleks antara media, ideologi, pengetahuan dan kekuasaan. Sebuah penjelajahan yang mencerahkan tentang sejarah media, industri media, riset-riset media. Kita akan menelaah bagaimana audiens dibentuk oleh media dan pada gilirannya mengintrepretasikan isi dan makna dalam merepretasikan media. Buku ini juga membedah teknik analisa film secara kritis, dekonstruksi iklan serta mengenali bagaimana media membentuk opini publik dan melakukan imperialisme budaya.

Judul Buku: Membongkar Kuasa Media • Penulis: Ziauddin Sardar • Penerbit: Resist Book (Yogyakarta: 2018) • Tebal: 174 halaman • ISBN: 979-1097-41-0
*

Membongkar Kuasa Media merupakan buku non fiksi berilustrasi. Gambarnya besar-besar dengan teks yang singkat dan langsung pada poin yang akan dibahas. Sehingga semakin mudah untuk dipahami dan dianalisa.

Buku ini jelas bukan bacaan ringan jika isinya teks semua. Tapi dengan model narasi seperti ini, akan lebih mudah dipahami dan dicerna.

Saya merasa buku ini memang recommended buat mereka yang tidak suka membaca buku teks tebal. Apalagi jika berkaitan dengan topik yang kurang diminati.

Buku berilustrasi umumnya memang lebih disukai oleh para pembaca. Selain tidak banyak menganalisa kalimat, visual diyakini akan lebih mudah dicerna karena menunjukkan aksi si pelaku seketika.

Selama ini, buku ilustrasi yang saya baca kebanyakan buku anak-anak dan komik Jepang. Baru kali ini baca buku nonfiksi, berkaitan pula dengan bidang keilmuan saya, dilengkapi dengan gambar menarik dari halaman pertama sampai halaman terakhir. Meskipun tidak berwarna.

Buku ini sangat recommended buat mereka yang sudah muntah-muntah baca buku nonfiksi dan ilustrasi teks yang banyak beredar. Khususnya untuk topik pembahasan media.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *