Bibliolive

IG Review: Jurnalistik Islami

Lama nggak update review karena berbagai kesibukan. Ini adalah sisa-sisa perjuangan dari minggu lalu. Ada beberapa buku yang ingin saya bagikan, siapa tahu berguna sebagai rujukan dan pengetahuan untuk mahasiswa komunikasi dan jurnalistik. Sepertinya tersendat waktu. Saya yakin sekali ini adalah satu dari dua buku yang akan menutup tahun 2018.


Jurnalistik Islami sering kali dicemooh oleh beberapa kalangan dengan alasan tidak masuk ke dalam ranah jurnalisme. Sementara yang saya belajar lebih spesifik di jurusan International Journalism, jurnalisme baru adalah satu dari salah satu perkembangan jurnalisme di Asia. Khususnya di Asia Tenggara, aliran jurnalistik ini secara tidak langsung digaungkan oleh Janet E. Steele melalui penelitian-penelitiannya yang diakui di dunia akademisi.

Dalam Studi Jurnalisme Asia Tenggara, profesor saya menyebutkan, Indonesia sebagai penganut pers pancasila (gabungan dari teori pers tanggung jawab sosial dan pers media pembangunan) mengarahkan dan memberi kebebasan kepada berbagai aliran pers untuk lahir, berkembang, atau mati. Termasuk jurnalisme islami.

Jurnalisme Islam muncul pada tahun 1984 dengan penggagas majalah Sabili. Sabili satu dari beberapa media bawah tanah, memperkerjakan wartawan berdasarkan kemampuan mereka dalam berdakwah dan menyerukan isu Islam dengan metode dakwah bil qalam.

Majalah Sabili juga pernah dibredel bersama beberapa media vokal lainnya pada masa Soeharto. Mengatasnamakan sebagai media Islam atau bukan, ini adalah pilihan media itu sendiri. Jelasnya, Sabili adalah media Islam pertama yang dicetuskan di Indonesia.

Buku ini ditujukan sebagai acuan referensi. Terlepas kita setuju atau tidak dengan aliran jurnalisme ini.

Buku ini ditujukan sebagai panduan praktis bagi aktivis muslim. Di era globalisasi ini, aktivis muslim tidak hanya dituntut untuk vokal dalam menyuarakan dakwah dengan cara kritis. Para aktivis juga dituntut untuk mampu menulis tanpa keluar dari jalur yang Islami.

Ada 9 bab dalam buku ini, terdiri dari beberapa poin utama yang memang sangat intens dibahas di dunia jurnalistik.

? Latar Pemikiran
? Pengantar Jurnalistik (Pers)
? Tugas dan Peran Jurnalistik Islami
? Reportase, Mencari dan Membuat Berita
? Keterampilan Menulis
? Menulis “Lead”
? Menulis Feature
? Menulis Resensi, Artikel dan Esai
? Penutup: Manajemen Penerbitan Pers (Jurnalistik)

Dari segi daftar isi, buku ini cukup mewakili pokok bahasan mahasiswa jurnalistik yang pertanyaannya berkisar soal topik di atas. Terutama soal Feature dan membangun lead berita.

Lead dan feature. Dua hal yang diketahui oleh kebanyakan mahasiswa komunikasi dan jurnalistik, tapi sulit sekali dipraktekkan.

Lead (kepala berita) adalah paragraf pertama tulisan untuk memancing pembaca. Ia memiliki beberapa fungsi untuk membuat jalan cerita supaya lancar.

Sedangkan feature adalah karangan lengkap non fiksi yang dipaparkan secara kreatif dan mengandung nilai human interest. Feature sering kali bersifat subjektif.

Kedua topik ini saling berkaitan. Untuk menulis feature yang renyah, diperlukan lead yang menggoda. Untuk menulis lead yang menggoda, diperlukan umpan yang menarik.

Sering kali kesalahan dalam memahami keduanya menggiring kesalahan penulisan dalam menulis lead dan feature.


Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *