Bibliolive

IG Review: Sea Prayer

Ada yang sudah punya buku ini? Karya terbaru dari Khaled Hoseini yang diterbitkan oleh @penerbitqanita @mizandotcom dan aroma fenomenalnya akan seharum The Kite Runner.


Saya merasa beruntung sudah memiliki buku ini dan masuk ke tim tosca. Fortunetely, I am a tosca lover. Mendapat buku ini seperti dapat segepok uang buat beli koleksi lainnya dari penulis yang sama.

Blurb buku ini tidak panjang. Hanya sebait tulisan indah dan dua endorsement khusus.

“Sayangku Marwan, kupandang lekuk wajahmu di bawah sinar bulan yang nyaris penuh. Anakku, bulu matamy bagaikan kaligrafi, tertutup dalam tidur yang nyenyak. Dan kukatakan kepadamu, ‘Genggam erat tanganku. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi.”

Hanya sepenggal kata indah itu yang memberi gambaran bagaimana isi bukunya. Sementara itu, Kirkus menulis, “Sangat menggugah emosi. Membangkitkan simpati terhadap para pengungsi dan keadaan buruk yang mereka hadapi.”

Publisher’s Weekly menulis, “Sangat emosional; menggambarkan kasih sayang seorang ayah kepada anak lelakinya.”

Bisa dibayangkan bagaimana trenyuhnya dalam membaca buku ini. Saya pun punya pengalaman tersendiri dalam membaca buku full color ini. Sayangnya, menarik buat @agha.arnis tapi masih terlalu berat buatnya memahami perang dan kejamnya dunia tanpa perdamaian.


Cahaya rembulan menerangi pantai, tempat seorang ayah menimang anak lelakinya yang tertidur. Mereka menanti fajar merekah, menanti perahu tiba. Sang ayah bercerita tentang musim panas ketika ia masih kanak-kanak, mengenang rumah kakeknya di Suriah, gemerisik pepohonan zaitun yang diterpa angin sepoi-sepoi, embik kambing-kambing neneknya, dentang panci-panci masaknya. Dia juga mengenang kota Homs, dan jalan-jalannya yang ramai, masjid, dan pasar raya.. Sebelum bom bom berjatuhan dari langit, dan mereka harus mengungsi.

Ketika matahari terbit, sang ayah dan anak, serta semua pengungsi yang berkumpul di pantai, harus mengumpulkan barang bawaan mereka dan mulai melakukan perjalanan laut yang penuh bahaya demi mencari suaka.


Cahaya rembulan menerangi pantai, tempat seorang ayah menimang anak lelakinya yang tertidur. Mereka menanti fajar merekah, menanti perahu tiba. Sang ayah bercerita tentang musim panas ketika ia masih kanak-kanak, mengenang rumah kakeknya di Suriah, gemerisik pepohonan zaitun yang diterpa angin sepoi-sepoi, embik kambing-kambing neneknya, dentang panci-panci masaknya. Dia juga mengenang kota Homs, dan jalan-jalannya yang ramai, masjid, dan pasar raya.. Sebelum bom bom berjatuhan dari langit, dan mereka harus mengungsi.

Ketika matahari terbit, sang ayah dan anak, serta semua pengungsi yang berkumpul di pantai, harus mengumpulkan barang bawaan mereka dan mulai melakukan perjalanan laut yang penuh bahaya demi mencari suaka.


Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *