Bibliolive,  My Book

Behind The Scene Penulisan Buku Mantra Awan (Ulfa’s Version)

Dear, Olivers.

Menyambut bedah buku Mantra Awan tanggal 27 November 2018 ntar, saya akan membahas behind the scene 5 tulisan saya di buku ini. Termasuk Mantra Awan, yang dijadikan judul utama antologi tiga penulis perempuan Aceh ini.

Judul Buku: Mantra Awan • Penulis: Cut Dira Miranda, Ulfa Khairina, Khiththati • Penerbit: DPKA (Banda Aceh, 2017) • Tebal: 112 halaman • ISBN: 978-602-8307-31-4

Mantra Awan menjadi pembuka sekaligus cerita utama di antologi ini. Selaku penulis, sebenarnya cerita ini saya tulis berdasarkan cerita almarhum ayah tentang mantra petani kopi. Zaman dulu petani kopi merapalkan mantra ketika bertanam kopi. Itu ide ceritanya. Sisanya fiktif. Sengaja dibuat horor agar pembaca merinding disko. Dan editornya juga mengaku, selama proses editing mengalami peremangan bulu roma. Dianggap seram. Beberapa pembaca juga mengakui hal yang sama.

Cerita kedua yang menurut editornya juga seram dan meremangkan bulu roma berjudul ‘Paya Ilang’. Paya Ilang adalah nama tempat yang dikenal mistis. Menurut almarhum ayah saya, asal usul nama Ilang berasal dari genangan darah para korban kebiadaban PKI. Ilang berarti merah. Didasarkan pada warna darah. Sedangkan kisah matinya siswa di cerpen ini memang sesuai dengan kejadiannya.

Nasi Berkat juga berdasarkan pada kebijakan masyarakat lokal. Kebiasaan bersama dalam menyelamatkan budaya. Cerita ini juga berdasarkan ide dari sosial budaya di lingkungan domisili saya di Takengon.

Meja Makan bercerita tentang keinginan seorang anak mempunyai meja makan. Baginya meja makan menunjukkan kelas sosial. Tapi dia tidak sadar jika tidak semua orang membutuhkan meja makan untuk berkomunikasi.

Baju Lebaran bercerita tentang nilai baju lebaran yang sama pentingnya dengan perayaan lebaran itu sendiri. Khususnya di Aceh yang kerap menempatkan baju lebaran adalah sesuatu yang penting untuk dibahas jelang hari raya.

Selain lima tulisan saya, masih ada 7 cerita lainnya yang dipublikasikan di buku ini. Cerpen dan feature. Feature merupakan karya jurnalistik yang keseluruhannya ditulis oleh Khiththati.

Dalam menulis, saya lebih suka menggunakan sudut pandang pertama. Narator aktif. Pasalnya, ketika saya membaca buku lain, saya juga lebih suka membaca cerita dengan narator aktif. Feelnya lebih dapat.

Dari kelima cerpen yang saya tulis hanya ada satu cerita dengan sudut pandang ketiga. Meja Makan. Itu pun saya tulis dengan berbagai pertimbangan.

Sementara cerpen lainnya, saya berpikir keras untuk menulis. Bagaimana caranya membuat cerita hidup lebih hidup.

Tema yang saya angkat di buku ini sebenarnya sesuai dengan instruksi dari pihak dinas arpus. Mengandung nilai sosial budaya ekonomi masyarakat. Dengan deadline hanya dua hari, saya bingung harus mengangkat soal apa. Ide-ide itu begitu saja melintas setelah ngobrol dengan mamak. Mamak cerita tentang kopi yang sudah diremajakan lagi di kebun, ada kiriman nasi berkat dari tetangga, dan salah cerita tentang guru di MAN Paya Ilang yang datang berkunjung.

Dalam satu malam cerita itu selesai. 1 jam jelang deadline masuk tahap revisi dan edit typo. Lalu kirim.

Dua bulan kemudian editornya telepon lagi. Bertanya, apakah masih ada stok untuk melengkapi jumlah halaman? Saya nggak ada ide. Serius!

Tapi kondisinya pas lagi lebaran. Dan saya baru jahit baju lebaran sebanyak lima buah. Baju lebaran terbanyak dalam hidup. Meja makan sendiri idenya karena kami punya meja makan. Tapi tidak menggunakan sebagaimana menstinya meja makan tersebut. Awalnya judul cerpen ini adalah Bebalen, dipan dalam bahasa Gayo. Kemudian saya teringat seseorang ketika ingat meja makan.

Bisa dikatakan, semua cerpen ini idenya lahir in minute.

Nilai moral yang terkandung dalam novel ini memang variatif berdasarkan sudut pandang pembacanya. Jika dikaji secara akademis, maka lebih baik agar menghadiri di acara ‘Bedah Buku Mantra Awan’ di hotel @kyriadmurayaaceh Selasa, 27 November 2018. Buku ini akan dibedah oleh seorang akademisi profesional dan dimoderatori oleh seorang sastra, lho. Saya jadi deg degan.

Menurut saya sendiri selaku salah satu penulis. Tiap cerpen memiliki kesamaan nilai moral, yaitu bijaksana dalam memandang suatu budaya. Jika dikaji satu persatu cerpen, maka beda pula nilai yang terkandung.

#mantraawan memiliki kesan mistis. Tapi sebenarnya saya ingin menyampaikan bahwa Aceh sudah dikenal dengan kekayaan kopinya sejak zaman Belanda menjejak di Indonesia Raya. Mereka sudah mengenal kopi Aceh jauh sebelum trend Gayo Arabica Coffee menjadi daya jual kedai kopi di seluruh Indonesia. Sementara mantra yang diucapkan hanya sebuah kekuatan dan kepercayaan secara spiritual. Bahwa kata-kata baik yang diucapkan juga berpengaruh baik pada makhluk hidup selain manusia.

Paya Ilang juga memiliki unsur mistis. Namun pesan yang ingin tersampaikan di sini sederhana saja. Manusia bisa berencana. Sehebat apapun ia, akan tiba waktunya Tuhan akan ambil bagian dalam menyelesaikan rencana itu. Baik atau buruk.

Di awal paragraf Mantra Awan saya menulis tentang terminal. Sementara dalam cerita saya menulis paya yang telah menjadi terminal ini menghisap jiwa raga manusia.

Nasi Berkat berpesan bahwa budaya yang turun menurun serta diikuti oleh satu kelompok budaya lain bukan lagi disebut budaya. Tapi menjadi kebiasaan baik bagi masyarakat.

Meja Makan berpesan bahwa tidak semua yang kita anggap baik juga akan baik untuk orang banyak.

Baju Lebaran bercerita tentang kebiasaan sjatu kelompok. Biasa itu bukan tentu benar. Kebenaran tidak selalu datang dari kebkasaan dari kelompok.

Hitungan jam menuju #bedahbuku#mantraawan di @kyriadmurayaaceh hotel bertepatan dengan berakhirnya #dailyreview Olivers. Saya tidak merasa deg degan. Apa akan dibantai habis, ya?! Memgingat nara sumbernya super keren.

Ada beberapa alasan mengapa kalian harus membaca buku ini. Sebenarnya tidak objektif karena selaku penulis, justru saya mempromosikan diri sendiri.

📖 Ditulis oleh tiga perempuan Aceh yang dipilih oleh pihak deposit Dinas Arsip dan Perpustakaan Aceh (DPKA). Menulis tentang Aceh dan segela aspek sosial dan budayanya.

📖 Besok akan dibedah oleh nara sumber yang merupakan Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unsyiah, Dr. Muhammad Harun Al Rasyid, M.Pd dan dimoderatori oleh Prof. Dr. Yusuf Aziz, M.Pd.

📖 Memuat kisah dari berbagai kawasan di Aceh. Meskipun tidak mencakup ke-23 kabupaten, namun perwakilan dari kearifan lokal sudah diwakilkan.

📖 Ada feature yang ditulis oleh Khiththati dan sebelumnya pernah dipublikasikan di Aceh Feature Service. Tulisan ini memuat fakta dan cocok dijadikan referensi.

📖 Bukti bahwa Aceh juga punya karya.

Berminat membacanya, Olivers? Sayangnya, buku ini tidak dijual di toko buku. Tapi bisa dicek di setiap perpustakaan daerah masing-masing.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *