BP Network,  Traveliner

5 Tempat Makan Siang di Banda Aceh dan Menu Ayam Andalan

Saya foodie yang malas ke dapur. Itu yang saya tulis pada postingan sebelumnya. Sayangnya, saya juga tidak bisa menghindari gerak mulut untuk mengunyah makanan enak. Inginnya makan terus dan terus. Bagaimana pun, menjadi seseorang dengan penikmat makanan jauh lebih menyenangkan dari pada saya yang harus memasak. Meskipun tidak menolak kemungkinan kalau saja juga memang (terpaksa) ke dapur. Memasak.

Ada juga yang rempong mengatakan saya tidak bisa memasak. Hei, hei, hei, siapakah gerangan yang tidak mengenal saya dengan baik? You don’t know me so well. Saya bisa memasak. Bukan ala-ala chef di TV. Setidaknya empat lima menu bisa saya sulap hanya dari satu bahan utama. Misalnya kentang, ayam, daging sapi, tempe, dan lain-lain. Ini sudah mematahkan kalimat saya yang tidak bisa memasak. Agree?

Ada saatnya saya memang sibuk bekerja dan tidak pulang ke rumah untuk memasak. Tentu saja, sebagai working mom dan zhangfu yang tidak makan siang di rumah, saya pun lebih nyaman dengan makanan luar. Meskipun banyak yang berkata tidak sehat dan pemberosan. It’s okay. Ini soal selera.

Well, ada lima rekomensasi tempat makan siang di kota Banda Aceh yang recomended banget untuk didatangi saat makan siang, Olivers. Bahkan saya memesan menu itu-itu saja karena memang rasanya maknyus. Sebutlah itu menu andalannya.

[5]. Mbak Moel Lamnyong

Cafe ini sudah lama sekali berjaya. Sejak bunda saya masih kuliah dengan menu andalan kolding alias kolak dingin. Ketika saya menginjakkan kaki di Banda Aceh pertama kali, bunda berpesan agar sesekali ke Mbak Moel untuk makan kolding. Waktu itu cafenya masih berada di kawasan Simpang Galon Darussalam. Di ruko yang sempit dan sedikit dekil. Sekarang cafenya sudah pindah ke Lamnyong, di depan Gerai Ayam Lepaas, pas di samping Perpustakaan Wilayah.

Saya memang tidak pernah makan kolding lagi sejak beberapa tahun ini. Menu yang saya sukai justru yang mengenyangkan dan membuat perut berbahagia. Nasi Ayam Bakar dan soto ayam. Dua menu ini memang andalan sekali. The bestnya di Mbak Moel. Belum lagi jika ditemani segelas teh dingin atau jeruk peras. Hmmm, segarnya di tengah terik siang.

Nasi ayam bakar yang disediakan di Mbak Moel tidak begitu mahal menurut saya. Masih standar seperti yang disediakan oleh gerai makanan dengan menu utama ayam. Pembeda antara Mbak Moel dengan gerai ayam lainnya terletak pada bumbu ayam bakarnya. Kecapnya memang terasa sekali. Tapi bumbu ayam bakarnya memang spesial. Saya belum menemukan pesaing di Banda Aceh. Ayamnya juga sangat lunak. Tulang belulangnya bisa dengan mudah dipisahkan dari daging yang melekat. Sementara sotonya itu, tidak begitu banyak santan. Perasan jeruk nipis yang berpadu dengan toge setengah matang dan suwiran ayam semakin menggoda lidah untuk terus bergoyang.

Untuk makan dengan menu di atas, Anda tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Tidak sampai Rp 50 ribu, keluar dari Mbak Moel Lamnyong perut sudah pasti kenyang sampai malam. Oh, ya! Hari Jum’at Mbak Moel tidak buka, ya. Jadi kalau mau makan siang di sini, pastikan tidak membuat rencana pada hari Jum’at siang.

[4]. Ayam Penyet Wong Solo

Ayam penyetnya lunak dan kriuk tanpa tepung kriuk. Poin istimewanya terletak pada sambal coleknya. Cabe rawit hijau yang digiling dengan minyak dan bumbu rahasia. Ditambah dengan sup bawaan yang hanya seucrit itu. Saya tidak tahu bumbu rahasia apa yang ada di dalam ayam. Saya gagal menebaknya dan gagal juga mencoba membuat sambal dengan rasa yang sama. Di ayam penyet Wong Solo ini memang inilah yang menjadi andalannya. Meskipun ada beberapa menu ayam lainnya dan menu lainnya, saya tetap akan memilih paket ayam penyet yang hanya dibandrol dengan harga Rp 22 ribu ini.

Selain ayam penyet dengan cabe ijo, ada cah kangkung terasi yang super best. Jika beruntung dan seafood sedang murah, ada udang yang menari-nari menyembul dari balik potongan hijau daun kangkung di dalam cah kangkung. Rasanya hmmm, jangan tanya. Tidak pernah saya merasakan cah kangkung yang enak selain di Wong Solo ini. Sejauh ini, cah kangkung Wong Solo masih the best di lidah saya.

Ada beberapa gerai Wong Solo di Banda Aceh. Di antaranya di Lamprit, berseberangan dengan Rumah Sakit Zainal Abidin, dekat Haba Cafe. Di Simpang BPKP, dekat dengan resto De’ Nanggroe dan Gedung Amel. Pas di Lampu Merah sebelah kanan dari arah kantor BPKP. Di Neusu, di dekat lapangan KODIM itu. Di antara semua lokasi ini, saya paling suka makan di Neusu. Tapi paling sering makan di Simpang BPKP.

[3]. Ayam Lepaas

Di mana-mana, menu ayam lepaas katanya sama saja. Kelebihan ayam lepas terdapat di racikan bumbunya yang tidak biasanya. Ada tiga pilihan bumbu; lepaas, lemaas, dan sambal ijo. Lepas singkatan lemas pedas dan lemas singkatan dari lemas manis. Untuk kategori sambal ijo, sepertinya sudah tidak diproduksi lagi karena kurangnya minat orang Aceh. Dulu saya paling doyan dengan bumbu lepas, sekarang untuk makan bumbu lemas pun tidak bisa habis. Tiga tahun di Beijing dengan sensasi pedas berbeda tidak bisa mengajak kompromi perut dan lidah untuk kembali kompromi. Harganya tidak mahal, perporsi dibandrol Rp 22 ribu.

Selain di Wong Solo, Ayam Lepaas juga menyediakan cah kangkung enak selera saya. Meskipun tidak seyummy di Wong Solo, saya suka rasa kuah cah kangkung di Ayam Lepaas yang pedas-pedas manis. Satu porsinya dihargai Rp 10 ribu.

Di Banda Aceh, ada beberapa gerai dibuka. Salah satunya di Lamnyong, dekat ke arah dua kampus jantong hatee rakyat Aceh.  Ayam Lepaas juga membuka cabang di Jakarta dan Kuala Lumpur, Malaysia.

[2]. I am Geprek Bensu

Setahun belakangan, I am Geprek Bensu memang sedang ngehits di Banda Aceh. Bukan saja cara menulis ayamnya yang tidak biasa, katanya beras yang digunakan juga tidak kaleng-kaleng. Beras kampung alias beras dari dataran tinggi Tanoh Gayo yang ditanam di dataran rendah dekat Danau Laut Tawar. Katanya lagi, pemilik gerai ayam ngehits ini memang dari Takengon.

Menu andalan yang paling saya suka dari I am Geprek Bensu ini adalah nasi ijo sambal matah. Sambal matahnya berasa sekali. Irisan serai dan bawang merah serta garamnya sesuai dengan lidah saya. Untuk satu porsinya dihargai sebesar Rp 20 ribu.

Jika malas ke Lambhuk untuk makan menu ini, bisa menggunakan jasa Gojek. Ajak teman makan menu yang sama atau pilih menu di resto yang sama biar murah di ongkir, Olivers.

[1] Cafe Inspirasi Kopi

Dulunya bernama Coffee Cho. Sekarang berganti dengan Inspirasi Kopi. Konsep cafenya masih sama. Rasa Frappenya juga masih sama. Ada menu yang selalu menggoda untuk diorder seperti ayam bugil, ayam cetar, dan berbagai nama ayam lainnya. Jika tidak tertawa, Anda pasti akan menggeleg-geleng kepala. Saya sudah mencoba semua menu yang tertulis di daftar. Pilihan saya jatuh pada ayam cetar.

Entah bumbu rahasia apa yang terkandung dalam sambal coleknya, yang pasti saya selalu merasa ayam cetar ini luar biasa lezatnya. Rasanya pecah di dalam mulut. Seperti makan menu rumahan setelah lama bertualang dengan menu yang asing di lidah.

Soal harga, tidak jauh beda dengan menu-menu lain di atas. Tapi, rasa soal selera. Bisa jadi urutannya berbeda. Sebagai penikmat ayam dan fans berat ayam, saya memberi perangkingan berdasarkan selera lidah saya juga. Eits, sebenarnya ada satu lagi yang belum tersebutkan. Ayam Pramugari. Tapi sudahlah, akan saya bahas di lain waktu.

Olivers yang di Banda Aceh, kalian suka yang mana?

Author, journalist and student in the real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at Islamic University of Ar-Raniry, Banda Aceh. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *