BP Network

You Don’t Know Me So Well

Kalau zaman saya kuliah dulu ada SM*SH dengan lagunya you know me so well  yang amat populer, kali ini saya ingin menghakimi dengan kata sebaliknya. You don’t me so well. Iyalah, kita kan belum berkenalan. Ada pula yang sudah mengenal saya tapi masih sok tahu dengan memberikan deskripsi yang eum… begitulah. Kadang membuat berada di awang-awang. Sering kali membuat saya menggelinding ke dalam jurang.

Selain mengenal saya dengan beberapa informasi umum seperti; bisa menulis, sudah menerbitkan buku, hobi membaca, emaknya si Alexa, dan beberapa informasi umum lainnya. Ada lima fakta yang tidak diketahui oleh banyak pihak. Seringnya mereka sangat kreatif membuat rangkaian kata tajam untuk menusuk. Tidak mau menerima pembelaan diri. Sebenarnya, apa salahnya sih memanfaatkan dua telinga untuk sekedar mendengar. Walaupun yang terserap dan tersimpan di otak hanya beberapa kata saja?

Bagi yang serius ingin tahu saya so well, berikut lima fakta tentang saya. Mohon jangan terkaget-kaget.

Menghindari Meminjam

Bagi saya, lebih baik memberikan pinjaman daripada harus meminjam. Terutama bagi barang yang besar dan harganya bernilai. Untuk barang besar pun, saya sangat menghindari memberi pinjam kepada orang lain. Misalnya saja seperti motor, laptop, emas, kamera DSLR, dan lain-lain. Jika ada seseorang yang berhasil membawa laptop saya dengan status ‘dipinjami Ulfa’ pastilah dia seseorang yang sangat dekat dan saya percaya. Belakangan saya juga mulai pelit dengan buku. Soalnya satu set Harry Potter saya tidak pernah kembali setelah saya pinjamkan.

Saya menghindari meminjam karena sejak kecil dan terbiasa dengan didikan, “Jangan suka meminjam milik orang lain. Jika terjadi sesuatu, kita belum tentu bisa menggantinya.” Jadi, ketika teman-teman banyak yang mencibir saya tidak bisa mengenderai sepeda motor, terkadang saya lelah membuat cerita berulang. Intinya saya tidak mau meminjam. Jika terjadi sesuatu, saya harus membayar. Urusan selesai? Tidak. Nama saya pasti akan diseret-seret sebagai pelaku peruskan atau gores kecil pada sepeda motornya. Jika bukan milik sendiri, saya tidak akan coba-coba. Lebih baik ditebengi dan dicibirin dengan kata tidak bisa bersepeda motor daripada mendapat kesialan berganda.

Jika barang kecil seperti baju, kerudung, buku, sepatu, dan lainnya. Jika memang masih bisa merogoh kocek untuk beli sendiri, lebih baik beli dan gunakan milik sendiri. Prinsipnya memakai milik sendirijauh lebih baik walaupun sudah bulukan. Tapi kalau ada teman yang meminjam kepada saya, selagi bisa saya pinjamkan, maka ada kata yang keluar, “Oh, tentu boleh.”

Pengidap Audotory Memory

Saya lebih nyaman menyebutnya begitu. Sebagian orang menyebutnya mendendam. Terkadang mengingat sesuatu dengan berlebihan dengan dendam itu kata orang beda tipis. Tapi serius, saya sedikit tipikal auditory memory. Terutama mengingat kesalahan orang. Sihyyyy, abaikan!

Semua hal yang dikatakan oleh orang lain akan terekam jelas di kepala. Seperti jingle iklan kampanye parpol. Merauni sampai ke saraf otak terkecil. Apalagi jika yang dikatakan itu sesuatu yang sangat buruk tentang saya, teman, atau sesuatu yang muncul sebagai pertanyaan besar di kepala saya.

Pernah satu hari teman saya melahirkan. Kemudian sahabatnya berkata pada saya, “Kakak saya lahirannya normal. Prematur. Belum sampai sembilan bulan. Masih delapan bulan.”

Waktu itu analisa bodoh saya tentang kelahiran hanya menimbulkan pertanyaan, “Kok bayinya selamat? Bukannya bayi yang lahir delapan bulan akan meninggal, ya?” Tapi saya tidak pertanyakan soal ini.

Ketika bertemu dengan teman saya, dia malah membully dan mengatakan jika bayinya juga lahir prematur, “Harusnya bulan depan. Sebulan lebih lagi. Eh, malah lahir sekarang. Ya sudahlah.”

Tapi kata-kata itu terekam jelas sekali di kepala saya. Terekam menahun. Lima tahun kemudian ketika bertemu lagi dengannya, dia berkata hal yang sebaliknya. Tepat ketika saya menunggu kelahiran anak. Dia bercerita, “Anak aku itu lahirnya 37 minggu. Ini usia yang pas sebenarnya untuk bayi. Dia sudah siap untuk lahir.”

Itu hanya satu yang saya ungkapkan. Masih banyak kata-kata lain yang hinggap di kepala saya dan tidak bisa dilenyapkan. Sebagian lagi malah ada yang tersangkut ekspresi ketika dia bicara dengan intonasi tertentu. Lengkap dengan kalimatnya tanpa bisa hilang. Sudah menahun.

Dulunya saya pikir ini kelemahan. Bertahun saya cari cara untuk menghilangkan kebiasaan buruk ini. Istilah auditory memory baru saya dapatkan ketika di Beijing. Seorang pramuniaga toko yang memberitahu saya. Seorang dosen saya juga mengatakan hal yang sama. Istilah yang sama juga saya dapatkan dari novel Ary Nilandari berjudul Write Me His Story.

Kalian bisa membayangkan bukan? Bagaimana ketika dosen kalian meremehkan kemampuan menulis tesis dengan kalimat yang membuat down. Kalimat itu masih etrngiang di kepala saya. Padahal itu sudah berlalu hampir tiga tahun lalu. Saya masih terngiang saja saat ini.

Avoid Kitchen and Foodie

Ini memang agak aneh. Saya agak tidak suka ke dapur. Tapi suka sekali makan. Bukan makanan yang dimasak oleh orang. Satu-satunya makanan yang saya sukai itu jika bukan makanan yang dimasak oleh mamak adalah masakan yang dibuat oleh adik kandung saya. Luar biasa enak. Jika masakan orang lain, masih milih-milih. Meskipun saya makan, biasanya tidak akan ketagihan. Menikmati hanya sekedar menghargai.

100+ Wishlist

Saya termasuk satu dari orang-orang yang menulis wishlist di jurnal harian. Termasuk juga resolusi tahunan. Tapi mungkin saja saya orang yang tidak menulis ‘membeli mobil’ dan ‘menikah’ di dalam list tersebut. Jika kebanyakan perempuan menulis memiliki mobil, rumah mewah, menikah pada usia, cowok idaman, P*S dan sejenisnya. Saya tidak. Menurut saya, apa yang saya tulis di wishlist akan membawa saya kepada hal-hal tersebut.

Salah satu wishlist saya tuliskan adalah: menjadi penulis profesional, menerjemah banyak buku dan menjadi editor. Ya, itu keinginan saya. Saya berjuang untuk mewujudkannya. Dalam proses perjuangan dan perwujudan, ketika sudah terwujud tentu saja materi akan munyusul. Ada dengan sendirinya ketika memang sudah menjadi kebutuhan.

Wishlist yang saya tulis lebih kepada urusan yang berkaitan dengan aksi. Bukan objek yang ingin diperoleh.

Book’s Bestie

Jika buku memiliki nyawa dan bisa bicara, pastilah mereka akan berkata, “Ulfa adalah sahabat saya.” Saking baik hatinya saya kepada mereka. Bagi saya, buku memang sahabat terbaik. Tidak pernah berkhianat. Apalagi menyembunyikan sesuatu.

Nah, itu saja fakta aneh dari saya. Sekarang, apakah you know me so well?

Author, journalist and student in the real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at Islamic University of Ar-Raniry, Banda Aceh. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *