"You are Connecting To My Words"

Galauisme; Tidak Selamanya Galau Itu Pahit

Galauisme; Tidak Selamanya Galau Itu Pahit

Sebagai giliran pertama #ngewagerinbuku tentu banyak yang penasaran. Apa yang akan dibahas oleh @habibunnazzar dalam buku putih super kece ini.

Pada notasi buku dimulai dengan endorsement dari Gola A Gong yang menulis, “Galau nggak selamanya pahit bagai empedu. Ada happy dan lucunya kayak pop corn sebungkus berdua. Galau bisa buat kita kuat. Galau bikin kita ngerti step berikutnya musti gimana. So, galau ibarat happiness yang tertunda.”

Dan Bibun sendiri menulis dengan cetak miring, “Gue sudah sampai pada titik pasrah. Rasanya sudah tak ada harapan lagi. Berkali-kali gue menghubunginya, tapi operator selalu berkata, “Nomor yang Ansa tuju sedang selingkuh, cobalah setelah ia putus.”

Dan blurb tertulis, “Galauisme menceritakan kegalauan anak muda bernama Abib dalam menemukan cinta sejatinya. Mengawali perjalanan cinta di dunia maya yang absurd. Setelah cukup mental di dunia maya, ia pun memulai petualangan di dunia nyata. Ia selalu bermasalah dengan makhluk bernama ‘cewek’. Cerita cintanya, gak cuma ditolak, dikacangin, ditolak sama mantan, dibikin baper.

Baca novel kocak ini kamu bakal ngerasain yang namanya galau sampai akhir. Sebentar-sebentar ketawa, sedih, kesal, geli, komplet deh!

Judul Buku: Galauisme • Penulis: Habibun Nazar • Penerbit: Puspa Populer (Jakarta: Cet 1, 2018) • Tebal: 213 halaman • ISBN: 978-602-214-014-4

Satu quote dari @habibunnazzar di halaman 19, “…cinta pertama itu bukan tentang hal terindah yang dijalani bersama orang yang disayang, melainkan tentang kejadian yang membuat kita paham apa itu ‘cinta’ dan apa itu ‘sakit'”.

Nah, apa arti cinta pertama buat kamu, Olivers?

Inilah yang hendak diceritakan oleh Bibun dalam novel galaunya. Alurnya ditulis dengan alur campuran. Bercerita tentang si Bibun atau Abib yang sedang bercerita pada seorang cewek bernama Alda.

Semua konflik di dalam novel ini muncul tenggelam bersamaan dengan munculnya sumber kegalauan si penulis. Berbagai nama dengan berbagai masalah dan penyakit. Jujur saja, saya sempat kesal sekesal-kesalnya dengan salah satu cewek yang saya anggap terlalu ‘gampang’ pindah-pindah hati. Sebagai cewek, saya merasa malu harus mengaku di golongan gender yang sama dengan dia.

Jika penasaran dengan si cewek, sebaiknya memang harus dibaca sendiri. Agar rasa sakit dan kekesalan yang sama bisa dirasakan secara full.

Konflik yang dipilih oleh si penulis sederhana. Sangat mudah. Tapi semua orang bisa merasakan dan mengalami konflik tersebut. Ketika membaca, saya menerka-nerka keputusan apa yang dilakukan Bibun untuk menyelesaikan masalah. Intinya, cara yang ditembuh Bibun membuat mulut saya berulang kali memproduksi kata, “Wah!”

Secara tema, novel ini memang umum diminati oleh remaja. Cinta dan semua antek-antek galaunya. Masalah yang kerap diidap oleh anak muda. Cinta dan gagal move on.

Kalian penasaran? Wajib pakai banget untuk membaca novel ini. Terutama jika kalian pengikut paham #galauisme sepanjang mengisi jurnal cinta.

Olivers, pernahkah kalian ikutan galau dengan kegalauan orang lain? Ya, sedikitnya penokohan dalam #galauismejuga menyentil orang lain untuk ikutan galau.

Tidak banyak tokoh yang dimunculkan dalam novel ini. Hanya beberapa saja. Abib alias Bibun menjadi tokoh utama dengan penceritaan sudut pandang pertama. Penulis tidak menggunakan kata ganti aku, tapi gue.

Penokohan dengan kata gue lebih mendekatkan emosional penulis kepada pembaca. Terutama untuk pembaca remaja yang masih berseragam abu-abu.

Kisah cinta dan galaunya Bibun sebenarnya diceritakan kepada Alda. Sosok yang menimbulkan pertanyaan besar di benak saya dari awal membaca. Siapa si Alda ini? Apa hubungannya dengan Bibun?

Jawaban baru terungkap pada bab-bab terakhir. Ketika alur yang digunakan sudah mulai maju. Tidak ada lagi penceritaan kepada Alda sambil cubit-cubitan dan makan cemilan.

Sebagai narator aktif, Bibun menggiring pembaca ikut merasakan semua masalahnya dengan para cewek. Mulai dari cara mendekati sampai cara menghadapi kegalauan.

Well, soal gaya bahasa @habibunnazzar dalam @galau_isme memang sangat sederhana. Bukan dalam artian miskin kosa kata, ya. Apa yang dimaksud sederhana di sini tentang kosa kata yang digunakan bisa dipahami oleh semua kalangan. Banyak kutipan percakapannya. Jadi, bagi yang tidak suka membaca narasi paragraf panjang. Novel ini sangat recommended.

Ada beberapa unsur luar yang mempengaruhi bagaimana novel ini tercipta. Menurut pandangan saya, generasi muda yang masih berseragam abu-abu kebanyakan memang lagi dilanda galau tingkat tinggi. Khususnya tentang pencarian sandaran hati.

Penulis yang pernah memiliki pengalaman serupa di masa mudanya mencoba berbagi dengan kawula muda tentang kegalauannya dan cara menghadapi kegalauan ini.

Setelah mengulas panjang lebar tentang isi buku, sudah saatnya saya memberikan rekomendasi buku novel ini untuk para pembaca.

📖 Buku ini wajib dimiliki dan layaknya dikonsumsi minimal sebulan sekali oleh para galauers. Berseragam sekolahan. Ini didedikasikan untuk kalian, guys.

📖 Para quote hunter, ada puluhan quote tentang cinta dan patah hati yang berserakan dari halaman pertama. Exist di sosmed semakin gampang.

📖 Tidak suka baca novel tebal-tebal? Maunya selesai sekali duduk, satu hari, atau tiga hari? Paling lama 1 minggu? Pilih @galau_isme saja, guys.

📖 Bukan pembaca sastra dengan bahasa bertele-tele atau istilah yang setinggi langit? Aman. Galauisme nggak begitu. Tidak akan berefek samping kepala nyut-nyutan atau harus cari obat di KBBI, kok.

📖 Pengen ngakak-ngakak buat menghilangkan galau? Segera ke toko buku terdekat. Atau pesan melalui online langsung ke distributor @puspaswara ya guys.



1 thought on “Galauisme; Tidak Selamanya Galau Itu Pahit”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *