Bibliolive

Dizkir-Dzikir Cinta; Ketika Cinta Berzikir Untuk Kedua Kali

Rusli adalah seorang pemuda asal Jawa Timur yang mondok di pesantren Kiyai Mahfud. Ada banyak hal yang dia dapat selama mondok di sana. Teman, saudara, pengetahuan, dan cinta. Dia menemukan dirinya jatuh cinta pada seorang gadis bernama Sukma, yang dia temukan dalam keisengannya merogoh sukmo.

Kedekatan hati mereka semakin diperkuat ketika dia menjadi ustadz pengganti pelajaran tilawah di asrama putri. Sukma yang sudah semakin jatuh cinta pada Rusli mengirim surat kepada lelaki ini.

Hubungan mereka berlanjut, tetapi Fatimah pun tidak bisa menjauh dari sisi Rusli. Dan mereka menikah karena alasan perjodohan. Sayangnya, cintanya pada Sukma belum pudar. Ketika Fatimah meninggal, Rusli meminang Sukma. Mereka mempunyai anak, tapi pernikahan mereka juga tidak lama. Rusli meninggal ditabrak truk dan Sukma menjadi janda anak satu.

Sepintas, novel ini akan mengingatkan kita pada novel Ayat-Ayat Cinta karangan Habiburrahman El-Shirazy. Desain covernya, judul, dan endorsement dari berbagai tokoh dan novelis. Di sampul depan juga ditulis Best Seller Nasional. Perbedaan sampul dengan novel Ayat-Ayat Cinta terletak pada warna dan gambarnya saja.

Pada ilustrasi sampul novel Ayat-Ayat Cinta bergambar perempuan bercadar dengan mata bulat indah khas mata perempuan Timur Tengah. Sedangkan novel Dzikir-Dzikir Cinta ilustrasinya perempuan berkerudung putih yang menunduk. Strategi pasar yang menarik untuk menarik ppembaca yang sudah terlanjur jatuh cinta pada novel Ayat-Ayat Cinta.

Jujur saja, saya membeli novel ini karena stok novel di toko buku kawasan Banda Aceh saat itu sudah habis saya miliki. Waktu itu toko buku masih terbatas. Tidak semua toko buku memasok koleksi novel. Sementara saya mempunyai target menyisihkan 10% dari gaji untuk membeli buku. Khususnya novel. Dan terjaringlah novel ini dalam keranjang belanja buku saya.

Bisa saya katakan, sepanjang Mei tahun 2018, inilah satu-satunya novel yang saya baca dan memutuskan pilihan menjadi bookstagram dan book blogger. Banyak juga alasan yang inginsaya utarakan mengapa saya lambat sekali menamatkan novel ini. Faktor intra dan ekstra. Faktor ekstranya karena saya mulai aktif mengurus bayi sendirian. Mulai mencuci pakaiannya, juga urusan mahmud lainnya. Saya masih belajar membagi waktu. Itu intinya.

Sementara faktor intranya menyangkut isi novel secara keseluruhan. Novel ini cukup membosankan. Saya memberi dua bintang untuk novel ini. Kejam, ya…

Novel ini dipenuhi dengan percakapan dalam bahasa Jawa. Cukup membingungkan dan bikin  pusing. Meskipun di bagian belakang dilengkapi dengan terjemahan kosa kata. Tetapi terjemahan seperti ini tidak efektif. Alangkah menariknya jika novel ini dilengkapi dengan footnote untuk memudahkan memahami konten secara keseluruhan.

Cara penulis memilih sudut pandang pencerita juga masih tidak konsisten. Antara pemilihan dan penempatan sudut pandang pertama dan ketiga yang juga bikin  pusing. Meskipun pada akhirnya saya tidak ada masalah. Saya mengerti konten dan jalan ceritanya. Tapi saya yakin banyak pembaca lain yang masih bingung dan sulit mengerti dengan novel ini.

Overall, saya suka ide cerita yang mengungkapkan ‘mahad undercover’. Banyak yang tidak tahu sisi kelam kehidupan anak pesantren. Pacaran bebas. Mencintai sesama jenis, sampai hal-hal aneh lainnya. Dalam soal blak-blakan dan keberanian penulis bercerita vulgar, saya acungi jempol. Tidak banyak penulis cerita Islami yang berani menulis seperti ini. Kebanyakan tentu saja membahas hal-hal yang baik saja. Shalih dan shalihahnya para santri.

Pesan moral yang saya dapatkan justru bukan pada cerita. Tetapi pada keberanian penulis dalam mempublikasikan karyanya dan bisa dikatakan ikut booming. Motivasi buat saya sendiri yang semangat menulis novel pada lima bab pertama. Kemudian mandeg. Bahkan yang sudah jadi pun masih tarik ulur untuk diterbitkan.

Saya yakin, di luar sana pun masih banyak penulis muda berbakat yang mengalami masalah yang sama. Ayo, menulis!

Data Buku

Judul Buku: Dzikir-Dzikir Cinta | Penulis: Anam Khoirul Anam | Penerbit: Diva Press (Yogyakarta: Cet XIV, 2007) | Tebal: 392 halaman | ISBN: –

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *