"You are Connecting To My Words"

Hijrah Sakinah; Cermin Rumah Tangga Samara

Judul Buku: Hijrah Sakinah • Penulis: Hanny Dewanti • Penerbit: Penerbit Ikon (Jakarta: Cet 1, September 2018) • Tebal: xx + 240 halaman) • ISBN: 978-602-61440-8-9

Buku ini diperuntukkan bagi Anda yang sedang kalut dengan permasalahan rumah tangga. Buku ini diperuntukkan bagi Anda yang kacau balau rumah tangga. Buku ini diperuntukkan bagi Anda yang sedang mempersiapkan diri untuk belajar tentang bagaimana berumah tangga.

Buku ini juga diperuntukkan bagi Anda yang sedang mempertimbangkan untuk mengakhiri rumah tangga. Jika hari ini ada kesempatan, jangan kemana-mana dulu. Buat secangkir teh hangat dan nyalakan muratal terbaik yang Anda sukai, lalu duduk sejenak untuk membaca buku ini. Buku ini akan menemani Anda dan mennawab pertanyaan-pertanyaan besar dalam rumah tangga untuk Anda. Insha-Allah.

Buku non-fiksi ino cukup menarik, lho. Khususnya untuk mereka yang akan, baru, dan sedang menjalani kehidupan pernikahan di usia muda. Selain sesuai sekali dengan saya, yakin juga sesuai dengan Anda.

*

“Dan nikahkanlah orang-orang yang membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi mereka kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mana Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” -QS. An-Nur:32.

Ayat tersebut menjadi pembuka buku ini. Sekaligus menegaskan bagaimana menikah adalah sebuah keharusan bagi umat Islam dan orang-orang yang berkeyakinan. Polemik rumah tangga sebenarnya sudah dimulai sejak ta’aruf. Disadari atau tidak. Intrik sudah dimulai.

Penjelasan @hannydewanti yang lugas diawal bab membuka wawasan setiap pembaca tentang pernikahan yang diperkuat dengan dalil yang kuat pula. Tentang bagaimana melewati hari-hari pasca kemeriahan pesta dan bisik-bisik keluarga.

Dilanjutkan dengan topik bagaimana mengelola uang, pembagian tugas suami dan istri. Juga selipan budaya patriarki yang masoh berlaku di masyarakat.

Bagian awal bab ini cukup memberi wawasan bagi pembaca, khususnya yang baru menikah untuk melihat seperti apa bab awal pernikahan yang digaung-gaungkan sebagai hidup baru yang sangat menakjubkan.

Bagaimana standar istri yang baik? Kerap pertanyaan ini muncul dalam benak setelah menjadi istri, akan menjadi istri, atau melihat istri orang lain.

“Sebaik-baik istri adalah yang menyenangkan jika engkau melihatnya, taat jika engkau menyuruhnya, serta menjaga diri dan hartamu ketika engkau pergi.” (HR. Ath Thabrani) -halaman 100.

Dari dalil di atas sudah jelas seperti apa standar istri yang baik. Dan setiap lelaki memiliki standar tambahan yang menurutnya nyaman. Jadi, ketika melihat istri orang lain aneh di mata kita, kita pun tidak perlu lagi berkomentar bahwa dia bukan istri yang baik.

Dalilnya sudah jelas. Standarnya juga jelas. Bukan standar tetangga, tapi standar suami.

@hannydewanti dalam buku ini juga menjelaskan. Salah satu menjadi istri yang menyenangkan yang ikut mendalami hobi suami. Karena ketika suami sedang sibuk dengan hobinya, di saat itu pula kita bisa mencuri waktu kebersamaan yang berkualitas antara suami dan istri. Selain itu, mungkin kita akan berpikir jika suami tidak mempunyai waktu.

Standar istri yang baik pun tidak perlu mengintip-intip standar istri tetangga. Karena setiap istri mempunyai kelebihan istimewa. Tidak sama satu dengan lainnya. Apalagi sampai menjelek-jelekkan keluarga dan bergunjing dengan dalih, “Kita tidak bergosip, kita membicarakan apa yang benar.”

Sering seperti? Jika iya, artinya kita perlu berkaca dari buku Hijrah Sakinahlebih jauh sebagai intropeksi diri.

Apalagi yang wajib diketahui oleh istri dalam berumah tangga dan hidup bermasyarakat?

“Barang siapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka seakan-akan dia seperti memakan bara api.” (HR. Ahmad) -halaman 136.

Kemarin soal tetangga, sekarang juga soal tetangga dengan cakupan lebih sensitif. Khususnya urusan pinjam meminjam. Kak @hannydewanti mengulas detil tentang bagaimana etika bertetangga terutama soal pinjam pinjam. Terkadang kita memang berpikir begini, “Ah, di rumah ini kan punya ini. Minjam aja. Nggak usah beli.” Tapi hal-hal seperti ini tentu saja memicu percekcokan sebenarnya. Rusuhnya antara tetangga satu dengan lainnya selalu dipicu dari hal kecil seperti ini.

Di era medsos ini, kadang-kadang kekesalan kita terhadap tetangga justru terluapkan di sini. Tidak semua orang menanggapi status di medsos dengan positif. Ada yang langsung berpikir negatif dan menghubung-hubungkan status di medsos dengan apa yang sedang terjadi.

Selaku pengguna medsos, anti sosial yang tercipta karena medsoa juga menambah masalah karena tidak terjadi klarifikasi dalam berkomunikasi.

Medsos hanya bermasalah dengan tetangga? Tidak! Karena dengan pasangan pun, medsos bisa menjadi pemicu. Termasuk soal pelakor.

Ada satu hadits yang menutupi keseluruhan isi buku ini, “Jika engkau melihat wanita, lalu dia memikat hatimu, maka segeralah datangi istrimu. Sesungguhnya istrimu memiliki seluruh hal yang dimiliki oleh wanita itu.” (HR. Tirmidzi) -halaman 171.

Speechless!

Urusan pelakor, CLBK, tidak setia, dan semua yang berkaitan dengan sosok ideal pasangan dari lelaki atau wanita lain semuanya telak ditampar habis dari sepertiga halaman terakhir ini.

Dan hal-hal ini sebenarnya sudah terjadi sejak zaman dahulu kala. Bedanya, pelakor zaman now lebih berani menunjukkan eksistensinya melalui soamed. Beda dengan pelakor zaman old yang bersembunyi di balik status ‘simpanan’ sudah cukup.

Dengan lembar kertas warna pink dan gambar di tiap halaman. Buku yang terkesan berat lebih renyah. Enak dibaca, mengalir. Ditulis dengan gaya naratif dan menggunakan sudut pandang orang pertama tanpa menggurui. Membaca Hijrah Sakinah saya seperti membuka kamus pintar pernikahan. Mudah dipahami.

Dilengkapi juga dengan dalil-dalil yang memperkuat setiap topik. Buat pembaca non-fiksi yang kurang sreg dengan penjabaran panjang, buku ini sangat recomended. Penyelesaian dan penjelasan ditulis dengan numbering. Semakin mudah memahaminya.

Apa yang tertulis sesuai dengan observasi empiris penulus dan pembaca. Kekurangannya hanya pada warna kertas. Pinknya sedikit gelap di mata saya. Sehingga kalau pun bisa ditamatkan sekali duduk, buku ini butuh waktu lebih lama untuk ditamatkan.



1 thought on “Hijrah Sakinah; Cermin Rumah Tangga Samara”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *