Bibliolive

Dua Masa di Mata Fe; Ketika Masa Lalu Mengintai

Judul: Dua Masa di Mata Fe • Penulis: Dyah Prameswarie • Penerbit: Moka Media (Jakarta: Cet 1, 2014) • Tebal: iv+240 halaman • ISBN: 978-795-872-8

Mei 1998, masa ketika aku genap berusia 21 tahun. Usia yang matang memang, apalagi untuk memahami kenapa api tiba-tiba datang membakar harapan dan kebahagiaan. Teriakan dan bau penderitaan itu, aku tak ingin mambahasnya. Namun, satu hal, aku hanya ingin sejarah tak meminta waktu untuk mengulang kejadian yang sama. Seperti cinta dan rasa sakit.


Tapi, apa yang bisa kulakukan ketika waktu punya kuasa penuh untuk menentukan takdir? Saat anakku tiba-tiba menjadi diriku, mengalami hal yang sama, dan jatuh cinta pada orang yang berbeda warna kulit, mata, dan keyakinannya. Aku tak punya kekuatan. Namun, satu yang pasti, cerita ini membutuhkan akhir.

Novel ini berlatar belakang Tragedi 1998, ketika penjarahat terhadap etnis tionghoa dilakukan besar-besaran. Kejadian tragis ini juga dialami oleh Fe.

Dengan menggunakan sudut pandang ketiga, penulis bercerita tentang bagaimana kehidupan Fe dan keluarganya diawal kerusuhan Mei 1998. Kemudian perjalanannya yang tidak disengaja bertemu dengan Raish. Pemuda yang dianggapnya sebagai malaikat pelindung. Ternyata juga menjadi malaikat maut bagi keluarganya.

Ada rasa cinta yang tumbuh bersama perjalanan waktu. Ada rasa kebencian yang menutup pertemuan. Juga bayang-bayang masa lalu yang tidak bisa dijelaskan seketika.

Alur mundur yang digunakan oleh penulis lebih banyak bercerita tentang Fe dan cinta yang tidak teraih. Bukan tentang Christie yang jatuh cinta pada sosok dengan kriteria yang sama dengan Raish.

Di masa lalu, Fe berjanji akan menemukan lelaki yang dicintainya dengan kompas hati. Akankah dia bertemu lagi dengan lelaki itu?

Novel ini bisa dibilang yang bikin aku sudah move on. Alurnya menarik. Nggak lebay. Kisah cinta Raish dan Fe yang tidak terungkap bisa dirasakan oleh pembaca walau tiada penjelasan ‘keduanya mulai jatuh cinta’.

Penulis berhasil menumbuhkan rasa di benak pembaca. Saya ikut merasakan gejolak emoai dan kengerian ketika mereka melintasi jalur pantura. Ikut tegang ketika penjarahan di rumah Fe. Ikut sedih ketika Fe harus segera meninggalkan rumah Raish dan ketika dia nyaris diperkosa. Pokoknya alam baper saya bekerja dengan baik.

Ada bayak amanat yang saya dapatkan dengan membaca novel ini. Khususnya tentang bagaimana cara kita menerima dan melawan rasa takut dari masa lalu. Bagaimana juga cara move on dan let it go soal perasaan. Tidak semua rasa harus diungkapkan. Cukup dengan menunjukkan saja sudah memberi nilai tersendiri kepada orang lain.

Cinta itu bukan sesuatu yang bisa dipaksakan dengan melihat agama, jenis kulit, bentuk mata, dan kelas sosial. Cinta akan menemukan jalannya sendiri.

Ini hal-hal yang saya dapatkan dalam novel ini. Jika kalian ingin melihat sisi-sisi menarik dari cinta beda ras, novel ini sangat recommended.

Bagi saya, ini novel Young Adult yang nggak bikin eneg bacanya. Mengalir begitu saja. Bahkan saya bisa menamatkan sekali duduk karena penuturan sang penulis sangat renyah.

Semakin dinikmati, semakin susah move on ke lain novel. Takut nggak seasyik novel yang ini.

Author, journalist, and student in real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *