Bookish

Dari Jendela Asrama

Di mana tempat yang aling asyik untuk membaca buku?

Jika pertanyaan ini ditujukan kepada saya, ada berbagai jawaban yang saya ungkapkan. Dari sekian banyak jawaban, orang-orang yang suka bertanya akan mengerutkan kening ketika saya menjawab, “Saya suka membaca buku di jendela.”

What?

Ya. Jendela! Terutama jendela asrama.

Selama tiga tahun merantau ke Beijing untuk kepentingan menuntut ilmu, saya diposisikan untuk menerima kehidupan asrama sebagai kehidupan yang baru. Untungnya, asrama untuk mahasiswa internasional cukup nyaman untuk ditempati oleh mahasiswa seperti saya. Bukan saja selama tinggal di asrama saya mendapatkan kehidupan yang super nyaman dan rommate yang baik. Saya suka jendela kamarnya yang besar. Nyaris setengah dinding yang diposisikan di tengah dinding. Modelnya pun digeser. Bukan disingkap.

Dari jendela seperti ini, banyak aktivitas yang dapat dilakukan. Mulai dari menonton para pasangan bule berpacaran sampai melihat mahasiswa lokal yang naris gila karena tugas yang menumpuk. Mereka kerap berada di tepi kolam air mancur menari di tengah malam sambil menangis, berteriak, dan menenggak alkohol. Bagusnya, mereka sama sekali tidak memaki dosennya yang super duper menyiksanya itu. Bagi kalangan mahasiswa lokal, dosen sama posisinya dengan dewa. Memaki dosen sama halnya dengan memaki dewa. Akan mendapat karma atau petaka yang berbahaya.

Membaca di jendela mulai saya lakukan karena tersinpirasi oleh penghuni kamar A910. Suatu malam, ketika saya pulang magang. Nyaris semua ruangan sudah terang. Ada yang redup, ada pula yang terang bederang. Ada seseorang duduk di tepi jendela yang balkonnya tidak terhubung ke kamar. Tapi terpisah. Persis seperti kamar saya. Dia duduk dengan buku di tangan.

Berulang kali saat saya melihat dia di sana, saya penasaran. Bagaimana rasanya berada di sana sambil membaca. Hampir setiap malam pula dia dengan bukunya. Saya bahkan tidak tahu namanya siapa. Kami tidak saling berkenalan. Meskipun saya dan dia berada di asrama yang sama. Bedanya, saya ada di lantai delapan.

Ketika kesempatan membaca di jendela seperti yang kerap saya lihat datang, saya tidak menyia-nyiakan. Bermodal sebuah novel berbahasa Indonesia yang saya titip dari teman asal Jakarta, di jendela kamar saya mulai nongkrong. Seusai maghrib. Seperti yang dilakukan oleh teman seasrama ini.

Wow!

Tahukah kalian apa yang terjadi?

Kerlip cahaya lampu dari gedung dan jalanan seperti mengirim saya ke sebuah galaksi yang paling nyaman untuk para bookish. Tidak ada keraguan lagi. Ini memang surga para pecinta buku. Jendela dunia semakin terbuka dari jendela kamar asrama di lantai delapan.

What a magic world.

 

Author, journalist and student in the real life. MA in International Journalism, Communication University of China. Lecturing at Islamic University of Ar-Raniry, Banda Aceh. Email to ulfa_khairina.2005@yahoo.co.uk for further information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *